Mengambil Hikmah di Balik Musibah

Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4

 

BULAN Ramadan sering ditandai dengan peristiwa-peristiwa besar. Pada bulan ini, Alquran diturunkan. Selain itu, pada masa Rasulullah, perang badar terjadi pada bulan ramadan. Di Indonesia, proklamasi kemerdekaan republik Indonesia pun terjadi pada bulan ramadan. Kejadian besar itu pun terjadi pada bulan ramadan kali ini. Pada waktu asar, gempa berkekuatan 7,3 SR. mengguncang pulau Jawa.


Kalau kita pikirkan, mungkin bisa dikatakan bahwa kejadian ini adalah peristiwa alam semata. Akan tetapi, alam ini ada yang memiliki, Allah Yang Maha Kuasa. Dan Allah pun menjelaskan penyebab kerusakan di muka bumi ini. Penyebab kerusakan di muka bumi ini tidak lepas dari dosa dan perilaku tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab.

Ulah manusia menjadi salah satu penyebab adanya kerusakan di muka bumi. Bencana alam seperti banjir, longsor, global warming dan sebagainya merupakan akibat dari tangan manusia yang hanya mementingkan kebutuhan pribadi, mengabaikan akibat buruk yang ditimbulkan dari perbuatannya itu.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS.30:41).

Suatu bencana bukan hanya ditimpakan bagi orang yang melakukan kesalahan saja. Orang yang berbuat baik pun mendapat bagian. Bencana, bagi orang yang beriman merupakan ujian dan bagi orang sebaliknya, merupakan siksaan.

Bagi orang yang beriman, bencana itu merupakan ujian. Sebagaimana firman-Nya: “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS.2:155).

Bagi orang yang suka melakukan maksiat, terlalu banyak melupakan Allah, bencana itu merupakan siksaan. “…. Karena itu Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. dan Allah sangat keras siksa-Nya.(QS.3:11).

Bencana ini dapat dijadikan sebagai wahana untuk introspeksi diri. Bagi yang merasa ini merupakan ujian, maka ibadah harus lebih ditingkatkan lagi. Akan tetapi apabila merupakan siksa (na’udzu billah), maka harus memutar arah menjadi manusia yang berbakti. Apakah kita termasuh golongan yang mendapatkan ujian, atau golongan yang mendapatkan siksaaan. Jawaban ini tergantung pada individu masing-masing.

Kerugian dari adanya bencana bukan hanya berakibat pada kerusakan fisik saja, seperti ambruknya rumah, nyawa yang melayang dan sebagainya. Akan tetapi menimbulkan akibat buruk bagi psikis. Hal ini merupakan kesempatan bagi yang diberi keselamatan oleh Allah untuk tolong menolong dalam kebaikan, kesempatan untuk membuktikan kekuatan iman yang ada pada diri, solidaritas sesama manusia dalam bentuk bantuan fisik dan doa.

Dalam menyikapi musibah ini, mudah-mudahan kita termasuk orang yang mendapatkan ujian, termasuk golongan orang-orang yang sabar. Orang yang mendapat kabar gembira, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mengucapkan “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.”

Post Serupa

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on google
Google+
Share on telegram
Telegram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *