BlogMata

Blog Komunitas Mata Pelajar
Category >> Sudut Pandang
14
Jul

Sehari 500 Kata

Dikirim oleh Miftah Nashir dalam Sudut Pandang

Ditandai pada: menulis , membaca , malam

Miftah Nashir

Ada nuansa tersendiri yang hadir, ketika saya (untuk kesekian kalinya) terkenang masa anak-anak yang penuh dengan keindahan, disertai dengan keluguan dan kepolosan tingkah. Tak ada beban pikiran menjemukan, apalagi masalah yang seringkali membuat dahi bekerut berlipat-lipat. Oh INdahnya!

 

Pada akhirnya, setelah sibuk dan agak lelah dengan aktifitas di siang hari, saya harus menyempatkan diri untuk setidaknya menulis 500 kata dalam sehari. Ritual yang saya ciptakan sekadar sebagai latihan untuk terus mengasah sense menulis. Ini tidak lain menjadi semacam ritual rutin, yang kadang menjemukan, tapi nikmat. Meski berulangkali menulis hal-hal yang absurd dan tidak serta merta dipahami secara utuh apa yang saya tuliskan, bahkan oleh saya sendiri.

03
Jul

Mahasiswa, Laptop dan Nge-Blog

Dikirim oleh Miftah Nashir dalam Sudut Pandang

Ditandai pada: ngeblog , menulis , mahasiswa , laptop , blogger

Miftah Nashir

Keserba-mudahan ini tidak serta merta menjadikan mahasiswa semakin produktif. Lantas, apa yang bisa kita banggakan kepada Bangsa Indonesia, tentang amanat yang disematkan pada pundak kita sebagai agen perubahan ?

 

Ada perubahan signifikan dalam kebiasaan saya menulis ketika akhirnya (setelah bosan berangan-angan), memiliki laptop yang saya anggap seperti ‘senjata’, atau sebagai pengganti pena untuk menulis. Ini kemudian menjadi semacam pembuktian saya kepada pemerintah bahwa saya telah menggunakan uang Negara di jalan yang mudah-mudahan benar dan lurus. Bagi saya pribadi, laptop sangat penting untuk membiasakan diri menulis. Mencurahkan perasaan, menulis kejadian menarik, ide, perasaan, ataupun sebatas coretan tak bermutu untuk kemudian bertumpuk dalam satuan kilobyte.
Menulis, khususnya nge-blog menjadi semacam pelarian atas realitas. Ketika tidak ada ruang lagi untuk menyalurkan ide, perasaan atau untuk sekedar besantai ria maka blog menjadi sebuah penampungan semua kegelisahan hidup dengan menuliskannya. Semua itu sebagai alternatif pelepasan kepenatan setelah bergelut dengan berbagai keseriusan. Kurang indah rasanya kalau kehidupan akademis ini hanya melulu berkutat dengan buku, makalah, tugas, perpustakaan, dosen killer dan hal-hal yang berbau serius lainnya. Maka, menulis dan juga nge-blog menjadi salah satu alat pelampiasan efektif untuk melawan kejenuhan ngampus. Atau, ketika teriakan tak lagi dengar oleh elit kampus, maka menulis adalah senjata terakhir dan cukup efektif untuk melawan ketidakadilan.
Tak bisa dipungkiri bahwa, kemajuan teknologi ternyata merubah cara manusia dalam melakukan sesuatu. Hampir-hampir budaya tulis dikertas mulai ditinggalkan, digantikan budaya menulis di komputer jinjing yang kini kehadirannya tidak lagi menjadi barang mewah, khususnya bagi mahasiswa. Dengan keberadaan benda berteknologi ini, semakin memudahkan mahasiswa untuk mengakses informasi lewat internet yang mulai tersedia di setiap sudut kampus.
Semakin ditinggalkannya buku, dan beralihnya ke laptop bukanlah hal yang perlu disesali karena mahasiswa telah terbantu dengan fasilitas ini. Bayangkan saja, dengan berat antara 1-2 kg, benda sekecil laptop ini bisa menyimpan ribuan buku-buku elektronik, yang jika dicetak bisa memenuhi ruangan kelas. Kemudahan dalam mengakses jutaan informasi di seluruh dunia, menjadi kelebihan tersendiri teknologi ini.




26
Apr

UASBN SD bukan Musuh yang Harus Ditaklukkan dengan Cara Tidak Sehat

Dikirim oleh D. Dudu Abdul Rahman dalam Sudut Pandang

Ditandai pada: Untagged 

D. Dudu Abdul Rahman

Oleh : D. Dudu Abdul Rahman, S. Pd.


