Catatan Perjalanan Seorang Birokrat

5 min read

(Setiap Perjalanan Selalu Bermakna)

Penulis: Asep Budi Setiawan
Penyunting: Nizar Machyuzaar
Penerbit: Yayasan Mata Pelajar Indonesia
ISBN: (dalam proses pengajuan)
Seri: Pustaka Biografi Penerbit MPI
Tahun Terbit: Cetakan I, 300 eks
Halaman: 280
Harga: Rp100.000,00

***

Sebuah Autobiografi:

DI ANTARA IMAJI GENERASI EMAS

DAN ANOMALI ETOS KERJA BIROKRAT

Oleh  Nizar Machyuzaar

 

Bagaimanapun, mematrikan pengalaman dan pengetahuan hidup ke dalam tulisan menandai bagaimana cara kita ber-Ada, baik sebagai warga negara  maupun sebagai warganet.  Selancung apa pun, pengalaman dan pengetahuan yang membekas, yang mempribadi, atau yang ternoktah jiwa, sahih tertanam dalam ingatan menjadi kenangan.

Soalnya, saat ini, saat akses informasi begitu mudah didapat karena terdukung internet, pematrian pengalaman ini begitu cepat, luas, dan massif dibuat. Dalam tradisi tulis-cetak, sebuah pengalaman yang dibagikan ke khalayak ramai dapat diakses pembaca dalam hitungan minggu, bahkan bulan. Sebabnya, para pemrakarya media massa cetak dan buku masih selektif dalam memuat tulisan dan membutuhkan proses produksi yang cukup memakan waktu.

Sementara itu, dalam tradisi ketik-transmisi digital, pengalaman dipatrikan hanya dalam hitungan menit, bahkan detik. Media internet telah membuat pola baru persebaran informasi dari terbatas menjadi tanbatas dalam waktu dan tempat, dari mekanisme profesional ke personal tanpa melalui keredaksian dan penyuntingan, bahkan dari yang rigorus ke remeh-temeh secara isi.

Dengan ini, ada satu cara pandang melihat persebaran informasi, khususnya informasi yang terpatri dalam internet –yakni konten. Yang dimaksud adalah seorang penulis dapat dianggap juga sebagai seorang pemilik media yang merangkap sebagai redaktur dan penyunting tulisannya.

               SAHABAT, tiga bulan ujung 2018, setiap hari saya menulis (minimal) satu tulisan. Menulis beberapa paragraf, tentang apa saja, tidak terpaku pada tema tertentu. Semua teori menulis saya lupakan (bisa jadi saya termasuk penyuka buku-buku “petunjuk menulis”, jumlahnya mencapai ratusan). Setelah saya cek, barangkali ada huruf atau kata yang salah ketik atau terlewat, lalu saya posting di FB (selain menampung banyak kata sekalian “nitip”, bila suatu saat saya butuh tinggal buka).

                Saya kumpulkan, dengan menghilangkan ilustrasi foto, ternyata, jumlahnya (masih) lumayan tebal. Sebuah tulisan, ketika dipublikasikan, sudah menjadi milik publik. Pembaca berhak menafsirkan apa saja. Dan, saya, pun bisa berubah posisi, yang awalnya “penulis” jadi “pembaca” (bisa jadi lebih kritis). Mungkin “tidak berdosa” ya ketika saya mengagumi tulisan-tulisan saya sendiri setelah “sekian warsi” tidak saya sentuh. (Awalkata, hal. 1).

Dengan begitu, buku ini dapat dimaknai dalam semangat tersebut. Betapa tidak? Di tengah kesibukannya menjadi seorang birokrat pemerintah daerah dengan berbagai jabatan yang pernah diemban, Kang Asep Budi Setiawan (ABS) masih sempat meluangkan waktu menulis setiap hari.

***

Catatan | Syahdan, era revolusi teknologi informasi didapuk mereduksi intimasi antarindividu dalam berinteraksi. Sementara itu, intimasi antarindividu dalam bersemuka badan, baik dalam keluarga maupun lembaga sosial kemasyarakatan umumnya, berkurang karena tergantikan dengan bersemuka melalui transmisi digital. Interaksi antarindividu menjadi mudah terjadi karena tidak terikat ruang dan waktu bersemuka badan biologis. Darinya, pola dan nilai sosial dan budaya berubah.

Konon, untuk melihat kepribadian, pandangan, dan sikap seseorang, kita dapat menengoknya pada unggahan konten yang bersangkutan, baik pada akun media sosial maupun akun media berbagi pesan. Karenanya, buku yang berisi bunga rampai unggahan konten ini dapat dianggap sebagai gambaran-diri yang mencerminkan kedirian ABS.

Yang menarik, ABS memberi semacam kode melalui bagian “Awalkata” akan bagaimana memperlakukan buku ini atau bagaimana pembaca menafsir bagian demi bagian. Sebagai contoh, pada dua kutipan paragraf ini saya menemukan bahwa kata ganti orang pertama saya sebagai penutur memosisikan diri sebagai pengamat (orang yang mengamati) dengan kekuatan persepsi akal. Mari kita baca kutipan berikut ini.

