Puisi untuk Mama Zeta

“Na.., na.., Vena” bundaku memanggil, setiap aku main terlalu lama di lapangan bersama teman-teman, tidak jauh dari rumah. Beliau selalu khawatir dengan keadaanku. Sejak masih balita sering sakit-sakitan, akibat kepalaku tidak jarang terbentur tembok dan jatuh dari kasur.

”Mandi dulu nak…, nanti bunda buatkan telor dadar dan goreng ayam” beliau merayuku agar segera ke WC.

Kurasakan kasih sayang nan manja dari bunda masih terasa hangat, terpintal dibalutan perangainya.

Bundaku selalu memberi kasih sayang, tak pernah membiarkanku terluka fisik ataupun psikis, dan tetangga sekitar rumah, juga mencintaiku, kecuali kakakku yang jarang bertemu.

Tidak sebulan kakak pamit ke luar negeri bersama laki-laki, bunda mengecupku terakhir kali ketika membangunkanku pagi hari, saat matahari masih malu-malu mendatangi kelambu kamar. Bunda, menitipkanku kepada alam. Tak pernah ada lagi telor dadar dan goreng ayam; selamat jalan bunda.

Hingga saat umur 4 tahun lebih, Mama Zeta, tetangga rumah, mengasuhku dengan penuh cinta dan kasih sayang, aku dianggap anak kandungnya. Kebetulan beliau belum memiliki anak sebagai pelipur laranya, walaupun sudah menikah dengan Pak Pinto selama lima tahun. Terang saja beliau mencurahkan kasih sayangnya kepadaku. Selama itu pula, orang pertama yang merayakan hari ulang tahunku adalah beliau, dengan membawakan kue tar bersama lilin kecil yang menerawang ruang gelap, bermaksud memberikan kejutan kepadaku.

”Duuuaaaaar!Selamat ulang tahun…selamat ulang tahun.. anakku sayang,” Mama Zeta memberi kejutan.
Balon pecah dan riuh nyanyian membawa senyumku ke bulan, sepulang pengajian dari mesjid. Walaupun sederhana, rasanya aku adalah pangeran kecil paling disayang, dimanja, di dunia. Setiap hari tinggal di rumah Mama Zeta, kadang pulang ke rumah, tetapi tidak lama kembali lagi ke rumah beliau. Karena kakak perempuanku satu-satunya sibuk dengan pekerjaan dan tidak pernah pulang dari luar negeri.

Tidak disadari ternyata saudara-saudara mama menyukai keberadaanku di rumah itu, termasuk Mbah Boneta, Ibu Mama Zeta. Makan, minum, mandi dan tidur selalu di rumah Mama, sehingga aku pun merasa di rumah sendiri.

Hampir satu tahun aku diasuh, Mama Zeta tidak memprioritaskan kasih sayangnya lagi, setelah beliau dikaruniai janin di rahimnya. Sebenarnya cemburu menggelayuti hati setiap beliau mengelus-elus perutnya, sebagai pertanda bahwa kasih sayangnya telah sirna untukku. Setelah itu, aku kembali lagi tinggal di rumah, karena takut mengganggu kebahagiaan mereka. Aku hidup tanpa siapa-siapa saat bunda meninggal, meskipun Mama Zeta sering membawaku untuk kembali kerumahnya.

Tidak lama kemudian, jabang bayi itu lahir disambut binar mata  keluarga mama, apa lagi Mbah Boneta, sangat sumringah nan bahagia saat menggendong cucunya itu. Terkadang, aku dipanggil Mama untuk sekedar menengok anaknya, ”Vena..kemari!cium adikmu ini, mmmmmuuuua…h” Katanya.

Zera adalah nama anak perempuannya. Sering, tak bisa sembunyikan jealousku pada Zera, hingga mama sering memelukku sambil menyuapi Zera. berlalulah waktu hingga aku sudah kelas satu SD. Namun, kini aku telah kehilangan Mama Zeta. Dan Aku, tinggal bersama Mbah Boneta.

Suatu hari Mama Zeta dipaksa pindah oleh suaminya, entah karena ada sesuatu hal, aku tidak begitu mengerti permasalahannya, namun aku pernah melihat mama di tampar Pak Pinto saat aku melewati jendela kamar. Aku menangis saat itu dipelukkan bantal guling hingga ayam menyalami pagiku. Aku tidak punya lagi persinggahan keluh, seperti almarhum bunda yang bisa menyuguhkan semua belaian kasih suci.

Semenjak mama Zeta ga ada, aku sering melamun merindukannya selain bunda yang sudah tiada. Satu-satunya wanita yang bisa menggantikan bunda adalah Mama Zeta. Sepi di temaram hati, terukirlah puisi pertamaku dalam hidup:

“Mama, dimanakah engkau?
Apakah aku masih anakmu?
Ataukah kau sudah tak mau menganggapku?
Aku kangen mama! aku rindu mama!

Kembalilah dekap aku
Peluklah sepiku, mama
Biarkan aku tidur di pangkuanmu
Meskipun zera menghalang-halangiku”.

***
Langit tak pernah tampak lazuardi di mataku, dari pagi hingga malam, bagiku jelaga dan lembayung, yang membuatku limbung hingga usiaku dua puluh tahun. Kini tak pernah merasakan lagi yang namanya kasih ataupun sayang, bagiku waktu adalah selibut.

Meski sadar tak memiliki keluarga yang membiayai hidup, aku tetap bertahan, ngamen di café, menghibur juragan-juragan, selepas pulang dari kantor yang jelas bukan karbitan.

Setiap hari, pasti aku menjadi pengemis malam dengan menghidangkan lagu damai untuk mereka yang bagiku memiliki dompet-dompet tebal.

Hingga suatu malam, saat nanar merayu kepalaku, aku istirahat sejenak setelah mempersembahkan lagu untuk pengunjung. Seperti biasa, aku pesan minum ke pelayan yang kurus kerontang, “Ner, minta air putih dan kopi kesukaanku”.

“Ok, komandan, berangkaaaat”, Nero menjawab dengan sedikit bercanda, setidaknya menghibur saat nanar menghujamku malam itu.
Nero adalah sahabat yang aku kenal lima tahun lalu, saat aku terdampar di Jakarta. Dialah yang menyelamatkanku, ketika jalan adalah sahabat setia; ngamen.

Tidak lama Nero pergi menyimpan pesananku di meja biasa, tempat istirahatku bila lelah, tiba-tiba gadis belia yang elok, anggun, dan sedap dipandang mata, menyerobot ketika aku hendak duduk di sana.
“Ngapain kamu ke sini?!”, perempuan itu menghujamku dengan kata satiris di depan umum.
Dengan lembut kujawab, “Mbak, ini tempat istirahatku, jika penat kerja, maksudku setelah menghibur pengunjung”.
“Oh, loe itu anak band yang suka hibur café sekeren ini!”, sindirnya.

Sontak kaget, aku balas cerewet perempuan itu, dengan sedikit membangkang, “Emangnya kenapa? Ga boleh ada di sini? Terserah gua donk, toh di sini ga minta-minta, cuma kerja!”.

Dengan sombongnya, perempuan itu mengguyur tubuhku dengan kopi yang masih lama dingin. “Byuur”, tepat ke dada, aku meringis kesakitan. Namun, saat aku mau membalas perbuatannya, dengan sigap Nero yang tiba-tiba di belakangku mengahadang agar tidak melawan perbuatan perempuan itu, malah ampun-ampunan minta maaf.

Malam itu, aku minta izin pulang lebih dulu, “Rai, aku pulang duluan”. “Ok, hati-hati di jalan”, Rai menenangkanku dari peristiwa tadi.

Perih di dada masih terasa, sisa kesombongan perempuan yang entah siapa. “Ukh.., andai dia laki-laki, pasti sudah kuhabisi”, gerutuku saat merebahkan tubuh di kostan seberang café.

Malam kembali lagi, mengecup keningku untuk mengerutkan pikiran di lagu-lagu yang temaram. Ya, hanya untuk tuan dan nyonya yang mapan. Entah, malam ini membuatku tak nyaman, menghidangkan lagu menghibur tuan.

“Plaaak”, seorang perempuan cantik ditampar lelaki yang sepertinya pacarnya, tepat di depan mataku yang berkabut asap cerutu.

Kuhampiri, lelaki itu mendorongku hingga meja ambruk. “Eh loe, jangan ikut campur urusan gue!” Lelaki itu marah. “Bukan gitu mas, dia kan perempuan, masa ditampar, ga gentle banget”, jawabku.

“Akh, gua tantang loe kalo gitu”, adrenalinnya memuncak. Tak sempat kujawab, bogem mentahnya sudah melayang di pipi kananku.

Tanpa basa-basi lagi, keributan menjadi hiburan klasik di café yang riuh karena arak. Setelah kesemerawutan berlangsung, lelaki itu terbirit-birit kabur ke luar, setelah kawan-kawanku termasuk Nero mengusir dengan pukulan-pukulan tanpa jeda.

Tanpa kusadari, perempuan itu, “Emh, kamu yang waktu itu mengguyur dadaku dengan kopi”, aku sedikit marah, ketika perempuan yang memberi tanda luka di dada adalah dia.

Namun, “Maaf, aku benar-benar minta maaf, saat itu aku kalut karena lelaki itu”, perempuan itu menggunting marahku dengan bahasa yang lebih santun, tidak seperti pertama bertemu.

Dan, “Aku Zera, pemilik saham café ini”, sembari tangannya menjulur. Aku terperangah terkejut, setelah mendengar pengakuannya. Betapa tidak, dia adalah Bos yang menggaji Pekerjaanku selama ini. Seandainya, waktu itu dipecat, bakal kiamat.

Karena, mencari pekerjaan di ibukota muskil didapat dengan waktu sekejap. Sontak aku jabat tangannya yang lembut. “Vena, bu, namaku Vena”, sedikit gagu, aku mengenalkan nama padanya.

Setelah pesta brandal malam itu, aku kembali ke kostan, namun ada yang membuat gusar perasaan, “Mungkinkah, dia.., mungkinkah?”. Aku tak begitu menggubris pe
rasaan bahwa Zera itu adalah puteri Mama Zeta.

Malam kembali lagi, mengecup keningku untuk mengerutkan pikiran di lagu-lagu yang temaram. Ya, hanya untuk tuan dan nyonya yang mapan. Entah, malam ini membuatku tak nyaman, hidangkan lagu menghibur tuan.

Setelah rentetan peristiwa pertama dan kedua, tentang Zera; Bosku. Semakin hari, membuat pikiran melayang selayak kunag-kunang menari dan berdendang.

Pun, Bosku, setiap hari setelah peristiwa-peristiwa itu sering datang menyaksikan performku di atas panggungnya. Berbeda dari seperti biasa, Bosku selalu mengajakku bicara dengan lemah lembut dan santun pula. Jika kuibaratkan, bahasanya laksana penyair bersajak di tengah laut, yang ditemani pendar semburat bulan.

Hari-hariku kini tak karuan, memikirkan bosku yang cantik menawan, “Mungkinkah ini keliru, ada perasaan minoru* di dada yang dilukainya; lecet. Tidak jarang, dia mengajakku jalan ke tempat yang bagiku tak kan mampu disinggahi untuk ukuran pengamen café; mahal.

Berbagi cerita, bercanda hingga tak sadar tangan tiba-tiba memintal hingga timbul sesuatu yang memekarkan hat ini. Namun, masih ada yang membuncah, ketika Zera adalah nama Bosku. Karena, Zera adalah nama yang langka dan hanya Mama Zeta yang memberikan nama tersebut sepanjang pengetahuan.

Suatu hari, ketika liburan ke pantai anyer, aku beranikan diri bertanya kepada Zera, “Zer, siapakah yang memberi nama indah untukmu?”.

Sementara detak jantung tak karuan berdegup, menanti jawaban yang kucari selama ini. “Mamaku”, jawabnya lirih.

Aku bertanya lagi tanpa koma, “Siapa Mamamu?”. “Mama Zeta”, jawabnya yang masih lirih pula.

Saat itu, bagiku riak tak menyeruak, tak ada gelombang, angin pun diam di tempat. Selibut yang mengganggu selama ini, dijawab oleh seseorang yang justru aku mulai menyayanginya; puteri Mama Zeta.

Hanya sekedar memastikan, aku memohon untuk diizinkan Zera, pergi ke rumahnya saat itu juga. Dan, Zera tidak sama sekali menolak. Dengan aura yang berbeda, Zera mengajakku ke rumahnya.

Tiba di rumahnya yang megah, Zera membawaku langsung ke kamar Mama Zeta. Tak kudapati sosoknya yang kuharapkan memeluk erat hadirku.
Namun, berkisahlah Zera tentang kejadian yang mengerikan hingga akhir cerita, “Mama Zeta dibunuh Papa Pinto karena cemburu buta”.
“Aku sekarang tinggal bersama Papa Lien, dia adalah suami kedua mama, karena Papa Pinto selalu menyakiti setiap mama melakukan kesalahan yang sebetulnya tidak penting, maka mama menikah dengan papa Lien yang dikenalnya di acara pameran Papa Pinto. Sejak pertemuan itu, mama menjalin komunikasi yang mengakibatkan Papa Pinto cemburu, dan…,”, Zera mengakhiri cerita, sambil menyandarkan kepalanya ke dadaku yang lecet karena dirinya. Bersamaan rinai matanya membasuhi bajuku yang tidak terlalu bagus, aku bacakan puisi yang kubuat untuk Mama Zeta,

“Mama, dimanakah engkau?
Apakah aku masih anakmu?
Ataukah kau sudah tak mau menganggapku?
Aku kangen mama! aku rindu mama!

Kembalilah dekap aku
Peluklah sepiku, mama
Biarkan aku tidur di pangkuanmu
Meskipun engkau lebih mencintai Zera”.

Zera limbung ketika kuakhiri sajak itu, dan, “kenapa ada namaku di puisimu”. Karena cintaNya, aku mencintai mama dan kamu. “Aku adalah anaknya juga, namun tidak sedarah”, tegasku. “Oh..,” Zera tak menyelesaikan kalimatnya, justru pelukan yang bicara bahwa cintanya adalah pelukan Mama Zeta. Aku bahagia, karena Tuhan menjawab pertanyaanku, mempertemakanku dengan Zera;Mama Zeta.

*****
Minoru* : Buah, berbuah.

Post Serupa

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on google
Google+
Share on telegram
Telegram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *