Aku Ingin

MATAHARI mengetuk jendela kamar Nia. Mendesak ingin masuk, mencari celah di antara tirai jendelanya.

“Riiing!!!!!” suara jam beker tokoh kartun kesukaan Nia, memaksa Nia keluar dari mimpinya dan membuat Nia terusir dari mimpi indahnya. Gadis cantik itu dengan malas mematikan jam bekernya itu dan duduk di tepi kasurnya. Dia memandang ke arah jendela. Matahari sudah ingin masuk ke kamarnya. Lalu, dia perlahan beranjak ke jendela kamarnya itu.

Dan dia membuka lebar lebar jendelanya, akhirnya Sinar matahari berebut masuk menerpa hangat wajah Nia pagi ini. Dia hirup udara segar pagi ini. “Selamat Pagi Dunia!!!” kata Nia pada langit. Menurutnya, dia setiap pagi harus menyapa dunia yang sudah rela menjadi tempay dia berpijak selama hampir 18 tahun ini. Dan dia pun teringat akan janjinya bersama ke 3 sahabatnya di sekolah.padahal dia sudah tidak akan belajar lagi, karena 1 minggu lagi di akan mengetahui apa dia lulus atau tidak setelah menempuh pembelejaran 3 tahun di SMA Budi Utama dan juga menempuh 3 hari ujian yang di langsungkan serentak di Negeri ini. Dia melangkahkan kakinya ke wc kamarnya untuk mandi dan bersiap siap untuk menghadapi hari ini.

***

“Pagi Ma…. Pa….” sapa Nia pagi ini pada Mama dan Papanya yang sedang sarapan di meja makan. Dia memandangi foto keluarganya, dia seperti kehilangan seseorang yang kini sangat di rindukannya.

“Kakak kamu bulan depan pulang sayang…” sahut Mama Nia yang sepertinya tahu arti tatapan Nia pada foto keluarga itu. Dengan wajah terkejut Nia langsung berteriak.

“Benar Ma?? Kak Tio bakal pulang??? wah… aku seneng banget Ma…” teriak Nia. Kedua orang tuanya hanya tersenyum saja melihat anak bungsunya itu bertingkah. Langsung saja Nia duduk di kursi makannya mengambil roti bakar bagiannya dan mengoleskan selai coklat di atasnya.

“Oya Ma… senin besok aku pengumuman kelulusan… Mama Papa bisa dateng kan??” pinta Nia. Dia tahu Mama dan Papanya adalah orang sibuk. Papanya yang memiliki perusahaan yang bergerak di bidang advertising, memiliki 5 cabang di Indonesia, bahkan sekarang, kakaknya, Tio, dia di percaya untuk memimpi perusahaan papanya yang berada di negri seberang Singapur. Dan Kak Tio sekarang sukses di sana. Itulah yang membuat Nia kesepian di rumah. Kakak kesayangannya hijrah ke negri singa itu untuk mempertanggung jawabkan kepercayaan kedua orang tuanya itu. Dan memang terbukti, perusahaan di sana sudah sangat maju di bawah tangan Kak Tio. Sementara mamanya yang lulusan Desain Baju di universitas ternama di Indonesia ini memiliki 3 butik baju hasil rancangannya sendiri. Jadi bukan hal yang mustahil jika kedua orang tuanya sering tidak ada di rumah.

“Mmm… mama sih bisa aja sayang… kalo papa?” tanya Mama Nia pada suaminya.

“Sebentar ma…..” sahut papa Nia sambil membuka list jadwal kesibukan papanya di Hpnya.

“Mmmmm…. iya sayang.. papa juga bisahadir ko… hari senin kan? kebetulan papa gak ada meeting..” jawab papa Nia dengan santai. Nia senangnya bukan main. jarang sekali Mama dan Papanya bisa meluangkanwaktu untuknya apalagi untuk urusan sekolah. Dia lalu meminum segelas besar susu stroberry kesukaannya.

“Berarti sebentar lagi kamu bakal kuliah ya? Nia, mama pingin kamu jadi pimpinan di butik mama yang di Bandung.. biar kamu bisa sukses kayak kakak kamu sekarang di Singapur… oke sayang?” sahut Mamanya. Kata kata mamanya itu membuat Nia kaget setengah mati. Hampir saja susu yang ada di dalam mulutnya itu tersembur keluar, setelah di tahanmati matian akhirnya Nia tersedak.

“Nia, kamu kenapa sayang??” tanya mamanya dengan cemas.

” Mmm… gak ko ma… aku gak apa apa… tapi Nia kan pingin kuliah dulu ma…”sangkal Nia.

“Kuliah? gak apa apa sayang… sambil kuliah juga no problem ko… kamu tenang aja yah…” sahut mamanya yang membuat Nia keki. Sebetulnya tidak menginginkan posisi itu.. dia ingin menjadi seorang guru. Dia sudah mengira hal ini akan terjadi.

“Sayang… mama tuwh udah ngasih kepercayaan mama buat kamu… masa kamu tega lihat mama tiap hari mama harus bulak balik Jakarta – Bandung … Gimana?” kata mamanya yang terlihat memohon sekali pada Nia.

“Ma… sebenernya Nia pingin jadi guru…” sahut Nia perlahan.

“Apa guru? aduuh sayang… gimana masa depan kamu nanti? jadi guru itu belumbisa menjamin masa depan kamu bahagia sayang… coba kamu lihat guru jaman sekarang… udah bikin banyak ulah… pemerkosaan, penipuan, atau apalah… mama gak mau kamu kayak gitu… mau ikutan gak bener kamu?” kata mama dengan panjang lebar. Nia tahu, jika dia melawan lagi maka akan terjadi pertengkaran kecil. Jadi Nia lebih baik menyudah sarapannya dan mengambil kunci mobil pribadinya lalu ijin ke kedua orang tuanya.

“Ma, Pa, Nia berangkat dulu ya, mau ngumpul ama anak anak…”

***

Seperti itu lah kehidupan Nia dalam1minggu ini. Dia selalu di bujuk untuk menuruti keinginan mamanya.seolah olah mamanya ingin menentukan arah hidup Nia. Sementara itu, tanpa pengetahuan kedua orang tuanya, Nia tela memndaftarkandiri ke Universitas ternama di daerah Bandung. Di sekolahnya, Nia termasuk siswa pintar. Dia selalu memasuki peringkat 3 besar di kelasnya. Dia pandai berbicara. Logikanya juga sangat bagus. Mamanya ingin mengatur hidupnya di karenakan Kakaknya selalu menuruti apa yang di inginkan oleh kedua orang tuanya tanpa membantah apapun. Hal ini membuat Nia susah berekspresi dan menunjukan kenginginannya. Padahal, ia sangat ingin menjadi seoang guru. Menurutnya, menjadi seorang guru adalah pekerjaan yang sangat mulia. Dia ingin menjadi orang yang bias memberikan ilmu pada orang lain. Karena hal itu sangat menyenangkan menurutnya. Dia tidak inginmenjadi guru yang seperti dikatakanoleh mamanya. Dia ingin menjadi seorang yang benar benar seorang guru.dimana bias menjaga sikap, menjadi teladanbagi orang lain, dan melakukan hal hal baik lainnya. Bukannya dia ingin menyianyiakankepercayaan mamanya, tetapi dia hanya ingin mengekspresikan diri. Dia mau saja memimpin butik milik mamanya tersebut, tetapi dia juga ingin menjadi guru selain harus menjadi pimpinan yang hanya diam yang hanya diam saja di kursi kehormatan. Lagi pula dia tidak akan tega jika melihat mamanya harus pergi Jakarta-Bandung setiap harinya.

***

Seminggu penuh kecemasan akhirnya berakhir. Semua orang tua murid ada di ruang aula SMA Budi Utama. Amplop berisi pengumuman kelulusan sudah ada di tangan setiap orang tua. Tetapi, semua murid di biarkan menunggu di lapangan basket sekolah itu. Semua siswatampak cemas menunggu seperti apa raut wajah yang akan keluar pada orang tua mereka masing masing. Sama seperti yang lain Nia bersama ke 3 temannya menunggu dengan begitu cemas. Mario, Teddy, dan Sania pun terlihat sangat tegang.

“Mmm… Ni, lo mau di lanjutin kemana nee?” Tanya Teddy mencairkan suasana yang begitu tegang ini. Awalnya Nia tersenyum, tetapi dia langsung tertunduk lemas.

“Lo kenapa Ni? Cerita donk ama kita kita…” sahut Mario simpati pada Nia.

“Gini… gw pingin banget jadi guru… pingiiin banget… guru itu kan pekerjaan mulia… bias ngebagiin ilmu yang dia punya ke orang lain… gw pingin bangt…” jawab Nia dengan muka semangat tapi langsung berubah menjadi lemas lagi.

“Trus kenapa? Tujuan lo aja udah mulia.. apa lagi?” Tanya Sania dengan rasa penasaran yang tingggi.

“Itu dia… ortu gw gak ngijinin gw buat jadi guru… gw malah di suruh jadi pimpinan butuk nyokap gw di Bandung…” jawab Nia dengan lemas.

“Bukannya lo udah daftar truz pilih jurusan pendidikan?” Tanya Teddy.

“Mmm… sebenernya gw gak ngomong dulu ama ortu gw… soalnya , pasti gw gak boleh masuk jurusan pendidikan..” jawab Nia dengan lesu.

“Huufh… gimana lagi? Jalanin aja dua duanya…” usul Mario. Semua sahabatnya mengangguk setuju.

“Udah… tuh ortu kita dah pada keluar… mending kita cari ortu kita masing masing…” usul Teddy. Semuanya langsung berpencar dan mencari orang tua mereka diantara ratusan orang yang berada di lapangan ini. Akhirnya Nia bertemu dengan kedua orang tuanya yang sudah terlihat wajah bahagianya.

“Nia… selamet… kamu lulus sayang… nilai kamu juga memuaskan… “ sahut mama Nia dalam pelukan hangat seorang ibu.

“Selamet ya sayang… kamu membuat kami bangga..” puji papanya.

“Mm…. Pa, Ma,, Nia mau jujur soal sesuatu ma… pa…”sahut Nia. Papa dan Mamanya saling berpandangan.

“Sebenernya Nia udah di terima di salah satu universitas di Bandung…” sahut Nia tersendat sendat.

“Bagus donk sayang… kamu emang the best deh…” sahut mamanya.

“Mm… truz .. Nia ngambil jurusan pendidikan,,”

“Apa? Pendidikan?” sontak mamanya terkaget dan saling berpandangan, saling terkejut.

“Ma, pa… tekad aku untuk menjadi seorang guru udah bulet…aku pingin jadi orang yang bener-bener ada manfaatnya buat orang laen…plis ya pa… ma…” mohon Nia pada kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya salig berpandangan tersenyum.

“Ya udah sayang… kalo itu emang mau kamu… mama dan papa bangga punya anak seperti kamu… tapi kamu tetep harus memimpin batik mama ya…”sahut kedua orang tuanya.

“Beneran Ma? Pa? Makasih banget…. Pokoknya ketika aku jadi guru nanti, aku bakal menjadi seorang guru yang benar-benar guru…”

Post Serupa

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on google
Google+
Share on telegram
Telegram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *