Karena Toleransi, Berbeda Agama pun Tetap Hidup Rukun Bersama

festival 28 bahasa nusantaran

smk bakti karya parigi

Pagi telah tiba. Waktu itu mereka datang ke Pangandaran hanya untuk satu tujuan: belajar. Ya, mereka dan saya adalah siswa baru yang bersekolah di SMK Bakti Karya Parigi (SBK). Sekolah ini terletak di Dusun Cikubang, Desa Cintakarya, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat. Ketika pertama kali saya memandang mereka, berbagai prasangka dan pertanyaan memenuhi kepala saya.

festival 28 bahasa nusantaran

Siapakah mereka?

Mereka berbeda dengan saya. Kulit hitam, rambut keriting. Bahasa mereka juga berbeda. Cara mereka bicara juga berbeda. Saya merasa aneh, karena sebelumnya saya belum pernah melihat orang dengan penampilan, sikap, dan perilaku yang berbeda.


Mereka, seperti juga saya, adalah siswa-siswi yang menjadi kawan seangkatan saya bersekolah di SBK. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia tercinta, dari Aceh sampai Papua. Kawan-kawan saya itu menjadi siswa SBK, karena di sekolah kami ada program Kelas Multikultural. Dengan program ini, kami dikenalkan dengan interaksi antarbudaya secara langsung, baik di sekolah maupun di asrama. Kami mendapatkan beasiswa full selama 3 tahun hingga lulus. Kami semua tinggal satu atap di asrama putra dan asrama putri.


Kawan seangkatan saya terdiri dari 34 orang, dengan latar belakang yang berbeda-beda, baik asal daerah, suku, bahasa, adat istiadat, maupun agama. Dengan latar belakang agama yang berbeda, pada awalnya kami masih diliputi prasangka-prasangka ketika berbaur, bergaul, dan belajar bersama di sekolah dan di asrama. Banyak sekali pengalaman yang saya alami selama bergaul dengan kawan-kawan yang berbeda agama.

Ketika pertama kali melihat orang yang berbeda, saya masih kaku karena belum terbiasa. Prasangka yang muncul di kepala saya ketika melihat penampilan mereka adalah mereka itu kasar dan mungkin jahat. Saya takut kalau berbaur dengan mereka yang beragama kristen, saya akan terbawa-bawa. Mereka mungkin tidak menghargai saya. Begitu prasangka-prasangka yang timbul dalam pikiran saya ketika itu.

Tapi saya kemudian sadar bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan ragam perbedaan. Keanekaragaman adalah hal yang pasti di muka bumi ini.

Hari demi hari saya jalani beragam aktivitas di sekolah dan asrama. Saya berbaur dengan mereka. Aktivitas dan interaksi dengan mereka ternyata membuat kami menjadi terbiasa dan dapat menerima perbedaan di antara kami.

Kenyataannya, setelah kami berbaur, toleransi di antara kami pun mulai terasa. Ketika waktu beribadah pun, kawan-kawan nonmuslim justru mengingatkan saya. “Hei, kamu shalat dulu, udah adzan tuh!” ucap Danci Yessa yang nonmuslim. Kagetlah saya mendengar itu. Saya lalu shalat.

Danci memang beragama katholik. Dia berasal dari Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat. Dia bersekolah SBK, karena arahan dari guru SMP-nya yang memberitahukan adanya beasiswa full sampai lulus di SBK.

Selain satu angkatan, Danci juga kawan satu kamar dengan saya di asrama. Selama tinggal di asrama banyak sekali pengalaman-pengalam bersama teman saya yang satu ini. Salah satunya tadi ketika saya lalai melaksanakan ibadah, dia sering mengingatkan saya. Teman saya yang seagama dengan saya saja jarang sekali mengingatkan itu.

Pengalaman lain ketika saya sedang shalat dan dia juga sedang beribadah dalam waktu bersamaan. Itu juga tidak jadi masalah bagi saya. Begitupun dengan Danci. Kami beribadah masing-masing, saling menghargai satu sama lain.

Pengalaman saya bersekolah di SBK menunjukkan bahwa kelas multikultural di SBK berhasil melunturkan prasangka saya sebelumnya dan menguatkan toleransi, saling menghargai di antara siswa, meski berbeda agama dan latar belakang lainnya.

Mulai dari situ saya sadar, ternyata hidup di muka bumi ini perlu toleransi, baik toleransi dalam kehidupan beragama maupun toleransi yang lainnya.

