HITAM ?? Siapa Takut?!!

FENOMENA lama dari cerita lama juga bisa di bilang dari cerita baru di dunia kesenian. hita. Ya!! Ada apa dengan hitam?
Kenapa harus hitam, kenapa mayoritas hitam? Ada nilai apa di balik hitam itu?
Dari dulu sampai sekarang, warna hitam selalu menjadi warna favorit dan mendominasi orang2 yang mengaku dirina berkecimpung di dunia kesenian. Khususnya di teater. Hitam adalah salah satu warna dari sekian banyak warna yang ada di dunia ini. Bukan termasuk warna primer atau sekunder. Tapi kenapa di kesenian selalu mejadi pilihan utama?

Lalu apa hubungannya dengan kesenian?
ada beberapa anggapan, warna hitam merupakan senyawa dari kegelapan. Mereka berpikir lebih disesuaikan dengan keadaan. Salah satu contoh mungkin insan teater lebih menyesuaikan diri dengan warna gelap untuk dapat menyatu dengan gedung pertunjukkan yang biasanya kurang penerangan. Menurut pengakuan dari salah seorang anggota teater, warna hitam bisa dtumpangi warna apa pun  juga. Semisal kita punya kain hitam, mereka mau berekspresi apa saja, dengan warna apa saja, pasti bisa. Ada juga yang mengaku bawa hitam merupakan salah satu warna netral yang tegas. Dan beberapa pendapat lain yang hampir sama dengan pernyataan di atas.

Ada pun di kalangan anak2 musik, khususnya musik2 yang beraliran keras, mereka punya pandangan sendiri. Bagi mereka warna hitam merupakan simbol kegelapan yang begitu tegas, atau juga menggambarkan sisi kehidupan manusia, sisi alami manusia. Mereka manganggap hitam yang tegas itu dapat di salurkan dalam musik serta pakaian yang tegas juga.

Satu lagi pendapat hitam dari beberapa komunitas. Bagi anak2 yang menamakan dirinya Geng atau komunitas lainnya, mereka manganggap warna hitam itu adalah sangar, tegas, menakutkan, disegani dan punya wibawa.

Benarkah begitu sesuatu tentang hitam itu?
Sebagian orang mempertanyakan hal yang sederhana seperti itu, dan ketika saya tanya, jawabanya pun sangat sederhana : “karena saya suka…!”
Memang tidak menutup kemungkinan, banyak juga kawula muda yang berkecimpung di dunia teater bukan hanya suka pada hitam saja. Tapi imej yang beredar, kenapa mayoritas hitam? Itu mungkin yang mereka pertanyakan. Dan akhirnya kita kembalikan saja kepada masing2 diri kita. Terutama yang suka hitam. Kita tidak bisa menyalahkan kesukaan seseorang terhadap sesuatu. Tentu saja tidak dan bukan tidak ada jawabannya. Tapi kenapa? Apaka ada nilai magis? Atau kecintaan saja terhadap hitam?

Jadi siapa yang hitam? Siapa yang takut sama hitam? Siapa hitam? Siapa yang hitam menakutkan? Takut? Siapa hitam??

A. Dwi Rusmianto

Post Serupa

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on google
Google+
Share on telegram
Telegram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *