BlogMata

Blog Komunitas Mata Pelajar
04
Sep

Catatan Sementara TAGANA

Dikirim oleh yayat dalam Mata Aksi

Ditandai pada: Untagged 

yayat

 

Bencana banyak dirasakan oleh semua pihak khususnya daerah cisayong menurut data sementara yang saya dapat dari PEMDA yakni luka berat 19 orang, meninggal 1 orang, rusak berat 678 buah, rusak ringan 547 buah, prasarana umum 47 buah, mesjid 48 buah dan madrasah 27 buah.

 


04
Sep

Rumahku Hanya ditopang Bambu saja

Dikirim oleh Yat Getooh dalam Mata Aksi

Ditandai pada: Untagged 

Yat Getooh

TASIKMALAYA, sore itu telah terjadi bencana alam yang sangat besar yaitu Gempa Bumi dengan 7,3 SR. banyak orang yang terkena imbasnya akan tetapi banyak orang yang menyadari bahwa kejadian ini sebagai cobaan sekaligus momen mempertebal iman di bulan suci ramadhan.

Bencana ini sangat dirasakan kita semua, khususnya saudara kita yang di cineam kampung sindang kerta kecamatan cisarua tepatnya rumah Bapak Wawan RH, rumahnya rubuh dan hanya bisa di topang dengan beberapa bambu saja, selain itu menurut laporan dari ketua dusun setempat jumlah rumah yang retak ada 36 rumah, rusak ringan 19 dan rusak berat 2 rumah selain itu beliau menuturkan memohon bantuan bahan makanan juga perlengkapan sarana dan prasarana.

Mereka betul-betul mengharapkan uluran tangan dari kita semua. Mari kita bantu, layaknya yang kita bisa bantu,baik berupa tenaga, pikiran ataupun harta karena dengan kepedulian anda mereka bisa hidup.
03
Sep

Menjauhi Karakter Doraemon

Dikirim oleh Miftah Farid dalam Mata Aksi

Ditandai pada: Untagged 

Miftah Farid

 "KUCING ajaib", inilah tokoh film Jepang yang sejak saya SD sampai sekarang masih tampil di salah satu televisi swasta. Doraemon memang film yang lucu, akan tetapi ada beberapa tokoh yang kurang baik. Apalagi kalau perilakunya dicontoh oleh para remaja dan generasi muda dalam tingkah laku setiap hari.


Sebagaimana kita ketahui, Doraemon punya kantong ajaib. Apa jadinya jika Si kucing ajaib ini kehilangan kantong ajaibnya. Tentu ia akan mengalami kebingungan dan stres berat, karena hidupnya selalu bergantung pada kantong ajaib. Bagi dia, setiap masalah akan selesai dengan alat yang dalam kantong ajaib.

Memang enak jadi Doraemon, semua masalah ada solusinya. Akan tetapi, kita tidak boleh mencari jalan pintas untuk keluar dari masalah, karena dengan memanfaatkan potensi yang ada dalam diri untuk menghadapi masalah, maka kita akan menjadi pribadi yang mandiri. Kita harus memikirkan hal terburuk yang akan terjadi. Sehingga kalau hal itu terjadi, kita sudah siap untuk menghadapinya. Jangan seperti Doraemon yang selalu bergantung pada kantong ajaib.

Banyak cara yang dapat dilakukan menjadi pribadi yang mandiri. Seperti halnya yang dilakukan oleh Pengurus Pesantren Darussalam, dalam rangkaian kegiatan Ramadan on Campus, berupa kegiatan bazar ramadan. Kegiatan ini diikuti oleh santri dan pedagang di sekitar kampus, dan dimonitori oleh Kang Elan.

Selain sebagai pembeli, santri juga berperan sebagai pedagang. Berbagai hal disajikan di stand masing-masing. Dari mulai pakaian, makanan untuk ta’jil dan sebagainya. Dagangan itu hasil kerja sama dengan pedagang lain dan ada juga yang kreatif untuk membuat sendiri. Inilah yang melatih kemandirian. Bagaimana perasaan membuat adonan dan memasaknya. Ketika laris dan sedang sepi pembeli. Inilah sarana untuk latihan, terutama sekarang di bulan ramadan.

Kegiatan ini merupakan langkah untuk belajar mandiri, untuk menunjukkan pada orang tua, bahwa kita bisa membuat mereka bangga. Tentu harus diawali dari hal yang paling kecil. Yang harus pertama dilakukan adalah membuat skala prioritas seperti yang diungkapkan oleh Dr. Yusuf Qardlawi dalam kitabnya fiqh al-aulawiyah. Dalam segala aspek kehidupan, kita harus memilih apakah itu penting dan mendasar; penting dan tidak mendesak; atau tidak penting dan tidak mendesak.
03
Sep

Pesantren PEDAS, Inovasi Rohis Gibraltar

Dikirim oleh Fathan Mubina dalam Mata Aksi

Ditandai pada: Untagged 

Fathan Mubina

 

SELASA, 12 Ramadhan 1430 H. Seperti biasanya, para siswa SMA Al-Muttaqin berkumpul di ruang aula untuk melaksanakan Shalat Duha berjama’ah dan tadarus Al-Qur’an bersama. Namun setelah Shalat Duha, ada yang berbeda terasa di lingkungan SMA Al-Muttaqin. Jika biasanya mereka semua langsung menuju kelas masing-masing untuk melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar sesuai jadwal dari dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya, kali ini mereka dipersilahkan untuk diam dulu di ruang aula, untuk mengikuti kegiatan pembukaan Pesantren PEDAS yang diselenggarakan tim kesolehan SMA Al-Muttaqin beserta ROHIS Gibraltar SMA Al-Muttaqin.

Kegiatan PEDAS (Pekan Ekspresi, Diskusi dan Aspirasi Siswa) adalah inovasi dari Rohis Gibraltar untuk membuat sebuah suasana baru bagi pesantren Ramadhan di SMA Al-Muttaqin.  Kegiatan Pesantren PEDAS ini dilaksanakan tanggal 12 hingga 19 Ramadhan 1430 H. Waktu itu memang sengaja dialokasikan sekolah untuk kegiatan Rohani sesuai inovasi dari siswa. Dalam hal ini, Rohis-lah yang bertanggung jawab.

Untuk program Pesantren PEDAS itu sendiri tidak seperti Pesantren biasa. “Jadi tidak hanya pesantren mendengarkan ceramah saja.. Di sini kita punya berbagai program inovasi untuk membuat suasana Pesantren yang ‘beda’ dari pesantren biasanya..” ucap RR Rizqi Cahyamuthya, Wakil Ketua Pelaksana Kegiatan Pesantren PEDAS ini. “Di hari biasa, akan ada diskusi kelompok antar siswa tentang tema-tema yang Insya Allah menarik untuk didiskusikan.. Kemudian akan kami set menjadi debat logika antar kelompok tentang permasalahan tersebut.. Dan di akhir akan ada Mabit, sekaligus Lomba-lomba antar  kelas yang pasti nggak kalah rame..” lanjutnya.

Selain kegiatan diskusi kelompok tadi, di hari-hari biasa akan ada materi interaktif dari pemateri-pemateri pilihan. Nah, dari materi-materi tersebut akan dibuat suatu evaluasi materi yang akan diikuti seluruh siswa dan akan mempengaruhi nilai Pendidikan Agama Islam nantinya. “Jadi, setiap materi kurang lebih akan diambil 5 soal untuk kalian kerjakan..” ungkap Pak Zenal Abidin, Penanggung jawab Panitia Kegiatan Pesantren ini saat menyampaikan pemaparan Pesantren PEDAS ini. (than-QSmart)

03
Sep

Teguran Alam di Bulan Ramadhan

Dikirim oleh than dalam Mata Aksi

Ditandai pada: Untagged 

than

Selasa, 2 September 2009. Waktu menunjukkan sekitar pukul 15:00 WIB kala itu. Beberapa siswa SMA Al-Muttaqin Tasikmalaya kala itu masih ada beberapa yang sedang melakukan kegiatan ekstra non-akademik kala itu. Termasuk beberapa santri mess sedang melaksanakan kegiatannya. Semua berjalan normal dan biasa saja. Hingga sesuatu membuyarkan perhatian seluruh warga Al-Muttaqin di sana dan mengalihkannya pada sesuatu itu.

Gempa bumi. Fenomena geografi ini terjadi dan terasakan oleh seluruh siswa di SMA Al-Muttaqin. Segera mereka semua berhamburan dan berserakan di lapangan yang dianggap aman dari reruntuhan bangunan akibat terkena gempa ini. Gempa awal terhitung ringan. Banyak siswa belum menyadarinya. Namun gempa susulan yang menerpa mengagetkan seluruh siswa. Aula SMA Al-Muttaqin mereka lihat berguncang dahsyat dan terlihat agak condong ke belakang. Dan getaran bumi yang terjadi memang sangat terasa dahsyat menerpa.

Ada rasa prihatin jika melihat suasana lapangan olahraga kala itu. Puluhan siswi akhwat berhamburan, saling menguatkan sembari mengeluarkan butir-butir air mata mereka. Yang lainnya mencoba menelepon keluarga mereka. Namun ternyata beberapa saluran telepon tidak berfungsi dengan baik. Mereka semakin panic. Tentu sangat simpati jika kita melihat butir air mata mereka yang keluar dengan perkataan panic atas keluarga mereka.

Kejadian ini sudah tentu adalah kehendak Allah SWT. Beliau tentu memiliki maksud lain dibalik bencana ini. Namun, jika kita kembali ber-introspeksi, tentu akan terasa sangat pantas jika Allah ingin menegur kita. Berapa banyak kita mengingkari apa yang tidak layak kita ingkari. Berapa kali kita terlena dengan dunia yang fana. Tentu kita akan geleng-geleng kepala seraya beristigfar jika semuanya ditayangkan kembali di kedua pelupuk mata kita.

Tasikmalaya, sebuah kota luar biasa yang dulu sempat memiliki beberapa julukan khas daerah ini. Thousand Mountain Hill. Kota seribu bukit, namun kini sudah gundul dibabat. Dan tentu saja kota Santri, karena begitu banyaknya pesantren-pesantren islam di kota ini. Tentu tidak sembarang kota mendapat julukan tersebut. Suatu julukan yang menggambarkan kedamaian kota ini.
Namun agaknya di bulan Ramadhan ini, Allah SWT sedang berkehendak menegur kita, masyarakat Tasikmalaya khususnya. Tentu masih hangat terekam di memori kita kemarahan api yang melumpuhkan sebuah toko di wilayah perkotaan Tasikmalaya beberapa waktu lalu. Kini, musibah dengan skala lebih besar kembali menerjang kota Tasikmalaya. Gempa bumi dengan skala nasional, 7.3 SR, menerpa Indonesia. Berpusat di kota Tasikmalaya.

Jika kita berintrospeksi, sekali lagi, tentu akan terasa sangat pantas jikalau Allah SWT hendak menegur kita. Julukan kota Santri, sangat ironis jika dibandingkan dengan data bahwa kota Tasikmalaya adalah penyumbang yang tidak sedikit bagi remaja-remaja yang melakukan seks bebas, mengkonsumsi narkoba dan kegiatan criminal lainnya. Tidak malu-kah kita..??

Julukan kota seribu bukit sekarang sudah tidak bisa dipertanggung-jawabkan lagi. Faktanya, bukit-bukit di Tasikmalaya satu per-satu kandas termakan kepentingan-kepentingan sementara manusia. Nah, terlihat pantas khan jikalau alam menegur kita..?

Begitulah. Namun agaknya semua itu bisa berguna bagi kita semua. Jadikan semua kejadian bencana di bulan penuh rahmat ini sebagai pelajaran agar bisa terus selalu mengingat Allah di setiap hembusan nafas kita. (than-QSmart)

02
Sep

Behind The Screen : Teater Sekolah, " Ruang Apresiasi Siswa "

Dikirim oleh dwi rusmianto dalam Mata Aksi

Ditandai pada: Untagged 

dwi rusmianto

" Payungan aing!.........!

Payungan..............!"

        Bagi para penikmat teater yang kemarin nonton Pementasan "RAJA WALES" dari Teater Windu, mungkin akan sangat hafal dengan dialog itu. Ya! Dialog penutup yang diucapkn oleh Janggalak yang kegilaan terhadap kekuasaan.

Komunitas

Pariwara :

      mau pasang iklan disini? hubungi
Primo Advertising
(0265) 5642000

Tags