Saya juga punya teman dengan pengalaman toleransi beragama. ia bernama Elin Sri Handayani. Dia berasal dari Banten, bersuku Baduy. Dia bicara dengan bahasa Sunda yang kasar. Ini berbeda dengan saya yang biasa berbahasa Sunda halus. Dia punya toleransi yang kuat. Di asrama, Elin sekamar dengan teman-teman yang semuanya nonmuslim. Dia berkata, “Toleransi dan rasa saling menghargai itu muncul ketika kita berteman dengan orang yang berbeda.”

Teman lain yang akrab dengan saya biasa dipanggil Karlos. Dia berasal dari Flores, NTT. Agama dia katholik. Dia sering ngobrol tentang agamanya dengan saya. Ada banyak sekali hal-hal baru yang saya ketahui tentang agama Katholik. Menurut Karlos, toleransi antarumat beragama perlu supaya tidak ada konflik di antara kita. “Saya sudah terbiasa dari kecil berteman dengan orang yang berbeda agama, bahkan sudah merasakan pentingnya toleransi, karena jika tidak ada toleransi, bakalan banyak orang tidak menghormati agama lain dan saling bermusuhan. Berteman dengan teman yang berbeda agama rasanya senang sekali, karena bisa saling berbagi pengetahuan dan bertanya-tanya satu sama lain,” ujar Karlos meyakinkan.

Di antara banyaknya siswa yang berbeda, ada pula siswa yang berasal dari Jambi. Ia bernama Khairul Fikri. Orangnya lulusan pesantren dan suka berargumen. Dia berpendapat bahwa perlu toleransi agar tidak ada salah paham antara satu pihak dengan pihak lain. “Dengan toleransi dalam beragama, kita bisa hidup saling membantu, bukan berselisih,” katanya. Tidak hanya itu, khairul juga berpendapat bahwa berteman dengan teman yang berbeda agama itu bagus. “Menurut saya itu hal bagus, tapi jangan ikut-ikutan kalau dalam konteks agama. Kalau sekedar berteman itu sangat bagus, karena toleransi itulah muncul dari situ. Saya juga merasakan senang karena bisa tahu bagaimana cara mereka beribadah, bisa tahu apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan mereka,” ucap khairul.

Ada juga kawan saya yang berasal dari Maluku. Dia bernama Adelia Revani Haluth. Gadis Ambon ini juga sering berbagi pengalaman tentang pentingnya toleransi antarumat beragama.

Toleransi memang mudah diucapkan, namun kenyataannya tidak selalu gampang dilakukan jika tidak ada interaksi di antara mereka yang berbeda. Adaptasi antara mereka yang berbeda juga diperlukan untuk melunturkan prasangka-prasangka yang tidak jelas dan, kadang-kadang, aneh.

Indonesia itu luas dan ada banyak ragam perbedaan di antara kita. Toleransi adalah keharusan, karena kita hidup bersama.

Akhir-akhir ini pentingnya toleransi beragama banyak dibicarakan oleh masyarakat, karena masalah intoleransi yang mengemuka kembali. Menurut saya, dalam islam sudah dijelaskan bahwa tidak ada unsur pemaksaan dalam beragama. Disebutkan dalam kitab suci Al-Quran bahwa siapapun dipersilahkan memilih agama. Lakum dinukum waliyadin. “Untukmu agamamu dan untukku agamaku”.

Dalam beragama, tentunya sangat tidak dibenarkan jika ada unsur pemaksaan. Dalam keseharian, kita harus hidup rukun antarumat beragama. Muslim bebas beribadah ke mesjid, begitupun sebaliknya penganut agama lain juga bebas beribadah ke tempat ibadahnya.

Rasa toleransi tidak akan hadir di antara mereka yang berbeda jika mereka merasakan gangguan. Gangguan tersebut bukan hanya berasal dari agama, tapi juga berasal dari aspek-aspek lain, misalnya aspek sosial, ekonomi, hukum, kebudayaan, dan lain-lain.

Ketika kita berada dalam lingkungan yang berbeda, baik suku, bahasa, atau bahkan agama, terkadang kita juga merasa tidak nyaman. Selain karena perbedaan itu, konflik dan permusuhan juga terjadi karena sikap dan perilaku yang merusak nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan kebenaran. Maka dari itu, sikap dan perilaku kita juga harus dilandasi rasa kasih sayang antarsesama yang memudahkan hadirnya toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *