BENGKEL TEATER MENTAS DI TASIKMALAYA Oleh:Tatang Pahat


Sepanjang perkembangan teater Indonesia yang terbagi menjadi beberapa dekade dilihat dari berbagai literature, dari buku Pertemuan Teater 70an dan Pertemuan Teater 80an serta buku-buku yang menyoal tentang perteateran di Indonesia.
Nama Bengkel Teater yang di bidani oleh maestro Teater Indonesia WS Rendra adalah kelompok yang mewarnai perkembangan sejarah perteateran di Indonesia. Bengkel Teater salah pelopor munculnya Teater Mutahir Indonesia disamping Teater Mandiri (Putu WijaySa), Teater Kecil (Arifin C Noer, Alm), Teater Koma (N Riantiarno) dan STB (Suyatna Anirun, Alm) serta Teater Populer (Teguh Karya). Pada dekade itu pasang surut perteateran di Indonesia terjadi dikerenakan berbagai hal selain situasi dan kondisi zaman yang berubah juga kondisi seniman teaterpun mengalami gradasi nilai dan sikap.
Tidak halnya dengan  Bengkel Teater, justru pada saat itu malahan mempunyai “idiologi” sikap berteater hingga bertahan sampai sekarang (walaupun sang empunya telah meninggal). Idiologi suatu kelompok lebih menekankan kepada “eksistensi” kelompok hanya dapat berarti untuk kelompok itu sendiri dan bengkel teater memiliki kekuatan dan energy  untuk bertahan dan berkembang.
Teater hidup adalah teater yang bergerak, dinamis, serta kreatif hali ini merupakan “jiwa” dari idiologi kekaryaan pada suatu kelompok. Kelompok yang mempunyai jiwa kekaryaan jelas akan menemukan “kredo” pada karya karya yang dihasilkan kelompok itu. Almarhum WS Rendra adalah sosok yang bertahan memengang jiwa atau  kredo “teater pernyataan” ini sampai akhir hayatnya. Bagi bengkel teater sendiri mungkin pasang surut nilai dan sikap ini menjadi challenge and respone terhadap kondisi masyarakat. Dan ini dijadikan bahan bakar untuk terus proses dan proses. Kenapa sikap itu di jadikan enegri?. Karena trial and error membuat kelompok ini bertahan dan menemukan kredonya sekaligus posisi dalam kesejarahan teater modern Indonesia.
WS Rendra Sang empu bengkel teater telah pergi, tapi energinya mungkin tidak. Pada tanggal 22 Januari 2010 di Tasikmalaya, para awak atau santri-santri bengkel teater akan mengelar kembali naskah “master peacenya” Bengkel tater yaitu bip bop ( di yakini sebagian orang kesenian cikal bakal teater kontenporer). Munculnya teater mini kata bip bop ini pada saat perteateran Indonesia lagi ganmdrung –gandrungnya dengan teater realisme ( STB, teater popular, dan kelompok teater ATNI), kemunculan bip bop sempat menjadi wacana publik  perteateran di Indonesia dan nama besar WS Rendra di dunia teater salah satunya dengan teater mini kata ini. Melihat kembali kepada karya besar Almarhum WS Rendra, para santri di pesantren Bengkel Teater sepertinya ingin menunjukan kembali kejayaan masa lalu yang pernah di capai. Seperti halnya yang terjadi pada Tetaer Kecil (Arifin C Noer Alm) dengan membangkitkan kembali “Laboratorium Teater Kecil”, yang pada akhirnya menjadi anti klimaks. Pertanyaan mendasar akankah kejayaan yang telah disandang akan kembali Berjaya?
Menafsirkan kembali, melakukan pengulangan-pengulangan, mempertahankan kredo yang sudah membumi, menyusun kembali estetika yang sudah mencapai puncaknya adalah kerja yang sangat berat, di lain pihak penemuan penemuan teater  sekarang secara estetika jauh “lebih baik” dengan konsep konsep yang “Fress” menjadi tantangan tersendiri. Namun demikian New Bengkel Teater  sudah barang tentu telah memperhitungkan hal ini. Yang tidak kurang pentingnya untuk dipahami dan menjadi cacatan pinggir dalam mendaur ulang sebuah karya seni yang sudah menjadi master peace adalah nilai kreativitas penggarap selajutnya, pada dasarnya bahwa karya seni merupakan proses mimesis (peniruan). Berkaitan dengan pentasnya bip bop di Tasikmalaya sesuatu yang ditunggu tunggu oleh masyarakat Tasikmalaya lebih khususnya masyarakat seni Jawa Barat adalah awal atau atau dari perjalanan panjang pilar khasanah perteateran di Indonesia. Tentu saja dengan dan
Inti dari sebuah peristiwa teater yang disajikan  yaitu membangun nilai silaturahmi baik secara estetika, artistik dan non artistik. Bengkel Teater mencoba membangun nilai komunikasi ini dengan mempertaruhkan nama besar Bengkel Teater dalam hal ini pertunjukan bip bop, lebih jauhnya mempertatuhkan nama besar WS Rendra (Alm).
    Munculnya Bengkel Teater di Tasikmalaya bekerja sama dengan Forum Teater TAsik, pada tanggal 22 Januari 2010 menjadi sebuah cacatan besar untuk masyarakat seni di Tasikmalaya (Teater), kita bisa melihat dan belajar dari kelompok ini. Mudah mudahan nama besar Bengkel Teater tidak mati seperti teater teater besar yang terkubur bersama empunya.

Penulis Pemerhati Seni Pertunjukan
Tinggal di Tasipkmalaya.

Post Serupa

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on google
Google+
Share on telegram
Telegram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *