|
|
Mata Puisi
| Alam yang sepi Suara yag sunyi Ditengah-tengah langlang buana pertiwi Mengisahkan sebuah kondisi Senyapnya suara hati Berbagai tragedy terjadi Kobaran api Menerjang bumi pertiwi Akankah semua ini akan terjadi Ditengah-tengah bencana yang alami Rumah, hutan dan bumi Semua habis dilalap api Semoga saja ini tak terjadi Doa dan harapan menyertai Dari lubuk hati nurani |
|
ketika sakit ku terbaring lemah perasaan tak tentu seakan inginkan kau bersamaku duduk manis di hadapan ku membasuh luka dan rasa sakit yang menggerogoti tubuhku cinta....... kaulah satu-satunya penawar racun di tubuhku mungkinkah.... adakah....... dan siapa....... yang bisa menggantikanmu .. wahai cintaku... kurasa hannya kaulah yang pantas menemani langkahku..... |
Tatang Pahat
MELUKIS WAJAHMU Untuk`AR Seperti kemarin, cerita itu kita lalui
dengan meninggalkan pecahan makna. Udara kesedihan, kemarahan, juga gelisah Sering kau susun dalam bayang masa lalu. Lantas kita susuri kota pahlawan yang lelap
Dengan cahayanya yang gemerlap
Seperti kemarin, pagi jatuh bersama sisa peluh Angin, daun, juga ranting di pohonan jatuh
Lalu mengembaralah kita menyetubuhi kota
Seperti kemarin sunyi tetap bau bacin
Melulu sembunyi di pelepah hari yang asin Lalu kau curi mimpiku sambil bergegas
“Ijroil, aku datang!”
Di pusaramu dik! Kamboja jatuh Mengurai tujuh lapis peristiwa
2007-2009
Tatang Pahat
SILOKA
Dzikir bumi adalah kitab suci
2009
Tatang Pahat
MAJMUR
(1) Pagi berlumuran darah di lembar pertama sebuah koran Dan dunia menyusut ke tanah. Ada pesta pora di hotel
Bintang lima. Ada juga mayat bertumpuk di bumi menanti
Kremasi. kita tak saling menyendiri bermesraan memeluk ujung kehidupan
Tanpa jeda. Udara menghisap reruntuhan menusuk dada lalu Tergeletak bersama luka. Darah muncrat di dinding retak bersatu dengan
Barisan mayat tanpa alamat. Sungguh pahit berdiam diri
Menikmati sekerat luka di televisi. Lalu melihat pameran kata di meja paripurna Ribut saling berebut retorika. Di luar udara liar semakin sulit dikejar
(2) Melulu pagi berlumuran darah di lembar pertama sebuah koran Bumi menyusut dibalut kalut. Ketika gerimis mengutuk tidur Lalu kelam terusir dari sisa malam. Ada daging tersayat di lumati burung bangkai
Yang belum lapar. Juga amarah pecah di sela resah lantas kita saling menunggui mimpi Pagi. Demi membangun keyakinan yang pasrah di bius kemiskinan Kuapungkan doa lewat angin lalu menatap lengkung langit tembaga Aku terisak di tumpukan mayat yang mati tersedak sambil Menghisap bumi sampai menjadi debu tak berarti.
(3) Lagi-lagi pagi berlumuran darah di lembar pertama sebuah koran Tafakurku tersungkur di sela kubur. Matahari mendekat membakar
Syahwat gelombang. Laut cumbui pasir membentuk tarian getir. Tidak ada harapan yang tertinggal di sungai sebab batu
Sudah lelah di hantam riaknya. Seperti halnya aku menunggunu. Kekasih! Lalu puisimu pecah di celah gelisah. Maka berlayarlah aku membelah samudra Memecah karang, merengkuh buih, merauk ombak juga mengukur sulur-sulur cahaya Berharap menemukan camar bersayap senja. Padahal di langit segerombolan awan mengutuk hujan.
2009
Tatang Pahat GERIMIS
Diantara kaki senja menembaga Serat-serat cahaya menembus wajah langit
Awan berbaris serupa lukisan cakrawala Kemudian kita membakar marah hingga berakar Terbangkan lelaltu di ambang malam Di balik kaca jendela kutatah pecahan peristiwa Meninggalkan jejak sunyi ulu hati Ketika angin kesepian mengelus pucuk albasiah Aku titipkan seutas rindu
Menghitung kembali lembaran Daunnya yang dulu pernah kita injak, Saat gerimis menyirami tanah
Tarenyata tidak cukup sebab Terlalu kering tersedot kepakiran pikiran
Di sudut malam yang menyusut
Mimpi kemarin tercuri geliat pagi Lalu membeku menjadi embun dan jatuh Di sungai batinku lantas memecah takbir Batu-batu ketika nasib menjerat leherku di ujung ranting
Mengalirlah aku sampai terusir di bibir waktu yang menggebu
2010
|
Hidupku sederhana...
Lahir dari rahim yang hangat, tumbuh dengan cukup susu dan bebas bermain dari kejauhan polusi dan asap urban.. Hidupku sederhana... Sambil sekolah semaunya, kuhabiskan masa kanakku dengan banyak tengkar di ruang belajar.. Hidupku sederhana... Punya tap berlindung kala hujan turun, selalu mengeluh saat buburku terlalu asin; tanpa tahu betapa perih kelaparan di puri cikeas... Hidupku sederhana... Banyak kemahasempurnaan dapat di ceritakan dari kacamata makmurku. Namun penghargaan hanya milik yang berani menguak kemelaratan... Hidupku sederhana... Di tengah tren bunuh diri, mentalku terpetakan pengangguran; tak tahu kapan saat tepat mendongkrak tirani palsu... Hidupku sederhana... Aku ini kerdil... Bisakah jadi binatang egaliter??? |
senyum manis yang hampir habis terkikis tangis kutemukan kembali di sela-sela trotoar walau sedikit menipis siang tadi
lelah memang mengitari perayaan membuka jendela maya membunuh waktu yang berlarian dengan suara tak bermuka
barisan kata, phrase, metafor dan fiksi jungkir balik dipangkas dipakaikan nada menjadi cerita
dulu sekali, lengan lentik itu yang menjadikan kau berdiri atas sadarnya. lalu tenggelam. bertemu pada lajur trotoar dan di atasnya tertuliskan kata. kau pun merdeka
senyum simpul itu kembali mengikis langkah sayup
hanya kata ya! dirimu dan sekelompok pilihan kata
ciamis, Feb '10 |
tolong pegangi wajahku
dalam ingatanmu sebelum detak makin cepat tinggalkan detik yang tak mau melambat
2010 |
|
|
|
|