Mata Cerita

28

Nov

Aku Ingin
Azka Annisa Misbach - SMA Almuttaqin   

MATAHARI mengetuk jendela kamar Nia. Mendesak ingin masuk, mencari celah di antara tirai jendelanya.

"Riiing!!!!!" suara jam beker tokoh kartun kesukaan Nia, memaksa Nia keluar dari mimpinya dan membuat Nia terusir dari mimpi indahnya. Gadis cantik itu dengan malas mematikan jam bekernya itu dan duduk di tepi kasurnya. Dia memandang ke arah jendela. Matahari sudah ingin masuk ke kamarnya. Lalu, dia perlahan beranjak ke jendela kamarnya itu.

Dan dia membuka lebar lebar jendelanya, akhirnya Sinar matahari berebut masuk menerpa hangat wajah Nia pagi ini. Dia hirup udara segar pagi ini. "Selamat Pagi Dunia!!!" kata Nia pada langit. Menurutnya, dia setiap pagi harus menyapa dunia yang sudah rela menjadi tempay dia berpijak selama hampir 18 tahun ini. Dan dia pun teringat akan janjinya bersama ke 3 sahabatnya di sekolah.padahal dia sudah tidak akan belajar lagi, karena 1 minggu lagi di akan mengetahui apa dia lulus atau tidak setelah menempuh pembelejaran 3 tahun di SMA Budi Utama dan juga menempuh 3 hari ujian yang di langsungkan serentak di Negeri ini. Dia melangkahkan kakinya ke wc kamarnya untuk mandi dan bersiap siap untuk menghadapi hari ini.
 

24

Nov

Saat Kuingin Waktu Berpihak Padaku
Siska Khairunnisa   

ImageKETIKA mendengar suara itu, semua peristiwa kembali terkuak jelas dalam ingatanku. Arti dari semua yang pernah kulakukan selama dua puluh empat tahun hidupku. Dan ternyata, hasilnya tidak pernah selalu sempurna, tidak pernah selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Dan tanpa kusadari,

Waktuku mungkin sudah hampir habis.Waktu terus-terusan menertawaiku saat aku pertama kali belajar mengeja. Aku menjadi sangat kesal. Aku berlari keluar kamar dan melaporkan semua tingkah laku Waktu yang tak pernah mau berpihak padaku kepada ibu. Ibuku sayang,... ia hanya membelai kepalaku dengan lembut.”Nak, belajarlah menghargai Waktu,”

 

24

Nov

Surat Cinta untuk Garnita
Irvan Mulyadie   
Image

Sungguh, tak ada yang lebih kuharapkan daripada besarnya rasa dan ketulusan dari kasihnya. Aku selalu menanti agar suatu saat itu benar-benar dating menghampiri. Tidak melulu dalam bayangan dan khayalan. Harus terjadi dan nyata. Ah, tapi akankah?

Begitulah Imul mengakhiri tulisannya di atas lembar kemerahan buku hariannya. Sebetulnya, itu bukanlah sebentuk buku . Melainkan sobekan kertas bungkus rokok yang disusun menyerupai buku.

Sudah dua minggu ini Imul selalu merindukan gadis mungil yang selalu menghiasi lamunannya. Bahkan saking kuatnya ia melamun, hampir saja sepedanya menabrak gerobak roda tukang cimol. Aneh memang, mengingat orang-orang di sekitar Imul mengetahui dengan baik, bahwa Imul adalah lelaki yang super cuek mengahadapi perempuan manapun juga. Secantik apapun gadis itu.
 

23

Aug

Bukan Diriku
yensus   

Maman dan papaku terus saja bersilat lidah ketika aku dikunci sendirian di dalam kamar. mereka  tak henti-hentinya mendebatkan apa yang pantas dan tidak pantas, apa yang seharusnya dan tidak seharusnya aku lakukan. mereka berebut masa depanku sedangkan aku harus pasrah pada pilihan salah seorang dari keduanya yang menang taruhan. aku tidak boleh punya hobi, tidak boleh punya idola, tidak boleh punya favorit, tidak boleh punya banyak teman yang akan meracuni pikiranku. tapi anehnya, dengan segala bentuk keterbatasan itu mereka memaksaku menjadi gadis yang serba bisa. nilai raporku harus sempurna dalam dsegala bidang, aku harus jadi juara umum, aku harus bisa menilis, aku harus bisa menyanyi, aku harus bisa bermain musik, sehingga keduanya akan berani unjuk gusi di depan tetangga kami apabila aku sukses nanti, padahal aku yang menjalaninya merasa tersiksa lahir-batin.

