Rehabilitasi Jiwa ala Keris Nangtung

Peserta workshop LSP STISIP berburu berita

BERANGKAT dari rasa peduli terhadap orang-orang yang menderita sakit jiwa, Taufik dan Ahmad Rivai (36) beserta rekannya Dadang Heriadi (38) memutuskan untuk mendirikan sebuah panti rehabilitas khusus orang yang mempunyai kelainan jiwa. Diresmikan tanggal 22 juli 2008 yayasan yang dinamai Yayasan Keris Nangtung mulai menampung dan merehabilitasi orang-orang sakit jiwa.

Dibantu Mas Rofi (42), Dadang dan Taufik biasa melakukan dan perawatan terhadap pasien-pasien yang berada di Yayasan itu. Dengan cara dimandikan terlebih dahulu, mereka diberikan pengobatan dengan humut jambe (pucuk pinang) rutin setiap sebulan sekali. Selain itu, mereka mengikatkan kain hitam (seperti mengafani jenazah) jika pasien kambuh.

Di atas bangunan seluas 9 x 8 m2,  mereka dirawat berhimpitan dalam satu ruangan yang menampung pasien sekitar 28 pasien pada angkatan ketiga ini. Sedangkan pada angkatan pertama dan kedua masing-masing 35 dan 22 orang. Sebagian dari mereka yang telah sembuh, dipulangkan ke keluarganya masing-masing. Sementara yang tidak memiliki keluarga atau tempat tinggal, mereka di perbolehkan tetap tinggal disana untuk membantu yayasan itu.

 

Tempat penampungan pasien

Mereka yang menjadi pasien di yayasan ini kebanyakan dikarenakan NAPZA, musibah dan akibat tekanan ekonomi yang amat sangat. Dan sebagian besar dari mereka berasal dari luar daerah Tasikmalaya.

 

Dikarenakan minimnya biaya untuk membeli makanan, sempat ada pasien yang melarikan diri namun akhirnya hanya sebagian yang dapat dibawa kembali ke tempat Rehabilitasi. “Keinginan kami adalah menumbuhkan kembali jiwa sosial para generasi muda. Mungkin di antaranya melalui sumbangan para pelajar dari sekolah-sekolah di Tasikmalaya ini,” ujar Taufik saat diwawancarai.

“Sumbangan yang kami terima sampai saat ini hanyalah dari bantuan Pemerintah Kabupaten, Provinsi dan Instansi seperti Telkom serta dari pihak-pihak sekolah yang yang peduli nasib-nasib orang-orang ini. Sedangkan dari pemerintah kota, dan pemerinatah setempat sama sekali tidak merespon dan memperhatikan keadaan yayasan ini,” terang Dadang.

“Lucunya sudah berkali-kali meminta bantuan pada pemerintah kota, namun hasilnya tetap nihil. Padahal kami tinggal di wilayah kota tasik itu sendiri. Kami tidak mengemis, yang kami harapkan hanya kesadaran sosial dalam diri masyarakat Tasikmalaya bahwa yayasan ini milik kita semua,” sambung Rofi mengakhiri pembicaraan siang itu.

 

Rian Sutisna (STISIP), Rahma Sitaresmi (SMAN 1 MANONJAYA), Oom R (MA. MANBAUL ULUM), Astri Sulastri (SMA MUHAMMADIYAH)

Post Serupa

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on google
Google+
Share on telegram
Telegram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *