Konsumerisme Ramadhan

Adalah bulan ramadhan kalau tidak banyak diskon. Kali ini orang berbondong-bondong melakukan ritual belanja. Tengok saja di sekeliling kita, bila warteg, restoran menutup tirainya raat-rapat, pusat perbelanjaanlah yang mulai beraksi. Berbagai acara digelontoran para pengusaha kepada pangsa pasar yakni orang islam sendiri dengan memanfaatkan momen ramadan ini. Sebuah fitrah bila manusia ingin mencapai kepuasan maksimum untuk kemakmuran. Tapi apakah manusia bisa membedakan kemakmuran dengan nafsu?

Di bulan ramadan inikah kita diuji, kepuasan apakah itu? Setan memang pintar mengelabui kita dengan fatamorgana gemerlap dunia. Apakah di bulan yang sangat istemewa ini kita hanya memprioritaskan baju baru, sepatu baru, sarung baru, hadiah parcel bagi si kaya? Akankah kita berburu amal, barokah, ampunan yang hanya ditemui di bulan seribu bulan ini?

Kepuasan itu tak pernah berujung dan bermakna semu telah melelahkan kita. Disaat harga melanjok naik,  harga BBM semakin meroket, nilai uang semakin rendah, inflasi semakin tinggi, sempat-sempatnya kita berburu diskon, ramadan fair, bazar ramadan, wisata kuliner, ironis memang  bila nafsu makan kita tahan nafsu belanja kita umbar.

Namun apakah yang terjadi di gubuk-gubuk reyot, jalanan becek, lapak-lapak lusuh tempat terlelap. Ada wajah-wajah tertunduk lesu, tak ada baju baru untuknya, sarung baru apalagi parcel. Hanya baju kusuh, sandal tua, rengekan bocah, menghiasi ramadan ini. Mereka hanya bisa menikmati pemandangan kita berburu pusat perbelanjaan, menikmati pemandangan puluhan parcel yang terus memenuhi rumah si kaya. Setiap detik yang terus merangkak hanya dihiasi bunyi keroncongan perut yang sudah biasa dialami seperti hari-hari biasa selain bulan ramadan. Aloh SWT memang adil, meski gemerlap dunia tak pernah mereka cicipi, tapi Aloh telah meluaskan dan melapangkan hati mereka.

Beda dengan “tikus” yang tak pernah puas dengan segunung uang, emas, sepuncak tahta.

Konsumerisme yang sudah menjadi kultur masyarakat Indonesia, tertanam kuat dan sulit dikikis, apalagi  membuncah di bulan ramadan ini. Kita hanyalah sebuah bangsa sebagai konsumen, termangu, memburu barang produksi negara maju yang melaju pesat.  Apakah yang akan terjadi seandaianya pasar bebas sudah diberlakukan di seluruh wiilayah Indonesia? Akankah kita berkosong tangan, ringkasnya menjadi kuli di tanah air sendiri ?

Fitranty Adirestuty

Post Serupa

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on google
Google+
Share on telegram
Telegram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *