BlogMata

Blog Komunitas Mata Pelajar
30
Nov

napak tilas GOR Sukapura

Dikirim oleh M. Husain dalam Mata Aksi

Ditandai pada: Untagged 

M. Husain

Dadaha, salah satu tempat yang ada di kota Tasikmalaya ini memiliki sebuah gelanggang olahraga yang sangat bersejarah. GOR ini atau yang lebih dikenal GOR Sukapura terletak di daerah dadaha dibangun pada tahun 1980 an dan diresmikan pada tanggal 2 Februari 1982 oleh bupati Tasik H Huddy B dan Gubernur Jawa Barat H Aang Kunaefi. Gimana yah dadaha tempo dulu? "dadaha bahela mah tempat pacuan kuda para kompeni (penjajah belanda). GOR sukapura oge pernah dijadikeun tempat pengungsian para korban letusan gunung galunggung" tutur Aep (salah satu warga). Nama kebsaran Dadaha kini tinggal kenangan, sekarang tempat ini tidak terawat  karena pemerintah saling melempar tanggung jawab.(antara pemkot dan pemkab) 

 

Yosep S, JSC/CJF MAN Darussalam
Rian,XII Ipa MAN Darussalam   
Husein

29
Nov

Bibilintik Ti Leutik

Dikirim oleh dwi rusmianto dalam Mata Aksi

Ditandai pada: Untagged 

dwi rusmianto


Banyak sekali peluang usaha yang dapat kita jalani. Tapi kebanyakan menyerah ditengah jalan dengan alas an klise; tidak cukup modal, atau bingung memasarkan. Yang dicari orang itu ingin yang serba prkatis, serba instan, tidak mau menjalani prosesnya karena dianggap ribet

Nah, mungkin ada beberapa tips dari temen-temen di SOCA. Selain berkecimpung di multimedia audio visula, ternyata mereka juga merintis serius berkebun jamur tiram dan sayuran. Tidak susah kok, asal kita rajin saja, modal usahanya minim, tidak perlu besar. Pemasaran pun cukup mudah karena melihat banyak dan langkanya jamur tiram ini, bisa ke warung-warung terdek atau ke pasar-pasar. Ya…namanya juga usaha kecil-kecilan, tapi kan ada  peribahasa: little a litle, make a mikle, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.

Bayangkan saja Cuma dengan modal awal Rp. 8000,-/polibag. Dengan itu saja kita sudah bisa panen hamper 7-8 kali panen. Kalo lebih dari satu? Perawatan pun cukup mudah. Hanya perlu ruang lembab, penyiraman serta pemberian perangsang pun tidaklah susah. Penyiraman cukup dengan sprayer. Bebarapa cara biar dalam satu polibag itu bisa beberapa kali panen, salah satunya yaitu cukup mengambil lapisan atasnya yang mengeras setelah panen, lalu ditutup, dan disimpan terbalik. Diamkan kurang lebih 5-6 hari. Lalu buka kembali biar jamur tumbuh lagi.

Sama halnya dengan grup belajar di Kabupaten Boyolali. Setelah mereka mengikuti workshop cara bertanam jamur, mereka punya keinginan untuk mempunyai kebun jamur sendiri. Mereka akhirnya cari info sana sini, modal pun mereka patungan dari uang saku dan  uang kas grup belajar. Terkumpul, beli bibit, yang tugas perawatan digilir. Sampai sekarang masih berlanjut dan malah semakin berkembang. Dari mulai yang Cuma punya 15 polibag sekarang sudah hamper ada 120 polibag.
Mereka pelajar duduk di SMA kelas 2. Begitu juga SOCA, mereka anak-anak muda. Tapi mereka mau berusaha. Kenapa kita tidak mencoba peluang usaha ini?

Pelajaran yang dapat diambil, meski Cuma pelajar, mereka mampu dengan usaha dan kerja keras. Keinginan kita sampai dimana untuk berusaha. Jangan tunggu masa tua datang. Dengan membiasakan rajin, kitabisa. Usaha ini tidak memerlukan keahlian khusus, keahlian itu akan kita dapat dalam perjalanannya.

Ada yang tertarik??


Tasikmalaya, 29/1109
29
Nov

Cyber Gaya di Dadaha

Dikirim oleh Ai Nurhidayat dalam Mata Aksi

Ditandai pada: Untagged 

Ai Nurhidayat

Rengrengan Citizen Journalism Forum (CJF) hari ini mengadakan "workshop-shock" di  Dadaha, Kota Tasikmalaya (29/11). Acara ini dirancang sebagai pemeriah Tasik Expo 09 yang digelar hari ini hingga 06 Desember 2009. 

"Workshop-Shock" ini merupakan kegiatan lanjutan CJF dengan judul "jurnalisme pelajar: Cyber gaya". Selain berburu berita, rengrengan CJF yang terdiri dari beberapa komunitas pelajar ini juga akan mendalami Public Speaking  yang dipandu oleh Kang Duddy RS. 

Acara ini berlangsung setelah makan siang hingga sebelum Maghrib. Buat teman-teman yang  berminat hadir, "sok". acara yang disponsori Indosat ini Gratis dan terbuka untuk umum. 

25
Nov

Tenda Berjamur Pun Jadi Pilihan Terakhir

Dikirim oleh dwi rusmianto dalam Mata Aksi

Ditandai pada: Untagged 

dwi rusmianto

 

“……kita harus mulai bekerja…..persoalan begitu menantang…..”  (Lagu Tiga, iwan fals)

24
Nov

SOCA; Mata Orang Sunda

Dikirim oleh dwi rusmianto dalam Mata Aksi

Ditandai pada: Untagged 

dwi rusmianto


Kendati waktu begitu cepat berlalu meninggalkan jejak yang lalu, tapi jejak bencana gempa di Tasikmalaya. Sangat membekas sekali di benak dan pikiran warga Tasikmalaya. Dari mulai orangtua sampai anak muda merasakan imbasnya dan meninggalkan luka bathin yang mendalam.

Salah satu contoh di Citepus dusun Santanamekar-Cisayong, meski pun bencana gempa sudah lewat, tapi luka dan beban traumatic masih dirasakan warga. Dalam pikiran anak-anak kecil, gempa itu adalah sesuatu yang dahsyat yang tak ingin terjadi untuk kedua kalinya. Dipikiran orang dewasa pun sama. Daripada itu, komunitas audio visual; SOCA Tasikmalaya, ingin mencoba memberikan sedikit pengetahuan tentang audio visual. Dan tema yang diangkat adalah seputar keadaan daerah setempat. Dan para pelaku pun sengaja anak-anak komunitas setempat dengan tujuan Perjalanan dimulai dari sorang tua yang saat itu sedang dalam pembangunan kembali bagian-bagian rumah yang rusak akibat gempa. Bak kameramen handal, seorang anak menenteng kamera. Dan yang lain seakan menjadi actor dan aktris sebuah garapan film.
Rumah-rumah yang hancur mereka datangi seorang diantaranya asyik bertanya seolah sedang reportase. Sampai kandang ayam yang dijadikan rumah oleh warga jadi sasaran mata kamera.

Menurut Yanyan,
Aktivis dan juga coordinator SOCA Tasikmalaya, kegiatan ini tujuannya  memberikan sedikit banyak pengetahuan tentang pembuatan video atau film. Secara tidak langsung sebagai salah satu cara untuk berbagi ilmu. Bagi yang ingin belajar membuat garpan multimedia(audio visual), mari belajar bersma di SOCA. Dan SOCA sendiri  adlah salah satu komunitas film yang mempunyai sasaran para remaja untuk bebas berekspresi lewat multimedia baik itu film, audio, visual, atau film.
Kegiatan ini bukan yang pertama dilakukan SOCA. Sejak terjadinya gempa, mereka sudah melakukan program-program seperti ini dengan para pelaku adalah remaja-remaja dari daerah setempat. Menurut mereka ilmu itu tidaklah berat membawanya. Apakah salah jika kita amalkan jikalau itu bermanfaat bagi umum?

Soca memberikan kebebasan bagi remaja Citepus untuk membuat film atau video dalam jenis apa pun. Ke depannya, semoga terus dapat berkembang lagi dengan program-program lain yang bermanfaat bagi kehidupan orang banyak. Sebab mau tidak mau kita hidup bersinggungan dengan orang banyak. Oiya, selain bergerak di audio visual, SOCA juga lagi merintis usaha jamur tiram dan sayuran. Memang  semangat anak muda yang membara…….

Tasikmalaya, November 2009
22
Nov

TEATER CINTA

Dikirim oleh dwi rusmianto dalam Mata Aksi

Ditandai pada: Untagged 

dwi rusmianto

Apa aku sengaja masuki dunia berbeda ini?
Lalu kenapa aku termenung dalam tiap kesendirian? Hanya kecewa dan kecewa lagi kudapatkan tanpa aku sendiri tak tahu penawarnya. Aku….kau….dia….kita….mereka…, tak ada dalam kamus antara. Hanya katakata tanpa muka yang tertera di meja makan hari, menggoda dengan kharismanya.

Aku bicara dengan dia, lalu tukar cerita dengan kau, terus aku perhatikan mereka, hasil akhir adalah sama versi berbeda dalam dunia purapura.  Apakah aku harus terus tertawa di hadapan mata dunia imitasi, sedang dalam hati bertapa satu luka terkena virus kosakata atau dibelakangku, diamdiam, mereka dan bintang serta unsur alam mengawasi, bicara lantang dan keras menusuk rusuk tulang putihku, perlahan sekali sampai aku merasakan nyeri dan ngilu yang menjadi dan sangat nikmat. Bisa saja tulangku habis digerogoti sayatansayatan indah bagi kesedihan.

Malam tadi aku berpikir keras. Di luar rumahku, sabit kecil menemani dengan setia. Aku bertanya padanya bahwa aku punya firasat, tapi mudahmudahan salah. Lalu aku menyibak satu catatan kecil yang menumpuk di meja kamarku. Aku bandingkan dengan dialog tadi siang antara kau dan dia. Lalu satu nama keluar dari lipatanlipatan catatan kecil itu. Apakah aku harus menyebutkannya? Tidak!! Ini buatku saja, orang lain tak perlu tahu.

Maaf, bukannya aku melihatmu sebagai lawan pertandingan. Kau yan bangkitkan aku dari jatuh tempo hari. Lalu mengangkat tanganku, menariknya untuk susuri jalan setapak tiga medan itu, dan kau pulalah memapah dalam kesendirian.
    Hahha…..hahahah….hahaha……

“cinta?! Nadanya membuat detakkan jadi satu irama. Liriknya membuat hati jadi satu”; kata temanku sang petualang cinta. “cinta?! Aku tak mengenalnya bahkan bagaimana wajahnya aku tak tahu. Izinkan aku memegangnya walau hanya sekali saja sebab yang aku tahu cinta itu menghilangkan dosa untuk mencari dosa…..(ssssstttsss…..tak kenal)
    Hah….

Dua hari berturutturut, aku terkurung dalam detakkan  tanya tak menentu di jantung kota harapan. Salah satu di antaranya, kedalamn kota jiwa. Suaranya menggetarkan dawaidawai hati paling sensitif akan satu kelukaan. Apalagi ini adalah satu luka tanpa alasan, nama, dan rasa.

Bagaimana dengan mereka? Mereka yang tahu hanya dari satu pergaulan dan katakata yang tak bisa dibeli dengan harga luka. Kau tahu berapa harga luka?

Dua hari ini aku terus menjalani hidupku dengan tanya mengelilingi. Tapi tak lama kemudian, disaat orang terpejam diinjak malam mengajak sembunyi dari peradaban, aku menemukan yang lain pada wajah bulan. Firasatku bertolak dari pikiran, ia ambil jalan lain lagi. Tapi ini hanya kecurigaan mata dunia yang mendengar obrolan malam dengan suara tidak berwajah, hanya lukisan hidup yang terus lantang bicara. Sedikit banyak aku tahu itu tapi apakah matahari tak lagi menyimpan lagu putih dalam hatinya untuk terus berucap tentang makna hubungannya dengan bulan? Yang kudengar sabit hanya bernyanyi tentang romansa cinta berliku di kedalaman. “Kenapa ia harus bicara seperti, apa yang dia mau, lalu matahari itu….?”

“Ah basi!! Kenapa aku harus pikirkan perdebatan mereka. Mereka kan punya langit sebagai saksi. Aku harus tetap berjalan walau hatiku penuh sayatansayatan tak bertuan”
Aku harus terus tertawa membakar luka. Aku bohong pada diriku sendiri. Tulisanku bertolak dengan ucapan. Suatu saat akan kukupas semua kulitnya lalu biarkan seluruh mata dunia dapat tahu semua, kenapa aku tertawa seperti ini. Tapi ini bukan tertawa orang senang tapi tertawa kedekatan. Maaf, jika kubuat kau menangis. Kudengar cerita . firasat tentang matahari diburu bulan, apakah masih ingat? Ternyata salah. Apakah aku kelepasan bicara tentang dia? Nyanyian lagu putih itu masih tetap tersimpan jauh di kedalaman kota jiwa. Apakah lagu itu dibawakan angina ke tanpa arah hingga perburuan adakan gencatan cinta? Hanya salah ucap, tanggap, bermuara dalam keliling cinta merajalela. Setelah hampir dua kali tak dialog dan komunikata, hari ini terdengar gema orang bicara menusuk telinga.

Hantu itu tak menjejak pasti. Aku ingin di aku sebagai aku. Ternyata dugaanku benar, ia menunggu seseorang datang bawakan kisah baru. Silakan anda menunggu sampai otakmu berkarat, sampai kakimu berakar. Satu situasi paling dibenci manusia, menunggu!
Sekarang, segalanya kembali seperti semula dimana asal katanya. Ia biasa saja tanpa ada tanggung jawab bermakna dan aku sendiri lagi terbaring dalam siesta mimpikan bintang jatuh tepat menimpa. Asal aku kuat saja menahannya. Sebenarnya aku tak sengaja, aku selalu didekat mereka, coba mengertikanmu sedikit kau mengertikanku. Wajah itu terkontaminasi. Berusaha membilasnya tanpa harus berpikir. Semua harus lenyap. Mencoba keras hilangkan noktahhitam pada sutra ini. Lalu pergi, berangkat ke dunia mimpi ambil ilusi dengan fantasi tentang sesuatu tak pasti, tergerak hati tidak untuk berlari dan berhenti melangkah dengan seri.

Dan sepanjang jalan, berpikir dan terpikir, lebih baik aku menyingkir sebelum tersingkir
Terima kasih matahari, kau terangi jalanku. Terima kasih bulan, kau penerang dalam kegelapan saat aku berjalan dalam kesendirian.

Ha…….haha……..haha…..ha…….haha………



Tasikmalaya, November 2009
«StartPrev1234NextEnd»

Komunitas

Pariwara :

      mau pasang iklan disini? hubungi
Primo Advertising
(0265) 5642000

Tags