Kriptomania

KRIPTO berasal dari dua kata, yakni crypto (kode rahasia) dan currency (mata uang). Dengan demikian, kripto mengacu pada mata uang yang dilindungi kode rahasia.

Kripto bermula dari apresiasi berbentuk poin yang dapat ditukar dengan nilai uang pada beberapa layanan permainan daring atau game online.

Pada perkembangan selanjutnya, layanan permainan daring yang terdukung teknologi tiga dimensi (3D) ini, mengembangkan akses interaksi virtual antarpemain dengan menampilkan sosok virtual (Avatar) pemainnya. Selain itu, ada asesoris yang ditawarkan guna mempermudah interaksi dalam permainan daring.

Kripto yang semula dibeli melalui transaksi digital internet dengan uang kemudian berfungsi layaknya mata uang sebagai alat jual-beli asesoris dalam permainan daring. Bahkan, kripto dapat ditukar dengan uang yang beredar di masyarakat.

Bacaan Lainnya

Bagi para avatar, kripto menjadi simbol kekayaan. Mereka berburu menambah pundi-pundi kriptonya. Bahkan, boleh jadi jumlah kripto menjadi penghasilan bagi sebagian avatar.

Hal berbeda terjadi pada layanan perdagangan atau jual beli emas pada beberapa aplikasi digital. Para pemain (trader) memasukkan sejumlah uang sebagai modal awal –layaknya saham di dalam perusahaan—  untuk membeli dan menjual emas yang dimilikinya.

Dengan demikian, anak-anak kita yang sudah melek permainan daring adalah senyatanya generasi yang sudah mengenal kripto. Dapatlah dikatakan bahwa mereka adalah generasi kriptomania.

Mereka memiliki sosok-nyata di internet sebagai avatar. Sementara orang tuanya, mereka cenderung tidak mengetahui perkembangan pengetahuan anak-anak yang memiliki sosok lain di dunia virtual.

Karenanya, orang tua di rumah dan guru di sekolah ada baiknya mengetahui sisi lain kepribadian anak-anak kita yang  telah memiliki sosok avatar dengan bermain di dunia virtual.

Sebab, pengetahuan anak-anak kita, terutama yang belum mampu membedakan kebaikan dan keburukan pengetahuan yang diakrabi, seperti anak jenjang SD, sering terjebak pada kesalahpahaman dalam menggunakan teknologi internet.

Bahkan, kita tidak ingin anak-anak berkembang menjadi kriptomania, seolah-olah menjadi pribadi yang nyata dalam dunia maya yang tecermin dalam dunia nyata.

 

Nizar Machyuzaar

Mangkubumi, 19 Februari 2022