"Nanti, saya akan bekerjasama dengan guru-guru Kelas VI UPTD. Entah Berantah, meminta sisa soal yang dikirimkan Dinas Pendidikan untuk UASBN SD tahun ini", cetus salah seorang ibu yang berseragam dinas guru di angkot. Hati mendadak meringis, setelah mendengar perbincangan salah satu pengajar itu dengan kawannya. Betapa tidak, ketidak percayaan atas kemampuan siswa-siswinya menghadapi UASBN SD, yang sebentar lagi dilaksanakan di awal Mei 2010, menghancurkan esensi pendidikan itu sendiri. Siswa dipaksa untuk mendramatisir sebuah evaluasi yang berstandar nasional tersebut. Siswa sudah memiliki jawaban-jawaban dari gurunya, sehingga dalam pelaksanaannya mereka tinggal mengisi lembar jawaban. Mau jadi apa generasi negeri ini? Meskipun 20 tahun ke depan jika tidak ada kesadaran berbagai pihak dalam memajukan pendidikan, negeri ini tetap berada di belakang negara lain.


Melihat peristiwa di atas, pendidikan bukan lagi bertujuan untuk mengasah kompetensi siswa. Namun, berlomba untuk sebuah pencitraan instansi  secara kuantitas di mata masyarakat, khususnya orang tua siswa, agar instansi sekolah tersebut dibilang bagus. Bisa jadi, celetukan guru di angkot tadi mewakili paranoia guru-guru lain untuk melakukan hal serupa. Perlu kesadaran tinggi untuk memajukan pendidikan negeri ini, tidak semata-mata hanya kuantitas, tetapi bagaimana caranya meluluskan siswa-siswi yang berkualitas untuk meneruskan cita-cita para founding father?


Hal seperti ini tidak boleh terjadi, karena dapat merusak tujuan pendidikan yang sangat mulia telah dipaparkan dalam Pasal 4, Sistem Pendidikan Nasional :
“Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan , kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”.

Ironis sekali memang, jika oknum guru kelas VI SD dan UPTD Pendidikan, berjama’ah untuk membocorkan soal yang telah dirahasiakan oleh negara. Di samping itu, dampak yang paling mendasar yaitu memberikan contoh yang sangat buruk terhadap perkembangan anak, disadari atau tidak hal tersebut membentuk siswa menjadi seorang plagiator. Masyarakat Indonesia, sudah terkenal dengan kepintaran menjiplak karya-karya orang lain; pembajakan, pembuatan karya ilmiah, dsb. Maka, sudah selayaknya para pendidik menjadi pioneer membentuk karakter manusia bangsa ini yang mandiri dan mampu menciptakan sesuatu yang mengharumkan negeri di mata dunia. Stop! Satu kata yang paling mutlak, membentuk generasi yang tidak baik.

Jangan jadikan UASBN itu sebagai akhir segalanya dari evaluasi pengajaran dan pembelajaran. Sehingga, hal-hal yang tidak patut dilaksanakan oleh guru, artinya membocorkan soal untuk dibagikan kepada siswa menjadi sumber satu-satunya, agar siswa-siswi tersebut lulus dan memiliki predikat baik dengan menghalalkan segala cara.

Diharapkan, pengawas sekolah dan independent bekerjasama untuk tidak terbujuk oleh oknum guru tersebut. Yang penting dalam ujian berstandar nasional adalah sebagai refleksi selama proses pengajaran dan pembelajaran 2 semester di kelas VI. Jangan pula hasil UASBN adalah satu-satunya standar kelulusan bagi siswa. Karena, ini tidak sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SD; banyak aspek penilaian yang harus dikonvergensikan dalam meluluskan atau tidaknya siswa kelas VI.

