Kusimpa Rinduku

untuk Suandewi

1.

Di senja selepas jumpa kutemukan kau mengganjal bagai batu
Sedang khusuk menenun rambut yang sebelumnya telah lama kusut
Semenjak tuhan menitipkanmu pada rahim perempuan
Yang kemudian menjadi ibumu

2.

Katamu, “Sesal tak pernah melahirkan aku.  Walau kerap memaksaku. Mencuri bianglala yang terpetakan melingkar.  Senantiasa mencuatkan hujan rindu dari ratapan matamu.”

3.

Sempat kau tinggalkan wangi bibirmu di meja-meja kayu perpustakaan
Aku jadi ingat bagaimana aku merayumu sambil membaca buku
Untuk menyembunyikan malu yang meluap di mataku
Berkali-kali bibirmu melepas senyum namun tetap kusenandungkan ragu
“Adakah cinta yang membujuk kita untuk berada d isana?”

4.

Laut telah sewangi tubuhmu, menelusup hidung dan menyemai riak di pikiran
Masuklah aku ke perut laut mencari arah labirin pikiranmu yang mengurai
Kerap kau celup di hulu sungai, berlari berkejaran dipacu arus, terendap di dasar laut
Entah kutemukan yang kucari sebelum matahari benar-benar menyengat kulit

 

Nangka Utara, Agustus-September 2010

Post Serupa

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on google
Google+
Share on telegram
Telegram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *