Sahabat..!!!!!!!

Suasana panas kota Depok makin terasa pada siang hari itu. Namun, itu semua tidak menjadi halangan untuk Mubina yang sudah membulatkan tekadnya melamar jadi mahasiswa di Universitas Indonesia. Minggu ini adalah hari penentuan segala kerja keras yang telah Mubina lakukan. Dia rela bolak-balik menempuh ribuan meter Tasik – Depok untuk mengejar target menjadi mahasiswa di UI ini.

“Waaahhhh…!!!! Alhamdulillah..!! Yes, nggak sia-sia kerja keras Gw selama ini..!!! Woooww… UI, I’m coming…!!!”, teriak Mubina saat melihat hasil pengumuman di Mading Kampus. Memang, emosi cowo bertinggi 177 cm ini kadang tak terkendali. Wajar memang, dia bahagia. Tidak semua siswa lulusan SMA bisa masuk Universitas yang udah terkenal seantero Asia Tenggara ini. Apalagi siswa dari SMA Swasta di Tasikmalaya pula. Lulusan SMA Al-Muttaqin ini berhasil menjadi satu-satunya delegasi sekolahnya untuk melaju ke UI tahun ini.

“Bina? Loe Mubina khan..? Woi, loe masih inget Gw nggak..?”, ujar seseorang agak mengganggu kebahagiaan Mubina. Namun rasa gangguan itu langsung menghilang saat melihat sosok di hadapannya tersebut.

“Albera..? Loe Albera khan..?”, Mubina balik bertanya.

“Iya, ini Gue Albera.. Loe masih inget rupanya.. “, ujar sosok cowo tinggi blasteran Arab-Indo itu. Cowo ini bernama Albera. Dia lahir di Makassar, tapi lama tinggal di Kalimantan Selatan. Mubina pernah bertemu dengan Albera saat keduanya dipilih menjadi Vocalist dan Drummer terbaik di salah satu kompetisi musik “JINGGLE  DOR..!!” bagi anak Putih Abu-abuers tahun 2006 silam. Albera sebenernya orang kaya, tapi kedua orang tuanya selalu bijaksana dalam memberinya uang. Supaya nggak manja.. Anak ini punya hobby menggeledah mayat binatang.

“Ngomong-ngomong, loe daftar disini? Keterima nggak..?”, tanya Albera membuka topik pembicaraan.

“Alhamdulillah banget, Gue keterima.. Loe gimana..?”, jawab Mubina dengan wajah yang cerah.

“Wah, kalo gitu mulai sekarang kita bakalan satu kampus.. Gw juga keterima di Fakultas Kedokteran di sini..”, timpal Albera nggak kalah ceria.

“Wah, kebetulan banget ya, kalo Gue sih di Fakultas Ekonomi.. BTW, gimana nasib temen-temen kita waktu kepilih jadi dream band tahun itu..? kalo nggak salah, mereka satu angkatan sama kita kan..?”, tanya Mubina ganti topik.

“Nggak tau juga.. Denger-denger sih Fauzi yang dari Jawa itu ikutan ngelamar disini juga.. Terus, Fallah dari Medan itu juga ngelamar kesini.. Moga aja mereka juga keterima..”, jawab Albera.

Tiba-tiba sebuah jitakan keras meluncur ke kepala mereka berdua. “Bah, kalian juga kesini rupanya..? Betul-betul suatu kebetulan ya kawan..? By The Way, kalian masih ingat tak sama awa’..? Tega betul kalau kalian tak ingat.. Hahaha…”, teriak seorang cowo kekar tepat di kedua gendang telinga mereka.
“Woii.. Loe Fallah khan..? Hebat..!! kita kok bisa reunian gini..?”,jawab Albera disertai dengan satu jitakan balasan.

“Iyaa, kebetulan banget Fall..!!”, jawab Mubina, dengan satu jitakan spesial juga.

“bah, kalau kalian mendengar kabar dariku, kalian tak akan percaya..!!! Fauzi yang dari Jawa itu, ikut mendaftar juga disini.. Dan beruntung, si kacamata itu berhasil masuk kesini juga..!! hahaha,, kita bisa reunian begini.. Dunia memang sempit..!!”, jelas Fallah panjang lebar. Cowo ini emang punya bakat menjadi seorang pengacara. Bicaranya tegas dan meyakinkan seolah “Saya benar, kamu yang salah”. Perawakannya yang tinggi dan kekar membuatnya terlihat lebih seperti preman daripada seorang mahasiswa. Dia orang yang paling nggak peduli sama fashion style-nya.

“Woi, kalian kesini juga toh..?  wah, kita bisa ketemu lagi ya.. Ngomong-ngomong, kalian tahu situs sekolah ini nggak?”, tanya seseorang tiba-tiba. Dia Fauzi, wong Jowo yang jago banget main gitar. Kalo masalah teknologi, tanya aja ke dia. Mulai dari teknologi informasi, teknologi elektronik, sampe teknologi musik, do’i pasti nyaho. Dia anaknya sopan, dan juga santun. Tapi nggak nyangka kalo dia pernah nge-hacking situs ternama di Indonesia. Tapi, gini-gini dia Muslim. So, dia ngembaliin situs itu seperti semula, setelah dihancurkan. Aneh ya?

“Fauzi..!! gila, kita reunian gini.. Elo ngikutin Gue ya..?”

“Enak aja, Gue tuh udah dapet satu bangku disini sejak Gue kelas IX.. So, mungkin elo yang ngikutin gue..”

“Iya deh, juara lomba pembuatan robot tingkat Internasional..!”

“heheh..”

Plooongg. Mubina merasa bersyukur telah dipertemukan dengan rekannya di kota yang asing baginya ini. Dia merasa Allah SWT sangat baik kepadanya. Dia berharap dapat selalu bersyukur pada Allah SWT.

Seminggu sudah semenjak peristiwa bersejarah itu terjadi. Seminggu juga Mubina berputar-putar mengelilingi Depok, mencari rumah KOS yang masih kosong. Namun, tampaknya nasib masih belum berpihak kepada Mubina. Rumah kos yang ada selalu penuh. Sekalinya ada yang kosong, hampir tak layak untuk ditinggali seorang Muslim. Tiba-tiba dia teringat nomor yang diberikan kawan-kawannya yang diberikan saat di UI dulu. Mereka satu-satunya orang yang dikenal Mubina di Depok. Maka, Mubina mencoba SMS ke nomor Albera.

Kriingg… kriiingg…

Sebuah SMS. Balasan dari Albera yang berisi :
“Sma Na..! Gw jg blm dpt rmah kos.. gni aja, Loe mau nggak kalo kta ngontrak rmah aja.. Kbtulan Gw dpt rmah yg ccok nih.. Temen-temen yg dari Msik Fest jga mau.. Loe k Margo Cty jam 12 bsa nggak? Yg laen jga mau ke sana.. ntar kta omongin msalah ini disana..”

Sejenak Mubina bersyukur. Lagi-lagi dia merasa sangat disayang oleh Allah SWT. Akhirnya, dia membalas :
“Iy, skrg jga Gw ksana.. Loe tungguin ya..!!”


Margo City, Depok, 12 Juli 2008.
Hari ini Mubina janjian sama Albera, Fallah, and Fauzi buat ketemu ngebahas masalah ngontrak rumah. Tak disangka budaya ngaret bangsa Indonesia yang sudah turun temurun tetap terasa walaupun janjian bersama teman-teman. Acara yang semula disetujui pukul 12.00 ini molor 1 jam. Albera yang datang pertama dibuaat mangkel karenanya.

“Gila, masa’ disuruh dateng jam 12, sampe jam segini belum dateng-dateng juga.. Sialan dasar..!”

Tak lama, datang Mubina dkk. “Albera..! Afwan ya, Gw telat.. Masalahnya, gue nggak tau Margo City itu dimana.. Tadi aja sampe nyasar 2 kali.. Afwan ya..”, ucap Mubina.

“ya, kalo elo Gue ngarti.. kan elo baru pertama kali ke Depok.. Nah, kalian berdua kemana dulu..? kan kita pernah janjian disinih…?”, balas Albera.

“heheh, Gue ketiduran.. Nah, si Fallah nungguin Gue jemput.. Sorry Bos..!”, jawab Fauzi sambil nyengir. Tawa yang menjengkelkan.

“Yaudah, kita langsung aja mulai rapat kita.. Gini, tante Gue nawarin ke kita buat ninggalin rumah kontrakannya.. Dia bilang, kalo kita nyewa di sana, kita bakal dapet diskon.. Pokoknya, harganya relatif murah lah.. Gimana? Mau nggak..?”, lanjut Albera.

“Kalo Gue sih mau-mau aja, asalkan murah..”

“Gue juga deh..!!”

“Oke, kalo gitu, mulai besok kita udah bisa nempatin rumah itu.. Kalian siapin barang-barang ya..!”

“Hah, cepet banget.. Tapi,, yaudah deh.. kita ketemuan disini lagi besok ya.. soalnya Gue nggak tau jalan ke rumah kontrakan itu..”, ujar Mubina.

“Sip, Gue jemput lo aja deh, biar gampang.. Sekarang Gue anterin elo pulang.. Emang rumah lo dimana..?”, ujar Albera.

“Selama ini sih Gue tinggal di hotel.. Hotel murah..”

“Ooo, di Hotel.. Kalo gitu, malem ini lo nginep di rumah Gue aja.. Sekarang kita ambil barang-barang lo..”
“OK deh.. Thanks ya..”

Esok harinya, saat matahari sudah menunjukkan badannya tepat di atas kepala, Fallah dkk. sudah berada di depan rumah kontrakan tersebut. Kali ini tidak ada yang terlambat. Setelah melewati beberapa gang di komplek UI, mereka akhirnya melihat sebuah rumah di depan mata. Rumah sederhana, tapi tampak begitu indah dan terawat. Rumah ber-cat putih tersebut di dempet oleh dua rumah kos putri. Di sebelah kanan ada cewe-cewe yang menamakan dirinya TENYOM. Kos tersebut berisi 6 orang cewe. Wajar, rumah tersebut lebih besar dari calon rumah kami. Di sebelah kanan, ada cewe-cewe yang menamakan diri mereka BeautyCentil. Mereka adalah 5 orang cewe yang rata-rata anak FISIP UI.
Calon rumah kami sendiri adalah
rumah yang kecil dan hanya memiliki 2 kamar tidur, 1 WC, dan 1 ruang tamu lengkap dengan sofa-nya. Kami ternyata harus tinggal berlima, bersama dengan salah seorang anak dari temannya Tante Albera. Namanya Aldy. Biasanya dipanggil Guile. Dia adalah siswa baru jurusan Sastra Inggris UI. Orangnya rapi, dan necis banget. Pake kacamata. Keahliannya merangkai kata-kata sehingga menjadi enak dibaca maupun didengar telinga. Puitis banget.

“Oke deh, sekarang loe bisa nempatin rumah ini.. Inget, walau loe keponakan yang punya rumah, loe harus tetep inget bayar yak..!”, kata penjaga rumah.

“Iya deh Bos, Gw ntar langsung bayar uang mukanya..”

“Yaudah, Gw balik dulu yak.. Assalamu’alaikum..”

“Wa’alaikumsalam..”

Akhirnya, mereka menempati rumah tersebut. Langkah pertama mereka di rumah baru tersebut adalah membuat struktur Organisasi Rumah dan membuat beberapa aturan untuk mereka kerjakan. Yang terpilih menjadi Ketua adalah Fauzi, sedangkan Sekretaris adalah Aldy, Bendaharanya Mubina. Fallah menjadi Bagian keamanan dan Albera menjadi pemilik saham sekaligus bagian pengobatan.

Mereka membuat beberapa aturan tentang rumah tersebut. Isinya adalah :
1.    Bagian Piket digilir satu malam sekali. Bagian Piket harus Ikhlas tidur di sofa.
2.    Mandi nggak boleh lebih dari 15 menit..! orang yang pertama mandi digilir.
3.    Motor diparkir di ruang tamu pada malam hari.
4.    Menjaga kerapihan dan ketentraman Rumah.

Tak terasa, setengah semester sudah Fauzi dkk. menjalani hidup bersama di Rumah yang diberi nama d’FLO itu. Selama itu, tak ada pertempuran sengit antar anggota Rumah. Paling hanya canda yang mereka buat. Tapi, hari ini ada yang membuat mereka harus mengadakan sidang pleno antar Pejabat Rumah. Malam ini, sudah ketiga kalinya Albera pulang sangat larut dan melupakan beberapa aturan Rumahnya tersebut, dengan mengatasnamakan uangnya. Ya, dia memang penghuni terkaya di Rumah tersebut. Ayahnya pejabat. Tapi, agaknya beliau tidak suka memanjakan anaknya, dengan tidak memberikan kehidupan yang bermewah-mewahan kepada Albera. Namun, tidak bagi Ibunya. Kadang-kadang ibunya memberi apa yang sebenarnya tidak Albera butuhkan. Sehingga diakembali menjadi malas dan manja.

Albera semakin dekat saja dengan Tony, seorang Mahasiswa yang terkenal sebagai seorang pecandu di Kampus tersebut. Kampus tidak berani mengeluarkannya karena Ayahnya adalah seorang Menteri Luar Negeri yang sangat kaya dan merupakan donatur yang paling disegani di UI. Mubina berprasangka, akhir-akhir ini Albera sering pulang telat karena sering dugem bersama Tony. Akhirnya, Fauzi memutuskan bahwa mereka harus berbicara dengan Albera.

“Ber, loe kok akhir-akhir ini sering melanggar aturan d’FLO sih?”, tanya Fauzi. “Gue sebagai ketua disini ngerasa nggak nyaman kalo Loe terus melanggar gitu.. Loe bisa nggak balik lagi kayak yang dulu, jadi eLo yang nggak suka ngelanggar peraturan?”, lanjutnya.

“Gitu ya? Sorry banget deh, Zi.. ntar Gue usahain buat nggak ngelanggar lagi.. Tapi, Loe harus inget, Gue itu pemegang saham terbesar disini..!”, jawab Albera.

“Loh,, kok loe jadi gitu? Kita juga bayar disini..! Macam mana pula kau jadi sombong begini, Bung..! Awa’ tak suka kau yang seperti ini..!”, sengit Fallah.

“Ber, semenjak Loe deket sama Tony, Gue ngerasa ada yang berubah dari Loe.. Loe jadi sombong Berr.. Kita nggak suka loe yang sombong gini..!”, tambah Aldy.

“Kalian boleh tinggal satu atap sama Gue..! tapi, jangan pernah ngatur hidup Gue..!! Ngerti..?”

“Tapi, Ber, kita sahabat Loe.. Kita mau yang terbaik buat Loe.. Kita nggak mau Loe kenapa-napa karena Loe deket sama berandalan itu..”, ucap Mubina.

“Udah lah..!!”

Sejurus kemudian Albera keluar Rumah sambil membanting pintu. Nampaknya dia sangat marah atas kejadian siang itu. Semua penghuni d’Flo hanya bisa terdiam melihatnya. Bagaimana-pun perubahan tidak akan datang sendiri. Dia akan datang bila ada usaha untuk mendatangkannya.


“Assalamu’alaikum.. Dek Aldy? Ini dek Aldy? Bisa bicara dengan Albera nak?”

“Wa’alaikumsalam.. Iya bu, betul ini Aldy.. Kebetulan Albera dari tadi malam belum pulang Bu.. Mungkin sedang kerja kelompok ya.. Maaf, saya berbicara dengan siapa ya?”

“Oh, begitu ya.. Nak Aldy, ini dari Ibunya Albera.. Ada sesuatu yang ingin ibu katakan Nak.. Tolong disampaikan kepada Albera jika kalian bertemu nanti..”

“Oh, Ibu.. ya, pasti akan saya sampaikan bu.. Pesannya bagaimana Bu..?”

“Begini, sebenarnya Ibu berat mengatakannya.. Ayah Albera… Dia.. d,d,d,.. Dia ditangkap Polisi Nak..”
“innalillahi wa inna ilaihi rajiun..! Kenapa bisa begitu Bu..?”

“Beliau terkena kasus Korupsi nak.. Semua harta kami ditahan.. semua hilang begitu saja.. hiks..”


“Apa…!!!!!!!!!!?”

Hentakan keras terdengar dari meja tamu yang kecil itu. Hentakan itu seolah menandakan bahwa rasa tak percaya masih belum hilang dari benak Albera.

“Loe bilang apa..?? Jangan macem-macem Loe..!!!”, Albera bertanya sambil mencengkram kerah baju Aldy.

“Gue serius Ber.. Gue turut berduka cita..”, jawab Aldy dengan raut wajah yang agak khawatir amarah temannya ini akan meledak.

“Loe jangan macem-macem..!! Kalo gue mau, gue bisa bunuh Loe sekarang juga..!!”, tanya Albera menunjukkan Iblis telah menguasainya.

“Astagfirullah.. Istighfar Berr..!! Demi Raja dari segala sesuatu yang ada di Bumi dan Langit-Nya, Gue bersumpah bahwa Ibu-loe nelpon ke sini dan bilang tentang hal itu ke gue..!!”, tegas Aldy sekali lagi. Dia tahu tak ada gunanya melawan Iblis dengan nafsu. Justru itu yang membuat kita kalah darinya.

“Nggakk…!!!! Nggak mungkin..!!! Nggak Mungkin Bokap Gue dipenjara…!!!!”

Semua mendadak gelap bagi Albera. Tak ada secercah harapan yang melintas di matanya. Tak mungkin rasanya melanjutkan kuliah di UI sana. Sementara orang-tuanya untuk menghidupi keluarga saja kekurangan. Tunggu..!!! rasanya, ada cahaya tertangkap oleh matanya. Tony..!!! Ya, dia dekat dengan Albera. Tentu saja dia bisa membantu. Orang-tuanya kan konglomerat hebat. Maka dengan segera Albera berangkat menuju rumah Tony.


“Apa maksud loe..?? Gue nggak mau berteman sama orang miskin..!!! So, pertemanan kita putus sampai disini aja ya.. Bye..”, ucap Tony tepat di muka Albera.

“Tunggu Ton..!! Gue pikir, kita temen…”

“iya, kita temen.. Tapi waktu elo kaya raya..!! sekarang loe melarat men..!!!”

“Sialan Loe..!!!!”

Bug..!!! Terjangan Albera tidak mengenai muka Tony. Malah teman-teman Tony balik mengeroyok Albera. Tapi itu tidak berlangsung lama. Tak lama kemudian, datang Mubina dkk. mereka membantu Albera lepas dari keroyokan Tony cs. Fallah yang terlalu bernafsu malah menendang Tony sampai pingsan.

“Kau harus dapat pelajaran dari awa..!!! Rasakan Tony..!!! Hiaa…!!!”

Bag.. Bugg..Bagg.. Bugg.. Empat tendangan Fallah sudah berhasil merobohkan Tony. Cowo ini memang sudah terlalu lemah karena terjerat kecanduan terhadap rokok, miras, dan mungkin narkoba. Bandingkan dengan Fallah yang selalu mengutamakan menu 4 sehat 5 sempurna. Apalagi, Fallah seorang atlit Tae Kwon Do. Kalah deh cucurut kayak Tony doank mah.. Akhirnya, Tony dkk kabur dari tempat tersebut. Untuk sementara, Albera aman dari sergapannya.

“Ber, loe gak apa-apa?”, tanya Aldy.

“iya, gue nggak apa-apa.. Thanks ya..”, balas Albera.

“Sama-sama.. Itulah gunanya temen..”

“…”

“Kenapa Berr..?”

“Temen-temen, maafin gue ya, selama ini gue banyak lupa sama loe.. Gue malah asyik bergaul sama Tony bedebah itu.. Gue baru nyadar arti sahabat itu kayak gimana.. Sorry ya..”, ucap Albera penuh kesungguhan.

“Udahlah Berr, itu emang tugas kita sebagai temen loe.. Sekarang
, mendingan kita pulang dan memikirkan solusi dari masalah ini..”, ucap Mubina.

“Thanks ya..”

“Sama-sama…”

Itulah Sahabat. Ada di saat duka. Tidak hanya saat suka.

Post Serupa

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on google
Google+
Share on telegram
Telegram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *