Menulis di Mata Mereka

MATA PELAJAR MANAGEMENT (28/07), seiring waktu berjalan, arah jarum jam menunjukkan pukul 01. 30 WIB. Namun, obrolan menarik semakin bergulir, mulai dari topik pasar hingga pejabat nanar. Yang meramaikan diskusi malam itu, Maman Noer Zaman, A. Dwi Rusmianto, Arief Reff, Dede Sukana, dan saya. Dari semua obrolan malam itu, diskusi yang paling menarik adalah pembahasan  pengalaman menulis masing-masing.

Maman Noer Zaman mengatakan, menulis adalah pahlawan hidup. Pengertian tersebut memiliki nilai historis tersendiri. Akibat seorang ayah temperament, membentuk karakter dirinya menjadi seorang pendiam, perenung, dan sensitive terhadap lingkungan sekitar. Hal tersebut memberi pengaruh perkembangan psikologi, sehingga memunculkan niat untuk mengungkapkan segala peristiwa yang dialami, dapat dituangkan ke dalam sebuah tulisan. Maman, menginginkan perubahan sikap dari seorang ayah, agar tidak terlalu keras (“mendidik” dan “tersenyum”) kepadanya. Hingga pada suatu hari, Maman, mengirimkan sebuah artikel ke surat kabar lokal, dan akhirnya dimuat oleh surat kabar tersebut. Pada saat itu juga, Maman memperlihatkan surat kabar yang memuat artikelnya kepada ayahnya. Mulai saat itu, perlakuan seorang ayah yang tadinya keras, berkurang. Berdasarkan pengalaman tersebut, menulis, bagi Maman, pahlawan yang mewujudkan hubungan harmonis antara anak dan ayah.

Sementara, menurut A. Dwi Rusmianto, menulis merupakan peristiwa yang diendapkan dalam pikiran, kemudian dituangkan ke dalam tulisan.

“Menulis adalah rasa”, ucap Dede Tsukana. Sebuah tulisan tertuang, karena proses pengolahan rasa dari pengalaman fisik dan batin seseorang dapat dikembangkan.

Berbeda dengan ketiga pengertian di atas. “Menulis itu seru”, cetus Arief Reff, seorang pengembara sastra yang sering menjaring sajak di Situ Gede.

Saya memiliki pendapat yang berbeda, menulis adalah sebuah pengorbanan. Selain waktu, hal yang harus dilakukan oleh seorang penulis dalam membuat sebuah tulisan; mengendapkan bahan tulisan, merenungkan manfaat dari tulisan, dan bertanggung jawab terhadap dampak tulisan itu sendiri, artinya pengorbanan di sini merupakan kesadaran penulis.  

Dari ke-lima pengertian di atas, menulis merupakan salah satu jiwa patriotisme yang harus mengorbankan waktu dan pikiran (gagasan), mengendapkan bahan, merenungkan manfaat, bertanggung jawab atas isi, mengolah rasa, mampu menuangkan dan menarik perhatian pembaca.

Sejalan dengan Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan, menulis merupakan salah satu cara berkomunikasi. Pengertian-pengertian di atas, memiliki sinergitas yang sangat penting untuk dijadikan modal memulai menulis. Bahwa pengalaman merupakan guru terbaik perjalanan hidup manusia, begitu juga menulis, dapat dituangkan dengan baik karena intensitas, loyalitas, proses dan dedikasi tinggi terhadap kemampuan “membaca” peristiwa sehari-hari, sehingga menjadi informasi yang bermanfaat bagi orang lain. ***

Post Serupa

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on google
Google+
Share on telegram
Telegram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *