Pasar Tradisional. "Aku tak Tergantikan!"

Image

PASAR Pancasila, salah satu pasar tradisional di Tasikmalaya yang sampai saat ini tetap eksis. Banyak orang  hilir mudik di sekitar Pasar Pancasila, pertanda pasar tradisional masih mendapat tempat di hati masyarakat kita. Meskipun pusat-pusat perbelanjaan modern kini membayangi dan menjadi ancaman.

Namun pasar tradisional sampai saat ini masih memiliki pesona tersendiri yang mampu menarik antusiasme masyarakat. Sekilas, jika dibandingkan dengan pasar modern, keberadaan pasar tradisional sangatlah kontras. Bau tidak sedap, tanah jeblok, dan suasana yang ricuh membuat kita enggan menginjakan kaki di pasar tradisional dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke pasar modern.

Tetapi keberadaan pasar tradisional tak tergantikan. Terkadang ada barang-barang yang sulit kita temukan di pasar modern, dan hany ada di pasa tradisional. Dengan demikian, pasar tradisional akan tetap hadir di tengah masyarakat dan mewarnai kehidupan perekonomian di Tasikmalaya ini.

Pembangunan pasar modern yang kini jumlahnya semakin banyak, membuat berbagai dampak negatif bagi para penjual di pasar tradisional. Seperti yang dituturkan oleh Bu Euis (43) pemilik salah satu toko makanan ringan di Pasar Pancasila Tasikmalaya, Minggu (10/5).

Ia menuturkan bahwa semenjak dibangunnya pasar-pasar modern di sekitar daerah Tasikmalaya pendapatan beliau menjadi berkurang sampai kurang lebih 50% dan beliau merasa sangat dirugikan dengan adanya pasar-pasar modern tersebut, di samping kerugian yang diakibatkan oleh krisis ekonomi.

Menurutnya banyak pelanggan yang sekarang lebih memilih belanja di supermarket ataupun plaza, daripada belanja di tokonya. Padahal, harga yang ditawarkan di tokonya tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan harga yang ditawarkan di supermarket, plaza, ataupun pasar-pasar modern lainnya. Walaupun demikian, Bu Euis tetap ingin mempertahankan usahanya tersebut yang sudah dijalaninya selama lebih dari sembilan tahun. Dan untuk mempertahankan ia berusaha memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada konsumen, supaya tidak kalah saing dengan pasar-pasr modern yang kini semakin banyak jumlahnya. Beliau juga menuturkan harapannya kepada kami untuk pemerintah Tasikmalaya supaya membantu para pedagang di pasar tradisional dalam memperbaiki fasilitas dan kenyamanan di Pasar Pancasila Tasikmalaya.

Fasilitas dan kenyamanan yang lebih baik ternyata menjadi salah satu alasan konsumen untuk lebih memilih pasar modern dibandingkan pasar tradisional sebagai tempat belanja. Seperti yang dituturkan oleh Bu Iis (40),” Ari perkawis harga mah sami di pasar sareng di supermatket ge, aya barang nu di pasar awis tapi di supermarket mirah, tapi aya oge anu di pasar mirah di supermarket awis. Namung ari masalah fasilitas sareng kenyamanan mah jelas langkung sae di supermarket.”

Selebihnya, ia menuturkan beliau lebih suka belanja sayuran dan segala jenis lauk pauk di pasar, dibandingkan dengan di supermarket karena Ibu Iis sudah mempunyai penjual sayur langganan yang biasa di datanginya setiap hari sehingga penjualnyapun memberi potongan harga dan harganya pun menjadi lebih murah. Tapi untuk belanja keperluan lainnya seperti sabun, kosmetik dll, ia lebih memilih ke supermarket karena harganya yang lebih murah dan kualitas barang yang lebih bagus.

 

Sinta Pratiwi (SMA Siliwangi), Ade Milawati (SMAN 6 Tasikmalaya), Rani Rahmadiyani (SMA Al- Muttaqin), Sri Lutfi F (MAN Manbaul Ulum)

*hunting news saat workshop di LSP STISIP Tasikmalaya (9-10 Mei 2009)

Post Serupa

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on google
Google+
Share on telegram
Telegram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *