Mata Aksi

24

Jan

OSIS
Hania Novianty   

    OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah), bukan hanya organisasi bergengsi di sekolah, atau ajang memamerkan jabatan. Tapi jangan menyepelekan tanggung jawab yang berikan, rincikan se detail mungkin.

    Capek.... 

 

15

Jan

tips
vhyna nurkhairunniza   

Tips Buat Kamu-Kamu Yang Ngerasa Ga Atau Kurang  PeDe ( Percaya Diri )

 

Kurang pe-de...pemalu...identik. Orang yang memiliki sifat ini akan tersiksa, pinginnya sih ‘maju', tapi enggak punya keberanian. Ini sungguh tidak enak...
Tapi coba pikir. Pemalu itu muncul karena kita pikir bahwa diri kita punya minus, punya kekurangan, sementara orang lain itu lebih ideal, lebih OK, lebih perfect. Padahal kalo kita mau sadar, kita sama aja dengan mereka. Sama-sama bisa ngerasain sedih dan sakit. Sama-sama bakal mati nantinya. Dan boleh dipercaya face is not all. Biasanya, orang minder itu karena kekurangan fisik. Padahal itu enggak perlu.
Apa yang disebut ‘inner beauty' (atau ‘inner handsome!') itu EMANG ada. Dan lagi-pacar bukan segala-galanya. Jika misalnya kita ngerasa susah cari pacar, ya udah, keep it going. Percayalah bahwa Tuhan akan menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya; pokoknya segala sesuatu telah diberikan yang terbaik. Lha burung pipit di langit saja diberi makan oleh-Nya, apalagi kita manusia?? So, worry nothing! Life's beautiful-dari sudut mana kita memandangnya.Satu hal lagi. Pemalu-atau apapun istilahnya-BISA DISEMBUHKAN.
Itu bukan kutukan seumur hidup. Itu bukan penyakit. Itu cuma kondisi sementara aja. Pikirin ini: sifat pemalu itu enggak ada untungnya sama sekali. Kalo kita kepengin maju, ya maju. Kalo kita kepengin nelpon someone sooo interesting, ya angkat telponlah! Toh dunia tidak akan kiamat hanya gara-gara kita angkat telpon.Bener gha broo
Beranilah! Seperti kata Forest Gump: Hidup ini seperti sekotak coklat. Kita tak akan tahu bagaimana rasanya bila kita tidak mencoba. So, buat temen-temen yang kerasa pemalu, sudahlah, tersenyumlah di depan cermin dan katakanlah ‘aku bangga pada diriku sendiri'. Keluarlah dari persembunyianmu dan tersenyumlah pada dunia. Percayalah, dunia tidak memusuhimu. Dunia ini indah! Bila kita sudah bisa menanamkan keyakinan itu, sungguh, hidup akan terasa indah, tenang, mulus, dan tidak berat lagi.
note ; so, jadilah manusia yang pede dalam tanda kutip gak lebay lah, gk nora jg.. hhhhmmm

 

12

Jan

Study Tour ke Kampung Kuta
Maman Noer Zaman   


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Sobat sabasakola, tak terasa liburan sekolah telah berakhir. Mau gak mau kita dituntut untuk kembali duduk di bangku sekolah. Janganlah kita terus terlena pada suasana liburan panjang, yang menyebabkan semangat belajar kita menjadi berkurang.

Ngomong-ngomong untuk memanfatkan liburan panjang, Sobat sabasakola tour kemana? Ke Bali, Malioboro, Pangandaran, atau ke Cipatujah. Kalu kami sih pergi ke Kuta, eh jangan salah sangka dulu, kuta yang kami maksud bukan yang ada di Bali itu loh, melainkan kampung Kuta yang berada di kabupaten Ciamis, tepatnya di desa Karang paningal, kecamatan Tambaksari.

Sebelumnya, pernahkah Sobat sabasakola pergi kesana? Trus, apasih keunikan dari kampung kuta tersebut? Mau tau jawabannya?, ikuti terus cerita kami.

Asal usul Kampung kuta. Nama kampung kuta dibentuk tidak ada kaitannya dengan histori belaka, tapi kata “Kuta” sendiri merupakan bentuk akronim kata, Kuta “di kuku jeung di tata”. Hal tersebut menggambarkan pola kehidupan masyarakatnya yang mempunyai kesamaan prinsip, untuk selalu menerapkan sipat sopan, ramah, saling menata dan kasih sayang sesama penduduk. Kuta juga disebut daerah suci, sebab dikampung ini tidak terdapat satupun kuburan, dan apabila salah seorang warganya meninggal dunia, akan dikebumikan disebuah daerah yang jauhnya 800 m dari pemukiman.

Luas daerah kampung kuta, luasnya mencapai 97 Hektar, terdiri dari 40 Hektar diambil hutan lindung, sisanya digunakan untuk pemukiman, sawah/kebun dan perumahan. Di kampung kuta terdapat 112 kepala keluarga dan 327 jiwa(185 laki-laki dan 142 perempuan). Mayoritas penduduknya memeluk agama Islam, dan mata pencahariaannya 80% petani.

Rutinitas kegiatan yang sering dilaksanakan setiap tahunnya, yaitu: sedekah bumi, babarit, upacara adat (tahunan) yang dilaksanakan ada tanggal 25 Syafar.

Sobat sabasakola, setiap daerah yang berada di Indonesia pasti mempunyai karakteristik tersendiri, karakteristik tersebut dapat diwujudkan misalnya dalam bentuk kesenian. Kampung kuta juga mempunyai kesenian loh, kesenian Ronggeng, gondang, terbang dan rengkong.

Hebatnya, yang membedakan kampung kuta dengan kampung yang lainnya, yaitu dikampung ini terdapat 13 gunung, diantaranya Gunung pandai damas, goong, ajug, gebang, semen, muser, dan panggeleseran. Masing-masing gunung mempunyai makna tersendiri. Seperti gunung pandai damas, menurut kepercayaan masyarakat kuta, gunung ini dulunya tempat pandai (seseorang yang memproduksi barang terbuat dari besi) sedunia. Konon cara pengolahannya pun masih sederhana, dengan cara diparut menggunakan tangan.

Bentuk bangunan, jika sobat sabasakola mengungjungi kampung kuta, kita akan melihat indahnya rentetan rumah adat. Uniknya gaya bangunannya masih tergolong kategori klasik, yakni gaya panggung, atapnya terbuat dari ijuk dan dingdingnya memakai bilik. Anehnya tidak satupun rumah adat kampung kuta ini, yang menggunakan unsur semen, hal itu disebabkan adat yang masih dipegangnya masih kuat, “apabila ada penduduk kampung kuta, membangun rumah tidak bergaya panggung dan menggunakan unsur semen, maka penduduk tersebut akan mendapatkan musibah tidak disangka-sangka, (kwalat). Hal itu dapat dibuktikan, dulu pernah ada salah seorang warga yang membangun rumah menggunakan unsur semen, ironisnya warga tersebut meninggal dunia. “nuju basa eta oge kantos salah saurang warga ngadegkeun rorompo, anjeuna teh keukeuh wae  ngagunakeun semen, nu akhirnamah warga etateh teras maot”. Ujar Rasman (ketua Rw).

Selain itu, adat lainnya yang masih melekat di kampung kuta, yaitu apabila salah seorang warga/tamu akan jiarah memasuki hutan lindung, ada adab-adab yang harus ditaati, diantaranya, tidak boleh memakai alas kaki, tidak boleh memakai perhiasan, tidak boleh menggunakan pakaian serba hitam, jangan meludah disembarang tempat, dilarang membawa sesuatu dari hutan dan waktu jiarah hanya hari senin dan jumat. Wah sulit juga yah, peraturan dan kepercayaan adatnya sih masih kuat.

Walau pun adat kampung kuta masih melekat pada diri masyarakatnya, kampung kuta juga pernah mendapat penghargaan berupa Kalpataru dari ibu Presiden Megawati Soekarno Putri pada tahun 2002, atas perannya dalam mempertahankan visi pembangunan lingkungan berbasis kebudayaan. Berkat penghargaan ini, akhirnya kampung kuta dikenal di pelosok Nusantara, hal itu dibuktikan pada setiap minggunya kampung ini selalu ramai dikunjungi visitor dari dalam maupun luar kota, tujuan kedatangan visitor ke kampung kuta ini  bermacam-macam, seperti visitor yang satu ini nih, rela datang jauh-jauh dari Papua,  hanya ingin mengetahui pola hidup masyarakat kuta. Wah hebat yah…

Sobat sabasakola sekarang dah taukan, keunikan kampung kuta. Ayo visit Kampung kuta, pokoknya gak bakalan rugi deh! selain kita tour tapi unsur study tidak ditinggalkan. Dari papua aja datang, masa kita selaku warga priangan kalah, malu atuh!!! He…

 

Maman Noer Zaman (XI A)

SMK Miftahussalam Ciamis dan

Asep Ahmad Burhanudin (Man 2 Ciamis)

Citizen Journalism Forum (CJF)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

12

Jan

BENGKEL TEATER MENTAS DI TASIKMALAYA Oleh:Tatang Pahat
dwi rusmianto   

Sepanjang perkembangan teater Indonesia yang terbagi menjadi beberapa dekade dilihat dari berbagai literature, dari buku Pertemuan Teater 70an dan Pertemuan Teater 80an serta buku-buku yang menyoal tentang perteateran di Indonesia.
Nama Bengkel Teater yang di bidani oleh maestro Teater Indonesia WS Rendra adalah kelompok yang mewarnai perkembangan sejarah perteateran di Indonesia. Bengkel Teater salah pelopor munculnya Teater Mutahir Indonesia disamping Teater Mandiri (Putu WijaySa), Teater Kecil (Arifin C Noer, Alm), Teater Koma (N Riantiarno) dan STB (Suyatna Anirun, Alm) serta Teater Populer (Teguh Karya). Pada dekade itu pasang surut perteateran di Indonesia terjadi dikerenakan berbagai hal selain situasi dan kondisi zaman yang berubah juga kondisi seniman teaterpun mengalami gradasi nilai dan sikap. Tidak halnya dengan  Bengkel Teater, justru pada saat itu malahan mempunyai “idiologi” sikap berteater hingga bertahan sampai sekarang (walaupun sang empunya telah meninggal). Idiologi suatu kelompok lebih menekankan kepada “eksistensi” kelompok hanya dapat berarti untuk kelompok itu sendiri dan bengkel teater memiliki kekuatan dan energy  untuk bertahan dan berkembang. Teater hidup adalah teater yang bergerak, dinamis, serta kreatif hali ini merupakan “jiwa” dari idiologi kekaryaan pada suatu kelompok. Kelompok yang mempunyai jiwa kekaryaan jelas akan menemukan “kredo” pada karya karya yang dihasilkan kelompok itu. Almarhum WS Rendra adalah sosok yang bertahan memengang jiwa atau  kredo “teater pernyataan” ini sampai akhir hayatnya. Bagi bengkel teater sendiri mungkin pasang surut nilai dan sikap ini menjadi challenge and respone terhadap kondisi masyarakat. Dan ini dijadikan bahan bakar untuk terus proses dan proses. Kenapa sikap itu di jadikan enegri?. Karena trial and error membuat kelompok ini bertahan dan menemukan kredonya sekaligus posisi dalam kesejarahan teater modern Indonesia.
WS Rendra Sang empu bengkel teater telah pergi, tapi energinya mungkin tidak. Pada tanggal 22 Januari 2010 di Tasikmalaya, para awak atau santri-santri bengkel teater akan mengelar kembali naskah “master peacenya” Bengkel tater yaitu bip bop ( di yakini sebagian orang kesenian cikal bakal teater kontenporer). Munculnya teater mini kata bip bop ini pada saat perteateran Indonesia lagi ganmdrung –gandrungnya dengan teater realisme ( STB, teater popular, dan kelompok teater ATNI), kemunculan bip bop sempat menjadi wacana publik  perteateran di Indonesia dan nama besar WS Rendra di dunia teater salah satunya dengan teater mini kata ini. Melihat kembali kepada karya besar Almarhum WS Rendra, para santri di pesantren Bengkel Teater sepertinya ingin menunjukan kembali kejayaan masa lalu yang pernah di capai. Seperti halnya yang terjadi pada Tetaer Kecil (Arifin C Noer Alm) dengan membangkitkan kembali “Laboratorium Teater Kecil”, yang pada akhirnya menjadi anti klimaks. Pertanyaan mendasar akankah kejayaan yang telah disandang akan kembali Berjaya? Menafsirkan kembali, melakukan pengulangan-pengulangan, mempertahankan kredo yang sudah membumi, menyusun kembali estetika yang sudah mencapai puncaknya adalah kerja yang sangat berat, di lain pihak penemuan penemuan teater  sekarang secara estetika jauh “lebih baik” dengan konsep konsep yang “Fress” menjadi tantangan tersendiri. Namun demikian New Bengkel Teater  sudah barang tentu telah memperhitungkan hal ini. Yang tidak kurang pentingnya untuk dipahami dan menjadi cacatan pinggir dalam mendaur ulang sebuah karya seni yang sudah menjadi master peace adalah nilai kreativitas penggarap selajutnya, pada dasarnya bahwa karya seni merupakan proses mimesis (peniruan). Berkaitan dengan pentasnya bip bop di Tasikmalaya sesuatu yang ditunggu tunggu oleh masyarakat Tasikmalaya lebih khususnya masyarakat seni Jawa Barat adalah awal atau atau dari perjalanan panjang pilar khasanah perteateran di Indonesia. Tentu saja dengan dan Inti dari sebuah peristiwa teater yang disajikan  yaitu membangun nilai silaturahmi baik secara estetika, artistik dan non artistik. Bengkel Teater mencoba membangun nilai komunikasi ini dengan mempertaruhkan nama besar Bengkel Teater dalam hal ini pertunjukan bip bop, lebih jauhnya mempertatuhkan nama besar WS Rendra (Alm).
    Munculnya Bengkel Teater di Tasikmalaya bekerja sama dengan Forum Teater TAsik, pada tanggal 22 Januari 2010 menjadi sebuah cacatan besar untuk masyarakat seni di Tasikmalaya (Teater), kita bisa melihat dan belajar dari kelompok ini. Mudah mudahan nama besar Bengkel Teater tidak mati seperti teater teater besar yang terkubur bersama empunya.

Penulis Pemerhati Seni Pertunjukan
Tinggal di Tasipkmalaya.

 

12

Jan

MENCARI HAKEKAT KEAKTORAN DALAM ”DUNIA KECIL" TEATER
Tatang Pahat   

Oleh, Tatang pahat

    Kenyataan bahwa seni mampu menggalang khalayak dalam jumlah yang tetap malah bertambah, adalah seni pertujukan (teater) yang “dikemas”  secara konseptik, estetik dan artistik. Dengan lain perkataan, seni  yang berorientasi pada kemungkinan perkembangan menjadi “seni massa yang bersuspensi”. Dengan pengemasan apik dan di bentuk seluwes mungkin bisa dicapai nilai komunikatif, sehingga terbentuk opini publik..

Seorang aktor tubuhnya bak seperti tanah liat, bisa dibentuk apa saja (suyatna anirun Alm). Untuk mencapai tujuan tersebut, maka diperlukan peningkatan kualitas perangkat-perangkat terciptanya peristiwa teater yang utuh. Salah satu dari sekian banyak perangkat yang harus di perhatikan yaitu keaktoran karena kualitas ini membentuk keutuhan sebuah peristiwa teater. Beberapa upaya untuk meningkatkan kualitas aktor di dunia pertunjukan teater. Pada intinya aktor sebenarnya memaparkan hakekat sebuah kejadian  yang diaplikasikan melalui kata-kata. Karena kata-kata (vocal) merupakan kendaraan imaji seorang aktor (Suyatna Anirun Alm), inilah sumber yang paling elementer seorang aktor dari sebuah peristiwa teater. Pertanyaannya bagaimana kerja seorang aktor supaya keutuhan peristiwa teater terjaga?. Yang jelas sorang aktor harus sehat jasmani dan rohani supaya mampu untuk menjelmakan hakekat dari sebuah kejadian tadi disamping seorang aktor haruslah mempunyai kecerdasan dan intelektual yang di atas rata-rata. Dua kekuatan ini merupakan motor penggerak dalam pembangunan watak penokohan yang akan di usung seorang aktor. Untuk mencapai tahap kesempurnaan dalam memaparkan hakekat sebuah kejadian seorang aktor tadi haruslah memempuh tiga tahap latihan dasar keaktoran diantarannya, Tahap pertama aktor harus melatih fisiknya (olah tubuh) seperti senam irama, improvisasi gerak, gerak kreatif, pantomime dll. Latihan pernafasan, eksplorasi karakter suara, menyanyi, eksplorasi pengucapan kalimat (diksi), latihan ini akan membentuk aktor yang handal secara kinetik, visual dan auditif. Tahap kedua latihan kemampuan intelektual dan memahami tentang makna kebudayaan (seni) secara menyeluruh. Memahami kerja kreatif dan konsep tokoh tokoh teater, mengetahui tentang sejarah sastra, seni lukis, seni arsitektur, seni musik, filsapat seni, filsapat manusia, psikologi, konsep apresiasi dan kritik seni serta mengetahui tentang anatomi manusia. Pengetahuan-pengetahuan ini untuk seorang aktor sebagai bahan untuk merepresentasikan tokoh yang akan di perankan. Dalam tahapan ke tiga aktor harus melatih sukma berupa mengaktifkan panca indranya seperti mendengar, melihat, mencium, meraba, mengecap yang terus dilatih kepekaannya untuk menghasilkan fleksibilitas dalam mengekspresikan penokohan.     Semua latihan ini membentuk si aktor menjadi tipe manusia-transpormatif, yaitu manusia yang mempunyai sukma yang fleksibel dan fleksibelitas, ini adalah modal dasar aktor serta membangun kekuatan intrinsik untuk sanggup memainkan dan menjelmakan identitas watak tokoh yang akan dimainkan. Kemampuan aktor menciptakan atau mencitrakan watak tergantung pada kuat-lemahnya pengalaman atau observasi (konkret/ liteler) yang diaktifkan selama proses pembentukan watak itu berlangsung.
Dalam wilayah seni peran, pencitraan watak bisa jadi tidak terbatas. Maka dari itu untuk membangun watak-watak yang tidak bisa terkejar oleh kekuatan pengalaman contohnya peran psikopat atau peran pembunuh, tidak mungkin tersedia di pengalaman pribadi barangkali tidak akan pernah mengalaminya?. Mengadapi persoalan ini aktor bisa menempuh pendekatan tokoh tersebutr,  dengan Teknik Proyeksi.
Seperti halnya proyektor adalah alat untuk memperbesar suatu benda, dikaitkan dengan pencarian watak yaitu untuk memperbesar intensitas emosi dari sumber yang dialami sendiri sang aktor, guna menumbuhkan atau membangkitkan perasaan yang (merinding bulu kuduk) meminjan dari Acep Zamzam Noor. Teknik ini membantu proses pencarian aktor untuk menemukan watak atau peran yang tidak bisa terkejar oleh pengalaman batin si aktor. Teknik proyeksi ini dengan jalan memanggil pengalaman yang sebanding (parallel experience) tujuannya untuk membangkitkan atau menciptakan watak dalam penokohan. Misalnya untuk berperan seorang pembunuh si aktor tidak harus membunuh, cukup dengan membayangkan ketika aktor membunuh kecoa, nyamuk atau menyembelih ayam. Lewat teknik proyeksi, pengalaman itu bisa di jadikan acuan untuk menemukan watak atau tokoh si pembunuh (yang akan diperankan si aktor). Kiranya pencarian seperti itu membentuk tokoh dan atau penokohan yang akan di perankan si aktor sehingga berefek kepada sukses dan tidak suksesnya sebuah peristiwa teater (laku akting).
    Laku akting dapat di wujudkan melalui ekspresi yang di wujudkan diatas pentas (stage), hasil proses pencarian si aktor, dampak nyata dari laku akting memunculnya laku dramatis. Pada dasarnya laku dramatik menjalankan “garis laku” acting dengan membangun laku dramatik peran, guna memunculkan atmosfir dramatic. Simpulan sementara laku akting seorang actor diatas pentas, merupakan perwujudan dari proses metamorfosis dari perangkat si aktor (tubuh, pikiran dan perasaan) yang di rajut dalam proses pencarian dan pembetukan sosok peran. Inti dari keaktoran, mencipta peristiwa dramatis di atas pentas (stage), peristiwa itu merupakan stuktur atau bangunan cerita yang diekspresikan oleh aktor-aktor melalui unsur kehendak dengan mengaktifkan panca indranya untuk mencapai target yang di butuhkan (sososk peran).

HAKEKAT KEAKTORAN
    Aktor adalah seniman yang menghadirkan atau menjelmakan suatu sosok/watak penokohan, di tampilkan diatas pentas (stage), dengan mengaktifkan perangkat panca indra yang di milikinya yaitu pengalaman batin, pengalaman intelektual, dan pengalaman imajinasinya dengan dorongan motivasi. Dalam keaktoran dorongan motivasi pencarian tokoh, haruslah bertumpu pada kekuatan kualitas bukannya kuantitas. Pada akhirnya pencarian (eksplorsari) berdampak pada penjelmaan sosok watak yang proposional.
Kualitas watak akan tercapai jika aktor mampu menjelmakan atau menampilkan pesona bihaviorial-nya, dengan cara mengedepankan penampilan kinetic (gestural, penampilan fisik, reaksi tubuh) dan auditif (vocal, distorsi suara untuk mencapai audio yang sesuai dengan tokoh) yang maksimal, sehingga bisa menjelma sebagai tokoh atau sosok yang dikehendaki. Pemaksimalan dari dua kekuatan ini, tubuh aktor sebagai alat transpormasi akan tercapai, artinya aktor telah mampu mengambarkan dengan sempurna tokoh yang diciptakan sang pengarang teks play (naskah). Di sisi lain dua prinsif pencarian ini, akan berdampak pada kredo keaktoran “Aku” (aktor) mati bagi diriku sendiri, tetapi hidup untuk dunia luar. Dunia luar merupakan dunia epistemik pengarang dan pikiran-pikirannya.
    Proses membangun watak selayaknya bersandar pada proses penafsiran, pembentukan, penjelajahan dan penguasaan serta penjelmaan watak.
Dalam proses penafsiran aktor, haruslah bisa mengenali masa lalu tokoh, pengalaman tokoh secara batiniah, secara tersurat dalam naskah, atau yang tersirat dalam laku akting tokoh. Dengan cara mengkaji auto-biografi tokoh. Proses pencarian serupa ini akan memunculkan karakteristik tokoh, guna membangun laku dramatik dalam sosok peran, yang akan di presentasikan aktor lewat laku acting di atas pentas (stage). Selanjutnya proses peng-identifikasian watak, dalam tahap ini aktor seharusnya memenempatkan dirinya dalam tokoh yang akan di perankan. Baik secara perasaan, pikiran, pengalaman, emosi. Sehingga tubuh aktor bisa asimilatif dengan peran/tokoh yang akan di bawakan. Proses selanjutnya kerja aktor adalah menggambarkan watak. Proses menggambarkan atau membayangkan secara keseluruhan merupakan hasil dari peng-identifikasian, sehingga aktor bisa menetapkan identitas tokoh secara visual penokohan. Gambaran ini dapat menegaskan terhadap pola dasar tokoh secara fisik dan spikis, inputan ini tentu saja dengan pencampuran eksplorasi secara observatif (kongkret/liteler). Berikutnya menghidupkan watak/tokoh. Pada pase ini aktor harus menghidupkan seluruh perangkat keaktorannya secara fisik dan psikis ke dalam proses pengolahan tesk (naskah), yang menjadi jalan pijakan untuk menemukan sosok peran yang di inginkan. Proses ini satu cara untuk menghidupkan tesk, sehingga tesk tersebut bernyawa. Tentu saja dengan cara pengucapan yang baru dengan satu kekuatan dari artistik aktor dengan pendekatan kinetik dan auditif tadi. Kemudian tahap menjelmakan watak, aktor harus menyerahkan dirinya dengan situasi dramatik dari tesk,(naskah) atau membiarkan kekuatan tesk (naskah), merasuk ke dalam tubuh aktor. Seghingga kekuatan tesk menjadi bagian integral dari tubuh aktor (proses menjadi/dijadikan). Di tahap  ini kekuatan proses latihan secara kontinyu, menjadi jembatan penghubung untuk menuju penjelmaan tokoh yang di inginkan.  
Menginjak pada tahap berikutnya yaitu tahap pendetailan watak, di pase ini kerja aktor mengembangkan sosok peran supaya kesinambungan dan identitas tokoh yang diperankan lebih spesifik, dalam hubungannya dengan kode kode rahasia yang di munculkan teks. Hubungannya dengan gestikulasi atau kata non verbal yang bersifat ungkapan yang tidak bersuara kode ini bisa dilacak oleh kekuatan di balik teks-teks verbal (Between the Teks, Under the Teks, dan Beyond the Teks).
Proses selanjutnya menyimpulkan watak yang akan di perankan, aktor selayaknya menyusun, mengkaji, memadukan dari berbagai suasana kompleksitas reaktif yang di munculkan dari teks, (naskah) per-adegan. Dalam proses ini aktor harus bekerja sama dengan sutradara dalam membentuk akhir dari pencarian aktor untuk di tuangkan ke dalam peristiwa pertunjukan. Dari semua proses yang di paparkan dalam membangun watak dalam keaktoran bermuara di atas pentas (stage), dengan dan tentu saja ada campur tangan orang lain. Inilah yang dinamakan kolektivitas.

IRAMA SEBAGAI PUNCAK KEAKTORAN
    Inti dari keaktoran dalam sebuah peristiwa teater yang disajikan di atas realitas ambang (stage) mengambil istilah Saini KM, yaitu membangun irama atau atmosfir peristiwa teater. Peristiwa itu dibangun dari berbagai kehendak yang di wujudkan oleh tokoh-tokoh yang ada di dalam teks lalu di ekspresikan oleh tubuh-tubuh aktor. Sehingga membentuk pola laku akting uanuk menciptakan konplik dramatik. Unsur-unsur kehendak dari peristiwa dramatik ini, menurut Benjon dibagi menjadi APA dan BAGAIMANA. Apa yaitu kehendak, berupa pengutaraan pikiran, hasrat, ambisi, ide gagasan, renungan yang dimunculkan dalan teks drama. Bagaimana yaitu suatu cara menggambarkan secara artistik dan ekspresif dialog yang tertuang di dalam teks drama. Dua kekuatan antara apa dan bagaimana terjalin secara dalam merajut peristiwa demi peristiwa dalam untuk mencapai stuktur dramatic yang di inginkan.
    Pada hakekatnya irama itu sebagai suatu prubahan yang teratur, sehingga menciptakan citarasa ruang yang menjadi ciri dari kenyataaan. Maka kita bisa merasakan perubahan irama jika kita sadar akan perubahan ruang ke cita rasa perubahan ruang lainnya.
Irama dalam seni teater dibangun oleh unsur-unsur pristiwa, nada, gerak, kata, laku, warna dan bentuk, membangun irama sebagai jembatan pembantu untuk penonton ke tujuan akhir dari kesimpulan dari sebuah peristiwa teater yang di bangun oleh sang kreator (seniman). Untuk melatih kepekaan ini selayaknya sang aktor bersikap resfonsip terhadap apa yang di temukan sang aktor terhadap cita rasa ruang yang di bangun dari kekuatan teks sebagai bahan baku.
    Kesimpulannya jika aktor adalah seorang yang tuna irama baik secara fisik, psikis atau genetis tidak ada jalan lain kecuali bagi dirinya untuk meninggalkan panggung. Karena tanpa ada kekuatan ini teater tidak mempunyai kekuatan ritmis, empatis dan magnetis serta hipnotis. Padahal kekuatan itulah menjadi suatu power of intrinsik yang menyebabkan teater masih punya alasan untuk di datangi apresiatornya (audient).***

Penulis,
Pemerhati seni pertunjukan Tinggal di tasikmalaya.  
 

01

Jan

Dimana Wibawa mu?
dwi rusmianto   
laporan di jalan semalam:

meskipun hujan rintik datang mewarnai kota Tasikmalaya pada malam tahun baru, itu semua tidak menjadikan ciut para nyali peserta Gelar Ekspresi Akhir Tahun untuk dapat berekspresi melihat situasi dan kondisi di Tasikmalaya. berbagai komunitas kesenian diantaranya ada kuda lumping, reog, memedi, wayang landung, tari jaipong, dan dari Oi Tasikmalaya. sepanjang ruas jalan perkotaan, aksi ini manjadi sorotan masyarakat yang saat itu datang untuk sekedar melihat suasana kota pada malam tahun baru.
acara ini adalah merupakan salah satu agenda tahunan yang digelar oleh Komunitas Trotoar dan Komunitas Cermin.

meskipun sudah ada selebaran yang menyebutkan bahwa pada malam tahun baru kali ini, dilarang untuk mengadakan kegiatan hiburan di arena terbuka. dan ancaman itu datang langsung dari pihak berwajib kepada kita dengan alasan bahwa malam tahun baru ini harus diisi dengan hal yang sifatnya khusuk saja, seperti dzikir, berdoa dan lainnya. padahal peserta yangikut ambil bagian pun mayoritas muslim. mungkin cara2 dzikir di kesenain adalah seperti ini, dengan jalan mengekspresikan diri. kenapa kita dilarang?
kota pada malam tahun baru adalah milik bersama, bukan milik satu golongan. siapa yang bisa mencegah masyarakat datang ke pusat kota cuma sekedar ingin menyaksikan kota pada malam tahun baru?

saya sangat menyayangkan sikap pihak berwajib yang seakan melarang keras kita turun ke jalan? padahal ini sudah menjadi agenda tahunan dan mereka pun tahu itu. apakah polisi tidak mampu berbuat menjadi penengah dan harus kalah oleh tekanan? dimana wibawa mu pak?? cuma ketakutan aja kan? kita turun ke jalan bukan mau demonstrasi, atau inginkan dipandang. tapi kita turun ke jalan itu ingin mewarnai kota tasikmalaya yang pada setiap tahun jikalau ada acara hari besar itu, hanya menjadi mobilisasi massa. kami ingin ketika masyarakat pulang ke rumah itu, ada yang dibawa untuk menjadi bahan perenungan dan pemikiran. dan kami pun tidak mencari keributan. kita datang cuma untuk berkesenian saja.

Seni adalah ekspresi suatu pernyataan kesadaran, sebuah pandangan hidup. ia menyampaikan semangat jamannya, entah itu peristiwa sosial, politik, budaya, peradaban atau proses transdentalitas sekalipun.

Ekprsei Seni adalah sarana bebas seniman menyatakan sesuatu tentang dan atau ditengah kehidupan. ekpresi seni atau berkesenian tidak terpaku kepada suatu tempat atau untuk keadaan tertentu masyarakat. ia bebas dilakukan dimana pun dan kapan pun selagi mengindahkan norma-norma yang ada, tentunya.

Berkesenian tidak hanya dilakukan di dalam gedung pertunjukan, tapi bisa juga dilakukan di sekolahan, kampus, di Mall, Cafe, Rumah di Kantor, di tempat peribadatan atau di jalanan sekalipun. pada jaman yunani kuno, Plato, Socrates, Aristoteles, melakukan kegiatan kesenian baik itu membaca puisi atau main drama, melakukannya di tempat kumpulan orang banyak, baik itu di alun-alun kota atau pasar.

Seni yang dengan tidak dibatasi oleh unsur Suku, Agama, Ras, Organisasi dan Politik(SAROP), kata budayawan dan seniman TAsikmalaya Acep Zam-zam Noor, sangat potensial untuk membangun kebersamaan dan persatuan di antara umat manusia di mana pun di dunia ini.

jadi apakah kami salah untuk berkesenian?

kami sangat-sangat menghormati bapak2 semau, tapi tolong, harus ada sikap netralitas dalam menentukan sesuatu itu jangan cuma ketakutan saja. tapi diperjelas lagi kinerja hukum yang berlaku di Tasikmalaya. dan bapak kitu mengayomi masyarakat, sedangkan masyarakat bukan hanya mereka saja, tapi kami juga masyarakat.

satu situasi yang sangat disayangkan kalo toh benar pihak berwajib hilang wibawa?
mau dibawa kemana hukum di Tasikmalaya ini kalo hukum nya seperti itu? jadi kami mohon kepada bapak yang berwajib, kami punya nalar, kami tidak mencari permusuhan, kami ingin membangun kebersamaan, ya salah satunya dengan berkesenian.

Gelar Ekspresi akhir tahun diikuti oleh beberapa komunitas kesenian. diantaranya : Teater Bolon, Teater Dongkrak,Teater 28 Unsil, Kuda Lumping, Reog, Badawang, Wayang Landung, Memedi, Tari jaipong, dan diikuti oleh Oi Tasikmalaya.

Terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut membantu untuk suksesnya acara ini.
Di akhir tulisan ini saya dan segenap pengurus Komunitas Trotoar Tasikmalaya mengucapkan: SELAMAT TAHUN BARU 2010, semoga di tahun ini dapat tercapai dan terwujud semua, apa2 yang kita cita2kan dari tahun sebelumnya dan semoga dapat memberikan aura baru dalam segala hal. Amin.
hukum seperti apa yang terjadi??
apakah hukum milik perorangan, atau sebuah golongan?
 
«StartPrev12345678910NextEnd»

Komunitas

Pariwara :

      mau pasang iklan disini? hubungi
Primo Advertising
(0265) 5642000

Tags