Khusus untuk guru kelas VI, mari memajukan pendidikan dengan cara yang sehat, biarkan siswa-siswi kita mengembangkan daya intelektualnya sendiri, selama UASBN berlangsung. Bagaimanapun, proses pembelajaran sudah diusahakan dengan sebaik-baiknya. Jadi, percayakan semuanya kepada usaha siswa, yang selama ini sudah dibimbing oleh kita. Ingatlah pepatah Ki Hajar Dewantara :
Ing ngarso sung tulodo
Ing madya mangun karso
Tut wuri handayani

25
Apr

dimana ada kemauan disitulah jalan,dimana ada usaha disitulah solusi

Dikirim oleh Ronal Fores Estopan dalam Sudut Pandang

Ditandai pada: Untagged 

Ronal Fores Estopan
Sesuatu yang benar-benar berguna bagi hidup adalah ketika hidup kita benar-benar di jalani dengan hal yang berguna. . .
Menjalani hidup. . .dan mengarahkan hidup selalu ke jalur yang positive bukanlah hal yang mudah. . .
Tetapi sesuatu hal yang mudah tidak akan semudah yang dibayangkan jika tidak di jalani. . .begitu juga sebaliknya,,,
Sesuatu hal yang sukar tidak akan sesukar yang di bayangkan jika di jalani dan terus di geluti. . .
Saya yakin tidak ada masalah yang tidak dapat terselesaikan. . .
Tidak menutup kemungkinan seorang yang memiliki problem yang besar dan sulit di jalani akan dapat menyelesaikan problem yang ia miliki.jika ia selalu menggunakan instinct dan pemikirian yang jernih. . .
Dan tidak menutup kemungkinan pula seseorang yang memiliki masalah yang amat ringan dan mudah terselesaikan . . .akan sangat sulit menyelesaikan masalah yang ia miliki,karena kurangnya dan tidak digunakannya naluri yang jernih. . .dan kepala dingin. . .
Orang yang Sukar menyelesaikan masalahnya adalah ketika orang itu tidak berusaha untuk mencari jalan keluar dari permasalahannya dan membiarkan bahkan terus menyusun masalahnya hingga masalah yang semula kecil dapat menjadi masalah yang lebih besar. . .
Itu makanya, pentingnya kesadaran diri akan Sikap yang enjoy dan instinct yang jernih agar kita dapat selalu menyelesaikan Masalah yang kita punya. . .
masalah bukanlah musuh yang haru8s dihindari, melainkan masalah itu harus kita geluti dan kita selesaikan....
memiliki masalah adalah hal yang mutlak bagi setiap orang.
tetapi menjauhi masalah adalah hal yang harus dihindari oleh setiap orang.
coba belajar untuk menyelesaikan masalah dengan kepala dingin,itu akan membuat kita sadar dan merasa kalau kita ini memang sudah dewasa dan harus bersikap Responsibility
terhadap problem yang kita punyai....masalah adalah suatu jalan untuk membuat kita lebih bertindak dewasa...bersikap confident adalah kunci awal untuk dapat menyelesaikan masalah...jadi selalu bersikap confident dan enjoy...

Mungkin menurut saya seperti itu. . .
PEACE AKH. . .
Nald thea
20
Apr

Meningkatkan Daya Cipta dan Apresiasi Puisi Siswa Kelas 5 Sekolah Dasar Dengan Menggunakan Model Contextual Teaching and Learning

Dikirim oleh D. Dudu Abdul Rahman dalam Sudut Pandang

Ditandai pada: Untagged 

D. Dudu Abdul Rahman
Meningkatkan Daya Cipta dan Apresiasi Puisi Siswa Kelas 5 Sekolah Dasar
Dengan Menggunakan Model Contextual Teaching and Learning
 
Oleh : D. Dudu Abdul Rahman, S. Pd.


Sastra merupakan bagian dari bahasa, secara implisit bisa dikatakan sebagai  bentuk bahasa yang mengungkapkan  pemikiran dengan  perlambangan, kiasan (metáfora), dan retorika bahasa si penulis dalam menyampaikan pesan. Sementara, puisi adalah salah satu bentuk sastra yang memiliki aturan-aturan tertentu;  larik, isi, bait, dst.

Sehubungan dengan  hal di atas, sastra akan lebih dicintai siswa, apabila guru menggunakan model pembelajaran yang kreatif dalam  meningkatkan daya cipta dan apresiasi sastra (puisi) di kelas. Salah satu model yang dapat digunakan adalah Model Contextual Teaching and Learning.

Sesuai  latar belakang di atas, meningkatkan daya cipta dan apresiasi puisi di kelas 5 sekolah dasar, dapat menggunakan Model Contextual Teaching and Learning. Karena, kompetensi dasar yang harus dimiliki siswa di sekolah dasar adalah menulis. Khususnya di kelas 5 sekolah dasar, aspek menulis dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan; --surat, puisi, cerpen, parafrase, dan surat. Kaitan dengan aspek menulis, siswa kelas 5 sekolah dasar dapat dididik lebih dini terhadap daya  cipta dan apresiasi sastra (puisi). Dalam menulis puisi, siswa sekolah dasar dapat dibimbing dan dikembangkan sesuai kapasitas intuisi dalam  perlambangan dan kias bahasanya (metáfora). Salah satu bentuk sastra yang cukup diminati di kelas 5 sekolah dasar adalah menulis puisi . Karena, siswa dapat mencurahkan segala isi hatinya ke dalam tulisan. Untuk itu, guru memiliki kesempatan besar untuk menumbuh-kembangkan daya cipta dan apresiasi sastra (puisi) di kelas 5 sekolah dasar.


Guru harus pintar mengelola pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, khususnya dalam mengembangkan model pembelajaran daya cipta dan apresiasi puisi. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan tadi, model pembelajaran Contextual Teaching and Learning; proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan atau keterampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya. Dengan model pembelajaran ini, siswa akan menerima masukan yang alami dari lingkungan, sehingga memiliki referensi kuat untuk menuangkannya dalam tulisan (puisi).






31
Mar

Satu Cinta untuk Kegagalan Indonesia

Dikirim oleh dalam Sudut Pandang

Ditandai pada: Untagged 

“Gue kecewa sama TimNas!” begitulah kira-kira ungkapan kekecewaan salah satu supporter sepakbola Tim Nasional Indonesia, Hendri Mulyadi, saat dirinya diamankan oleh polisi karena ‘nekat’ masuk ke dalam lapangan ketika pertandingan kualifikasi Pra Piala Asia antara TimNas Indosia melawan Oman di stadion Gelora Bung Karno sedang berlangsung.
 

Ungkapan kekecewaan itu sepertinya sangatlah wajar. Mengingat saat itu Indonesia dikalahkan Oman dengan skor 2-1 di Negara sendiri. Permainan Indonesia pun bisa dibilang jauh dari kata baik. Dan kekalahan tersebut membuat TimNas Indonesia gagal lolos ke Piala Asia.


Ungkapan kekecewaan Hendri Mulyadi saat itu, sepertinya cukup mewakili kekecewaan yang juga dirasakan oleh ribuan atau bahkan lebih pendukung TimNas Indonesia atas kegagalan yang terus menerus dialami oleh TimNas kita. Bagaimana tidak? Di saat beberapa Negara sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti Piala Dunia, Di saat beberapa Negara di Asia dan Asean sedikit demi sedikit mulai menunjukkan bahwa mereka adalah satu diantara sekian banyak Negara yang patut diperhitungkan (dalam urusan sepakbola), Indonesia masih saja berjalan di tempat dan tak henti-hentinya mendulang kegagalan demi kegagalan. Mulai dari TimNas U-19 hingga yang senior. Banyak yang mengatakan kegagalan Indonesia tersebut terjadi akibat beberapa pemain yang membela TimNas sudah terlalu tua (untuk TimNas senior). Ada juga yang mengatakan karena pelatihnya kurang berpengalaman dan tidak berani menurunkan pemain-pemain muda. Menurut saya, kegagalan TimNas sepakbola kita bukan hanya terjadi karena kesalahan pemain atau pelatih. Sesungguhnya banyak factor lain. Salah satu faktornya adalah belum maksimalnya regenerasi pemain. Rata-rata usia pemain yang sekarang membela TimNas senior memang tergolong tidak lagi muda. Fisik mereka pun juga sudah tidak se-bugar tahun-tahun sebelumnnya. Dan sampai saat ini sepertinya belum ada tanda-tanda akan dilakukannya regenerasi pemain di TimNas senior secara maksimal. Ada yang bilang itu belum dilakukan karena Tim atau pelatih yang menangani TimNas senior belum berani mengambil resiko apabila menurunkan pemain muda yang bisa dibilang belum terlalu matang dan waktu yang terlalu sempit/sedikit untuk melakukan pembinaan. Padahal Negara-negara lain sudah mulai menyisipkan satu dua pemain muda dalam skuad inti mereka dan sudah mulai melakukan pembinaan pemain muda secara intensif. So… apa salahnya kalau kita belajar dari keberhasilan negara-negara lain yang sejauh ini sudah cukup sukses menghasilkan pemain-pemain muda berbakat.
Ehmm… Sebenarnya, banyak bahkan sangat banyak bibit-bibit pemain sepakbola berbakat di Indonesia. Kemampuan mereka pun bisa dibilang tidak lebih buruk dan mungkin sama baiknya dengan kemampuan-kemampuan mereka yang berasal dari negara-negara dimana pesepakbolaannya sudah sangat maju. Hanya, bagaimana PSSI (sebagai pihak yang mengatur kegiatan sepakbola Indonesia) atau pemerintah, mengatur dan memberikan wadah bagi anak-anak Indonesia berbakat untuk bisa lebih mengembangkan kemampuan mereka dalam mengolah si kulit bundar. Saya tidak mengatakan bahwa PSSI belum melakukan hal tersebut. Memang pada kenyataannya PSSI sudah membuat beberapa kegiatan dan wadah untuk menampung bakat-bakat terpendam anak-anak Indonesia seperti; Liga Pendidikan Indonesia, Liga Medco, dll. Hanya, sepertinya itu semua belum cukup dan masih kurang intensif. Belum cukup mengingat wilayah di Indonesia sangat luas dan begitu banyak bibit-bibit pemain berbakat Indonesia yang tersebar hingga ke pelosok-pelosok daerah. Kurang Intensif karena seharusnya regenerasi pemain harus dilakukan dengan sangat serius dan rutin. Menurut saya, ada beberapa alternative yang dapat dilakukan PSSI atau pemerintah untuk menemukan bibit-bibit pemain berbakat Indonesia. Salah satunya adalah dengan mengadakan kompetisi di setiap provinsi dan daerah-daerah disekitarnya. Dimana dalam kompetisi tersebut PSSI bisa mengirimkan wakilnya untuk dapat melihat langsung dan membantu mencari calon pemain berbakat. Tapi, kegiatan seperti ini alangkah lebih baiknya jika dilakukan dengan rutin. Kembali ke pembahasan sebelumnya. Kemudian, anak-anak terpilih itu nantinya akan dikumpulkan dalam satu lokasi untuk selanjutnya diberikan pengarahan, pembinaan, dan diberikan kesempatan untuk melakukan pertandingan-pertandingan uji coba nasional atau bahkan internasional. Dengan begitu, selain jam terbang mereka yang semakin bertambah, mental bermain mereka pun akan semakin terasah. Sehingga, ketika mereka bermain di Klub Profesional dalam maupun Luar Negeri atau ketika membela TimNas sepakbola Indonesia, mereka sudah cukup matang dan kemampuan mereka pun sudah semakin baik meski usia mereka masih muda. Bukan hanya itu saja, waktu dan kesempatan pun juga harus kita (baik sebagai pendukung TimNas, pemerintah, atau PSSI) berikan kepada pemain-pemain muda tersebut. Kita tidak bisa memaksa atau membebani pemain-pemain muda untuk bisa langsung memenangkan setiap pertandingan yang mereka jalani dan kita juga tidak bisa menyalahkan mereka ketika kalah dalam sebuah pertandingan. Karena sejatinya, Kesuksesan itu membutuhkan proses dan prosesnya tidak semudah apa yang dibayangkan. Begini, Apa ada wirausaha yang langsung sukses ketika mereka baru membuka usaha? Jawabannya tentu tidak. Pastinya mereka juga memerlukan waktu untuk membuat usaha yang mereka geluti itu sukses. Demikian halnya dengan sepakbola. Kalau kita memberikan kesempatan dan waktu kepada pemain – pemain muda untuk mengasah kemampuan mereka dalam mengolah si kulit bundar agar lebih baik dari waktu ke waktu, saya yakin, mereka pun akan semakin baik dan matang.
Regenerasi pemain memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apabila kita ingin melakukan regenerasi pemain, tentu sangat dibutuhkan Dukungan, pengertian dan kesempatan. Jika semua itu berjalan seimbang, Insya Allah, baik pemain Indonesia, TimNas Indonesia, ataupun klub-klub asal Indonesia, akan mampu bersaing di level yang lebih tinggi dan tidak lagi dipandang sebelah mata. Satu kalimat terakhir akan saya kutip dari perkataan Benny Dollo, pelatih klub Persija Jakarta. “Keep the ball as long as possible”. Memperoleh apa yang diinginkan memang sulit tapi, lebih sulit lagi untuk mempertahankan apa yang sudah diraih. So… selama kita masih mampu, jagalah dengan baik apa yang sudah diraih dan ingatlah selalu 3 kata ini saat hendak melakukan apapun yang kita inginkan ->> berusaha, raih dan pertahankan. Bravo Sepakbola Indonesia! (aQh)
«StartPrev1234567NextEnd»

Komunitas

Pariwara :

      mau pasang iklan disini? hubungi
Primo Advertising
(0265) 5642000

Tags