Abah Erza: Kritik VOB Tentang Sekolah Sebenarnya Menampar Muka Sendiri Sebagai Guru

2 min read

Abah Erza dan VOB

Abah Erza (Cep Ersa Eka Susila Satya), setelah nonton aksi panggung Voice Of Baceprot (VOB) di festival musik rock di Jogjakarta mengatakan bahwa ‘lagu ‘School Revolution’ itu sebenarnya sebuah kritik tentang sekolah dan sistem pendidikan di Indonesia yang menampar muka saya sendiri sebagai guru.’

Lagu tersebut liriknya ditulis olehnya setelah melakukan diskusi dengan personel VOB. Katanya, di bait terakhir itu Marsya yang tambahin dengan lirik lebih bijaksana, walaupun isinya berisi kritikan tajam terhadap praktik pendidikan. Lagu ini sempat memicu kontroversi serta polemik di kalangan guru, karena Abah merupakan seorang guru dan bagian dari sistem. 

‘Kita tidak pernah berani menyalahkan sistem yang selalu kita salahkan adalah oknum. Padahal mungkin saja sistemnya yang rusak.’’ tambah Abah Erza.

Lirik School Revolution 

Sekolah pagi pasti ragaku ini berlari

Paksa mimpi yang tak satupun ku mengerti

Terlempar kepala dipaksa pintar

Terdampar moral digoda bingar

Don’t try to judge us now 4x

Di balik tembok isi kepala seakan digembok

Selaksa dogma ditimpa hingga bongkok

Bila teriak merdeka bersiaplah ditabok atau dikatain

And my soul is empty

And my dream was dying

My soul fall in the dark side

And I lose my life (lose my life)

Di sana dijuluki penjara paling indah

Tapi tak berikan bukti apa-apa

Hanya seabruk aturan yang tak pernah diterapkan

Menyisakan sejarah yang telah terlupakan

Don’t try to judge us now 4x

Banyak orang hanya beradu persepsi

Saling tindas dengan alasan visi dan misi

Korbankan mimpi yang akhirnya jauh terdampar

Terlempar samar dan akhirnya mulai pudar

And my soul is empty

And my dream was dying

My soul fall in the dark side

And I lose my life (lose my life)

Hanya orang fokus yang dapat bertahan

Punya mimpi dan berani tuk wujudkan

Bisa sukses tanpa harus korbankan prinsip

Punya semangat dan pikiran yang positif

Don’t try to judge us now 4x

And my soul is empty

And my dream was dying

My soul fall in the dark side

And I lose my life (lose my life)

Menurut Abah, setelah lebih tujuh tahun mendalami dunia pendidikan dan menjadi guru, melihat bahwa kaum milenial dan generasi Z sedang berada dalam fase di mana mereka memerlukan telinga untuk mendengarkan pikiran dan jiwanya. Karena otak mereka sudah penuh dijejali dengan perintah, keharusan, instruksi, dan larangan di rumah, di sekolah dan di tempat ibadah. Seolah hak mereka untuk berbicara dirampas oleh orangtua, guru dan para pendakwah. Padahal mereka ingin hidup merdeka menurut cara dan keinginannya sendiri. 

Pendekatan saya adalah menjadi teman siswa dalam belajar.  Sebagai teman tentu tidak mudah, karena tantangan besarnya adalah tembok kepercayaan. Jangankan pada guru pada orangtuanya kadang anak berbohong. Jadi menjadi teman siswa dan kewajiban  sebagai guru saya kira memperhatikan supaya anak dapat tumbuh menurut kodratnya, keinginan dan mimpi-mimpinya.

Abah cukup memahami apa yang menjadi kegelisahan peserta didik yang umumnya terdiri dari kaum milenial dan generasi Z seperti personel VOB. Abah tidak mengambil jarak dengan mereka sehingga mereka pun tidak sungkan untuk mengeluarkan semua kegelisahannya dengan bahasa mereka sendiri yang terkadang kurang sopan, bahkan kurang ajar. Tapi itu semua dipahami Abah sebagai ungkapan murni dan jujur dari peserta didiknya. 

Pertemuan Abah Erza dengan personil VOB bermula saat Menjadi guru ektra kurikuler di Madrasah Tsanawiyah (Mts) Al-Baqiyatussolihat ketika membuat group teater. Kemudian membuat group musik, awalnya personilnya banyak kemudian jadi bertiga (Marsya, Siti, dan Widi), mereka yang bertahan yang sekarang dikenal sebagai  Voice Of Baceprot.

Hal lain yang dipraktekan oleh Abah Erza adalah budaya literasi. Membaca dan berpikir kritis. Dalam setiap kesempatan Abah selalu membawa koleksi pribadinya baik berupa buku ataupun playlist musik yang dia bawakan kepada anak didiknya. Salah seorang personel VOB yang ketularan menjadi pecanduk buku adalah Marsya, vokalis dan gitaris yang pernah Abah perkenalkan kebacaan karya Pramoedya Ananta Toer.

Praktik Abah Erza dengan mendirikan VOB yang kini dikenal dengan group band  trio metal hijab dan mengharumkan Indonesia di pentas dunia lewat musik yang dibawakannya. Mengingatkan kita bahwa pendekatan pendidikan di sekolah barangkali butuh terus-menerus dikaji-ulang untuk menghasilkan manusia unggul Indonesia. Bagaimanapun, pendidikan dengan berbagai caranya punya peran penting.

Iman Abda 30/09/2022

Catatan: Tulisan ini saya sarikan dari percakapan saya dengan Abah Erza di sela-sela nonton Jogjarockarta 2022 di Tebing Breksi, 25 September 2022.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.