                Biasanya meraka punya keingina yang sama untuk aku lakukan, dan sama-sama bejuang mendorong motivasiku hingga aku mencapai titik puncak prestasi. tapi hari ini, karena sebuah masalah yang aku sendiri tidak tau masalah apa itu, mereka bertengkar hebat hingga tega mengurungku sehari-semalam di dalam kamar. aku tidak tau dan sebenarnya memang tidak mau tau apakah insiden itu berdarah atau tidak. yang jelas, aku merasa menjadi boneka yang dikorbankan keduanya.

***

"biarkan anakku berdedikasi di kedokteran!" ujar papaku provokatif. ia menekankan kata deddikasi seolah aku adalah calon budak ilmu medis.

"ia lebih cocok belajar sastra prancis!" balas maman antusias. ia mengutarakan pendapatnya dengan menggebu seakan ia yakin bahwa aku adalah seseorang yang telah ditakdirkan Tuhan untuk mendalami bidang linguistik.

"apa kau tidak sadar kalau nilai eksaknya sempurna, hah?!" papaku mendelik.

"tapi ia lebih banyak berprestasi di bidang linguistik!"

"itu tak menjamin ia lebih pintar dari hal lain. aku yakin perceka akan jadi dokter hebat!"

"kau salah. pettite tidak berbakat untuk itu. aku ibunya, akulah pembawa genetiknya!"

"kau curang! dia bukan anakmu sendiri. kita membuatnya bersama-sama. pasti gen-ku yang lebih dominan. biarkan ia mengikuti profesi ayahnya seperti aku mengikuti titel ayahku!"

"tidak! semua anak perempuan di keluargaku harus masuk sastra prancis! budaya negara kami lebih terhormat dari budaya disini!"

"hey!!! kau lupa statusmu! sekarang kau adalah warga negara indonesia, kau tak lagi tinggal di tanah Louis, dan negara tempatmu kini berada tak menganut matrilinealisme. garis keturunan ayah lebih penting untuk menentukan nasib!"

"tidak!!! pettite tidak cocok memakai jas praktikum dan memegang jarum suntik. itu akan membuatknya kelihatan keji. aku lebih suka pettite yang benci pada darah!"

"bodoh! tidak seharusnya kau membenci pekerjaan suamimu! dasar istri jalang!"

"aku menyesal menikah denganmu!"

"ibumu pelacur!"

plak! bugh!argghhh! auw! woekkk...!

                aku cemas. aku tak berani membayangkan apa yang selanjutnya akan terjadi. akupun menarik handle pintu, tapi tak terbuka. mereka terlalu asyik bertengkar hingga melupakanku untuk sebentar. aku tau pernikahan dr.sukojo perceka dengan pettite genevieve telah retak. persilangan genetika yang mereka bangun bertahun-tahun untuk mendapatkan filial yang sempurna mendadak hancur gara-gara sebuah ambisi yang tak logis. selama ini aku menyadari kehadiran mereka dalam tubuhku tatkala aku mengeja namaku sendiri "pettite perceka". perpaduan nama yang cukup eksentrik. papa biasa memanggilku perceka dan maman memanggilku pettite selama 17 tahun ini. aku tak pernah menyadari bahwa  perbedaan kecil itu mungkin akan menyebabkan kehancuran luar biasa di keluargaku. dan inilah saatnya. plak! bugh! akh!!!

                aku mendengarnya lagi dengan samar. di luar mereka saling menjambak dan memukul. aku resah, tapi tak tau harus berbuat apa. aku hanya takut sesuatu yang sama sekali tak diinginkan akan terjadi. akupun memikirkan segala kemungkinan yang akan aku lihat kala kakiku menendang-nendang pintu kamarku. aku terus memaksa pintu itu agar terbuka. tapi hasinya nihil. akupun mencari alternatif lain, mungkin saja ada lubang atau apapun itu yang yang bisa kulewati. tapi ternyata cara ini gagal juga. semua lubang fentilasi dan kaca jendela di kamarku memakai terali. akupun berusaha kembali fokus pada pintu itu, lalu aku memaksa membukanya dengan jepitan rambutku. awalnya memang seperti mustahil,                             tapi lama-kelamaan engselnya bergeser. akupun lekas mendobraknya dan pintu itupun terkuak.

                aku memekik saat papa berada di atas maman. ia menyilangkan kakinya di atas perut maman dan dengan sendok spatula yang biasa ia gunakan untuk menakar dosis obat di ruang prakteknya, papa menusuk jantung maman. saat itu juga darah maman memancar ke mukaku tapi aku tak bersuara. rasanya bibirku kelu, saat itu, aku merasa terlalu lemah untuk mengeluarkan jeritan walau hanya sedikit. papa telah membuat tempat ini seperti di ujung neraka.

***                                                                                kini maman telah mati, dan papaku menjadi satu-satunya dokter yang tinggal dalam sel. aku memang hancur karena kehilangan keluarga yang sangat aku cintai. tapi sejak saat itu, aku terbebas dari rasa tertekan untuk memilih antara kedokteran atau sastra perancis. justru aku lebih senang menjadi pelukis yang tak pernah menggunakan cat merah pada setiap lukisannya. barangkali maman benar bahwa aku mungkin diciptakan Tuhan untuk membenci darah, tapi aku tak pernah berharap akan membencinya dengan cara seperti ini. bagiku, warna darah telah telah menjadi sedemikian menakutkan seperti simpul-simpul kematian. sehingga di kemuadian hari orang-orang memanggilku pelukis merah; sebuah stereotip misterius yang ironi dengan jiwaku.

                kini aku bangga menjadi aku yang sebenarnya. dengan implikasi kematian maman-agaknya-kita seringkali dipaksa untuk bisa melakukan sesuatu yang menurut sebagian orang menakjubkan. padahal tiap orang telah dikaruniai kecerdasan yang berbeda untuk melakukan hal menakjubkan yang berbeda pula.***

 

25

Aug

My Life....
Fauzan Azhima   

“Kukuruyuukk..!!!! Kukuruyuukk..!!”

Mentari telah kembali menyambut pagi. Bulan dan bintang tak berjaya lagi. Kini dikalahkan gagahnya sinar matahari. Malam bertabur bintang dan mimpi telah terlewati. Yang ada kini adalah semangat baru dan semangat obsesi diri untuk menjadi individu yang lebih baik lagi. Ayam jantan-pun mendukung dan merasakan tekad ini. Seperti biasa, dia berkokok membangunkan individu-individu yang perduli dan mengembalikan mereka dari dunia mimpi.

Itu juga yang dirasakan di benak Fauzan Azhima, seorang murid di SMPIT Al-ishlah Bogor ini memulai hari yang cerah dengan satu kata: SEMANGAT!*

Di Bogor, dia tinggal bersama Tante dan Omnya sedangkan kedua orang tuanya tinggal di tasikmalaya bersam Kakak dan Adiknya. Di Sekolah Fauzan punya panggilan unik yang di berikan teman-temannya sejak SD, yaitu Azhet. Panggilan itu di berikan karena saat SD di kelasnya terdapat dua nama fauzan, fauzan pertama bernama fauzan abdi kaffah dan yang kedua adalah fauzan azhima, untuk untuk membedakannya maka saat kelas 3 sd fauzan pertama di panggil Akha dan yang kedua di panggil Azhet yang merupakan singkatan dari nama belakang mereka berdua.

Waktu telah menunjukkan jam 6.30, maka Fauzan pun langsung menuju kamar mandi untuk mempersiapkan diri ke sekolah, dan seperti biasanya dia pun terlambat sehingga dia harus menerima omelan singkat dari tantenya,

“jan cepetan donk dah jam setengah tujuh nih” teriak tantenya

“ia, ia nih dah mau berangkat” jawab fauzan yang di lanjutkan dengan berjalan menghampiri tantenya

“ Tan, berangkat dulu ya, asslamu’alaikum”

“Walaikum salam, ia hati-hati”

Maka fauzan pun langsung berjalan keluar rumah dan memanggil ojek untuk mengantarnya ke sekolah, tidak seperti biasanya kali ini dia tidak menaiki sepedanya tercinta, itu di karenakan dia sudah terlambat, jadi dia pun memilih untuk naik ojek.

Sesampainya di sekolah dia pun merasa lega, sambil mengusap tangan ke arah dadanya dia pun berkata

“Untung aja tadi naik ojek, jadi gua gak terlambat syukur deh”

Setelah itu, dengan segera dia pun masuk ke sekolahnya dan langsung bertemu dengan teman-temannya. salah satu temannya adalah Iman dan ahyar, yang merupakan teman sejak SD, selain teman laki-laki fauzan juga mempunyai teman perempuan, diantaranya adalah Annisa, Hafsari dan Dian. Sambil melihat adik kelasnya yang baru fauzan pun memulai pembicaraan dengan teman-temannya

“yar, kata lu nak barunya yang cewe ada yang cakep gak?” seru fauzan kepada ahyar

“kagak zhet,kecil-kecil semua , gak ada yang tinggi, pada pendek. Tuh lu liat aja, pendek banget”

“Bukannya lu suka yang pendek yar? Kan si anis pendek? Hha”

“ wah, kurang asem lu” jawab ahyar di barengi dengan jitakan di kepala fauzan

“hha, pisss yar eh pak samsul dah manggil tuh, masuk yuk ah”

Mereka mengakhiri obrolan mereka dan langsung menuju aula, di sana mereka akan mendapatkan jadwal sementara, tahun ini mereka anak kelas 8 tidak meng-ospek adek kelas, itu di karenakan di al-ishlah belum ada OSIS di karenakan masih baru 2 angkatan. Rencanannya OSIS akan di bentuk di pertengahan semester satu nanti.

Suasana di aula telah di padati oleh anak-anak kelas 8 dan guru-guru. Pak samsul pun memulai acaranya dengan bismillah dan pembagian kela fauzan yakin akan masuk kelas A yang sewaktu kelas 7 di katakan sebagai kelas unggulan di al-ishlah.

“ oke yang bapak sebut namanya masuk kelas A, Dewaji, Dwi, Zulfikar Bambang…….” Pak samsul mulai membagi kelas

“hah.! Si dewa masuk kelas A? padahal kan tuh anak bandelnya naudzubillah, gelo” batin fauzan dalam hati.

“zhet, kita kok masuk kelas B yak? Padahal kan kita ranking 5 besar? Tanya yuk ke pa ahmad” ajak Hendy yang merupakan juara di kelas 7a. maka dengan segera fauzan dan hendi menuju pa ahmad dan menanyakan hal tersebut

“assalamu’alaikum pak, maaf ak saya mau nanya hal yang di pertimbangkan dalam pembagian kelas apa ya pak? Apa masih sama seperti kelas 7?” tanya fauzan ke pak ahmad, di al-ishlah hubungan antara murid dan guru memang sangat dekat, sudah bukan lagi sekedar antara si pemberi ilmu dan si penerima ilmu tapi guru-guru al-ishlah juga bisa diajak sebagai sahabat, tempat sharing dan juga teman

“owh, udah beda zhet, sekrang kita gak kayak waktu kelas 7, sekarang semuanya diratakan jadi yang pinter gak ngumpul di satu kelas, gitu zan”

“owh gitu pak, yaudah pak, makasih ya assalamu’alakum”

Setelah mendengar penjelasan dari Pa Ahmad mereka pun kembali menuju ke kelasnya, sesampainya di kelas mereka langsung memilih tempat duduk, fauzan duduk di bangku paling depan

bersambung


Fauzan/Amq

 
«StartPrev12NextEnd»

Pariwara :

      mau pasang iklan disini? hubungi
Primo Advertising
(0265) 5642000

Mata Blogger

mat pajar (53) Mat Pajar
S. A. Deliabilda (17) Delia
awie (30) dwi rusmianto
thanamq (16) than
boy (13) Ai Nurhidayat

Tags