            Dalam perjalanan kuliner saya, ada Palinggihan, ada Warung Jeruk, ada pecel lele Ali Action atau Muji Jaya, ada TO dan Baso Laksana Tasik, atau ada Abah Magrib di Puncak Jahim. Saya teringat Kang Ustad Asep Salahudin, yang pernah menikmati kopi asli di Jahim. Siang ini pun saya memilih kopi hitam asli. Biasanya luwak atau robusta. Dan saya selalu menyempatkan melihat “careuh”, yang ditaruh di belakang warung. Namun saya harus berduka, kata si Ceuceu, binatang langka itu kemarin mati, dua sekaligus. (“Aruna dan Lidahnya”, hal. …)

             Saya melihat perilaku aneh si Molly. Cara tidur meniru kami. Masa ada kucing tidur telentang (biasanya meringkuk). Dia makan sesuatu yang biasa kami makan. Dia akan memerhatikan bagaimana kami minum atau menyantap sesuatu. Ya, saya jadi teringat kisah Tarzan, siapa meniru siapa, bergantung seberapa intens kita bergaul. Namun De Riri kerapkali dibuat ngiri. Setiap Mah datang, begitu buka pintu rumah, yang dipanggil Molly, yang ditanyakan sudah makan atau belum pasti si Molly. De Riri, katanya, kurang mendapat perhatian. Mah lebih banyak peduli pada Molly. (“Molly”, hal. …).

            Pada kesempatan lain, kata ganti orang pertama saya berposisi sebagai pengalam (orang yang mengalami). Penulis mencoba mematrikan pengalaman dan pengetahuan hidup menjadi kenangan mempribadi, mendarah daging, dan mengeksplorasi sensasi tubuh, seperti dua kutipan paragraf berikut ini.

SAHABAT, perut saya mungkin sudah mencoba aneka makanan. Saya tidak menolak diberi asupan apa pun. Nyaris semua dinikmati dengan lahap. Ada saatnya, memang, ketika makanan itu “berbahaya”, tubuh saya akan bereaksi, dan mengerem sendiri. (“Sebutir Nasi”, hal …)

SAHABAT, almarhum Abah yang berjasa mengajari saya naik sepeda. Almarhum Emak sangat protektif. Proses latihan pun sembunyi-sembunyi. Bared, atau lecet, akibat terjatuh, tidak saya keluhkan. Bukan diobati, pasti akan diomeli. Latihan pun sekalian acara silaturahmi ke saudara. Jadi di sela-sela itu saya manfaatkan untuk mencoba dengan kaki sedikit-sedikit lepas dari jalan.

Akibat sepeda kaki saya terdapat “luka sejarah”. Padahal terjadi sewaktu awal saya masuk sekolah dasar. Kaki kanan saya masuk jeruji, beberapa putus jerujinya, dan luka dekat matakaki hingga kini abadi. Namun, luka akibat si Kumbang tidak membuat jera. Saya masih menyukai sepeda, kendati harus mengatur napas dengan sempurna. (“Sepeda”, hal. …).

Pada dua kutipan di atas kita dapat membedakan posisi penutur sebagai subjek sekaligus objek penulisan. Dengan kata lain, ketika penutur memosisikan diri sebagai pengamat, penutur dengan penuh kesadaran diberi jarak dengan objek yang ditulisnya. Darinya, persepsi akal lebih dominan menggelontorkan abstraksi ide dan jalan cerita.

Sementara itu, ketika penutur memosisikan diri sebagai pengalam, penutur dan objek yang ditulisnya menjadi tidak berjarak. Artinya, penutur adalah sekaligus objek yang ditulisnya (atau sebaliknya) –yang saling bertukar posisi. Strategi literer penulisan catatan sebagai  pengalam hadir sesekali untuk membuka cerita. Pada umumnya, strategi literer penulisan catatan lebih memilih dan mengeksplorasi kata ganti orang pertama saya yang mengamati sesuatu di luar kediriannya.

 

Cerita | Mengapa mesti dituliskan? Pengalaman dan pengetahuan atas hidup menjadi bermakna ketika dipatrikankan ke dalam tulisan, seperti catatan atau memoar. Dengan itu makna tesertakan di dalamnya. Manakala dituliskan dengan cara diceritakan kembali apa yang diamati dan dialami, pengalaman dan pengetahuan hidup sahih menjadi kenangan.

Lebih dari itu, kemampuan manusia dalam bercerita tidak hanya menegaskan bahwa manusia sebagai makhluk berbahasa, tetapi juga sebagai makhluk bercerita. Pengalaman dan pengetahuan hidup menjadi bermakna dengan diceritakan kembali, baik secara lisan maupun tulisan.

Cerita-cerita dalam buku ini memiliki galur kontinu dalam: pembuka-isi-penutup. Bagian pembuka termaktub dalam bagian “Awalkata”.  Seperti terbicarakan di dalam pengantar ini sebelumnya, pada bagian pembuka buku, strategi literer penulisan buku disampaikan penulis dengan cara bercerita. Selanjutnya, pada bagian isi kita menemukan rangkaian peristiwa (dan masalah) dalam 97 bagian. Terakhir, pada bagian penutup, kita mendapati satu tulisan berjudul “Resolusi”.

Bahan cerita yang remeh temeh menjadi bermakna manakala diberi sudut pandang khas penulis yang memang haus akan makna perjalanan hidup. Perjalanan berkunjung ke suatu tempat kuliner, penghayatan memelihara kucing, perjumpaan dengan sahabat, pengalaman menentukan kebijakan sebagai birokrat, dan sebagainya menjadi bahan untuk diceritakan.

Salah satu cerita yang menarik dan menegaskan bahwa buku ini penting kita baca adalah pengalaman penulis dalam menginisiasi pengumpulan kosakata bahasa Sunda wewengkon Kuningan dan penyusunan template persuratan dalam bahasa Sunda untuk keperluan birokrasi pemerintah daerah di Kabupaten Kuningan.  Hal ini mengingatkan saya akan kepunahan bahasa daerah! Tentu saja, hal ini merupakan keprihatinan kita bersama.

Pasalnya, generasi yang lahir pada tahun 2000-an mungkin tidak akan lagi memakai bahasa Sunda dalam pergaulan hidup mereka. Jika dibayangkan sampai dengan 100 tahun Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 2045 nanti, generasi penerus bangsa Indonesia menghadapi dilema orientasi kebudayaan: satu sisi berjejak pada lokalitas dengan identitas kesukuan dan sisi lain bergerak menggapai kemajuan untuk setidaknya sama dengan bangsa lain dalam peradaban dan pergaulan internasional.

Karenanya, bagi saya, buku ini teramat penting sebagai dokumentasi yang bisa dibaca di kemudian hari: bahwa sebuah catatan meriwayatkan kompleksitas pergumulan berbangsa dan bernegara di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kita cintai ini. Saat ini pun, kita telah banyak kehilangan kosakata bahasa daerah karena perubahan zaman. Semisal, perubahan dalam menanak nasi yang dahulu memakai hawu dan sekarang memakai rice cooker telah menghilangkan sekira dua puluh kosakata dalam bahasa Sunda.

***

            Catatan yang dirangkai dengan kontinuitas peristiwa dan makna akan membuat sebuah kisah, kenangan, atau apa pun namanya. Dengan demikian, catatan seperti ini dapat dianggap sebagai sebuah autobiografi dalam suatu massa.

Lalu, pertanyaan kita kemudian, apa istimewanya buku ini? Selain itu, apa hal yang dapat dipetik sebagai nilai keteladanan yang tesertakan di dalamnya bagi pembaca? Jika kita substitusi kata penutur yang ada dalam catatan-catatan ini dengan kata penulis, kita akan menemukan relevansi sosial dan budayanya.

Saya menemukan anomali bahwa penulis, Kang ABS, telah berhasil meneguhkan sekaligus mengukuhkan diri sebagai manusia yang bercerita melampaui manusia yang berbahasa. Apalagi, latar belakang penulis memiliki kesibukan sebagai seorang birokrat.

Barangkali, pembaca lain akan menemukan sudut pandang yang lebih kaya atas buku ini. Bagi saya, nilai keteladanan yang kita dapatkan dari buku ini adalah betapa sederhananya kegiatan menceritakan pengalaman dan pengetahuan hidup. Namun, hal ini tidak menyederhanakan keindahan dan kekompleksan pengalaman dan pengetahuan hidup itu sendiri. Saya tutup catatan ini dengan resolusi yang ditawarkan penulis pada tulisan terakhirnya.

Iseng-iseng saya mengajukan pertanyaan kepada seorang anak sambil nunggu hujan reda. Apa cita-citamu, Nak? Sejak kapan kamu memulai memikirkan cita-cita? Mengapa kamu memilih cita-cita tersebut? Siapa yang memotivasi kamu memilih cita-cita tersebut? Bahkan, lebih spesifik, saya mengajukan pertanyaan, di mana kamu menimba ilmu? Bagaimana usaha yang kamu lakukan untuk mewujudkan cita-cita kamu? Di mana kamu akan mempraktikkan jika cita-cita kamu tercapai? Meskipun iseng, toh saya bisa introspeksi, dengan mendapatkan jawaban yang kadang surprise. Sesungguhnya  harapan sangat bergantung pada kekuatan tekad dan alur yang dijalani.

 

Tasikmalaya, 8 Maret 2024

Nizar Machyuzaar

Penyunting

Kuliner Beu! Mencari Jejak Rasa

Asep Budi Setiawan BUKU yang penyajiannya sangat unik karena Buku “Kuliner Beu!” ini bukan sebatas membahas tentang makanan. Lebih dari itu, buku ini juga...
Nizar Kobani
1 min read

dari Paris untuk Cinta

Nizar Kobani
55 sec read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *