Mata Puisi

01

Nov

Gelapnya Alam Menunggu yang Tak Pasti
Yat Getooh   

Alam yang sepi

Suara yag sunyi

Ditengah-tengah langlang buana pertiwi

Mengisahkan sebuah kondisi

Senyapnya suara hati

Berbagai tragedy terjadi

                        Kobaran api

                        Menerjang bumi pertiwi

                        Akankah semua ini akan terjadi

                        Ditengah-tengah bencana yang alami

                        Rumah, hutan  dan bumi

                        Semua habis dilalap api

Semoga saja ini tak terjadi

Doa dan harapan menyertai

Dari lubuk hati nurani

 

13

Nov

ketika hati dilanda 'cinta'
agung boy'z alits   

 


ketika sakit ku terbaring lemah

 perasaan tak tentu 

seakan inginkan kau bersamaku

duduk manis di hadapan ku

membasuh luka dan rasa sakit

yang menggerogoti tubuhku

  cinta.......

 kaulah satu-satunya penawar racun di tubuhku

mungkinkah....

adakah.......

dan siapa.......

 yang bisa menggantikanmu ..

wahai cintaku...

 kurasa hannya kaulah yang pantas menemani langkahku.....

 

 

12

Jan

SAJAK SAJAK
Tatang Pahat   
Tatang Pahat

MELUKIS WAJAHMU
Untuk`AR
    
Seperti kemarin, cerita itu kita lalui dengan meninggalkan pecahan makna.  
Udara kesedihan, kemarahan, juga gelisah
Sering kau susun dalam bayang masa lalu.
Lantas kita susuri kota pahlawan yang lelap Dengan cahayanya yang  gemerlap

Seperti kemarin, pagi jatuh bersama sisa peluh
Angin, daun, juga ranting di pohonan jatuh Lalu mengembaralah kita menyetubuhi kota
Seperti kemarin sunyi tetap bau bacin Melulu sembunyi di pelepah  hari yang asin
Lalu kau curi mimpiku sambil bergegas “Ijroil, aku datang!”  

Di pusaramu dik! Kamboja jatuh
Mengurai tujuh lapis peristiwa

2007-2009






















Tatang Pahat

SILOKA

Dzikir bumi adalah kitab suci


2009

 






































Tatang Pahat

MAJMUR
(1)
Pagi berlumuran darah di lembar pertama sebuah koran
Dan dunia menyusut ke tanah. Ada pesta pora di hotel Bintang lima. Ada juga mayat bertumpuk di bumi menanti Kremasi. kita tak saling menyendiri bermesraan memeluk ujung kehidupan Tanpa jeda. Udara menghisap reruntuhan menusuk dada lalu
Tergeletak bersama luka. Darah muncrat di dinding retak bersatu dengan Barisan mayat tanpa alamat. Sungguh pahit  berdiam diri Menikmati sekerat luka di televisi. Lalu melihat pameran kata di meja paripurna
Ribut saling berebut retorika. Di luar udara liar semakin sulit dikejar

(2)
Melulu pagi berlumuran darah di lembar pertama sebuah koran
Bumi  menyusut dibalut kalut. Ketika gerimis mengutuk tidur
Lalu kelam terusir dari sisa malam. Ada daging tersayat di lumati burung bangkai Yang belum lapar. Juga amarah pecah di sela resah lantas kita saling menunggui mimpi Pagi. Demi membangun keyakinan yang pasrah di bius kemiskinan
Kuapungkan doa lewat angin lalu menatap lengkung langit tembaga
Aku terisak di tumpukan mayat yang mati tersedak sambil
Menghisap bumi sampai menjadi debu tak berarti.

(3)
Lagi-lagi pagi berlumuran darah di lembar pertama sebuah koran
Tafakurku tersungkur di sela kubur. Matahari mendekat membakar Syahwat gelombang. Laut cumbui pasir membentuk tarian getir.
Tidak ada harapan yang tertinggal di sungai sebab batu Sudah lelah di hantam riaknya. Seperti halnya aku menunggunu. Kekasih!
Lalu puisimu pecah di celah gelisah. Maka berlayarlah aku membelah samudra
Memecah karang, merengkuh buih, merauk ombak juga mengukur sulur-sulur cahaya Berharap menemukan camar bersayap senja. Padahal di langit segerombolan awan mengutuk hujan.

2009











Tatang Pahat
 
GERIMIS

Diantara kaki senja menembaga
Serat-serat cahaya menembus wajah  langit Awan berbaris serupa lukisan cakrawala
Kemudian kita membakar marah hingga berakar
Terbangkan lelaltu di ambang malam
Di balik kaca jendela kutatah pecahan peristiwa
Meninggalkan jejak sunyi ulu hati
Ketika angin kesepian mengelus pucuk albasiah
Aku titipkan seutas rindu
Menghitung kembali lembaran
Daunnya yang dulu pernah kita injak,
Saat gerimis menyirami tanah Tarenyata tidak cukup sebab
Terlalu kering tersedot kepakiran pikiran

Di sudut malam yang menyusut Mimpi kemarin tercuri geliat pagi
Lalu membeku menjadi embun dan jatuh
Di sungai batinku lantas memecah takbir
Batu-batu ketika nasib menjerat leherku di ujung ranting Mengalirlah aku sampai terusir di bibir waktu yang menggebu

2010


 

 
 


 

13

Feb

Hidupku Sederhana...
yensus   

Hidupku sederhana...

Lahir dari rahim yang hangat, tumbuh dengan cukup susu dan bebas bermain dari kejauhan polusi dan asap urban..

 

 Hidupku sederhana...

Sambil sekolah semaunya, kuhabiskan masa kanakku dengan banyak tengkar di ruang belajar..

 

Hidupku sederhana...

Punya tap berlindung kala hujan turun, selalu mengeluh saat buburku terlalu asin; tanpa tahu betapa perih kelaparan di puri cikeas...

 

Hidupku sederhana...

Banyak kemahasempurnaan dapat di ceritakan dari kacamata makmurku. Namun penghargaan hanya milik yang berani menguak kemelaratan...

 

Hidupku sederhana...

Di tengah tren bunuh diri, mentalku terpetakan pengangguran; tak tahu kapan saat tepat mendongkrak tirani palsu...

 

Hidupku sederhana...

Aku ini kerdil...

Bisakah jadi binatang egaliter???

 

 

 

28

Feb

Suzy, Kembalikan Senyum Itu
dwi rusmianto   

senyum manis yang hampir habis terkikis tangis
kutemukan kembali di sela-sela trotoar walau sedikit menipis
siang tadi

lelah memang
mengitari perayaan
membuka jendela maya
membunuh waktu yang berlarian
dengan suara tak bermuka

barisan kata, phrase, metafor dan fiksi
jungkir balik
dipangkas
dipakaikan nada
menjadi cerita

dulu sekali, lengan lentik itu yang menjadikan kau
berdiri atas sadarnya. lalu tenggelam. bertemu pada lajur trotoar dan di atasnya tertuliskan kata. kau pun merdeka

senyum simpul itu kembali mengikis langkah
sayup

hanya kata
ya! dirimu dan sekelompok
pilihan kata


ciamis, Feb '10
 

28

Feb

Dengan Puisi,....
dwi rusmianto   

tolong pegangi wajahku dalam ingatanmu
sebelum detak makin cepat
tinggalkan detik yang tak mau
melambat

2010
 
«StartPrev12345678NextEnd»

Komunitas

Pariwara :

      mau pasang iklan disini? hubungi
Primo Advertising
(0265) 5642000

Tags