Sepercik Api, Titik Hujan

lihatlah taman di dadaku

bermain sepercik bunga api

dengan titik hujan.

 

Tiap hujan kualirkan matapena menuju hilir yang tak bernama muara. Mengambil tali layanglayang dan menarik langit lebih dekat. Agar gerimis lebih jadi hujan di telapak garis tangan. Memang dingin, memang aku yang mengikat dingin ini. Mencari sesudut ruang dengan tungku berjari api unggun. Kubawa dari sisi hujan, masih santun dan anggun. Hujan kali ini bermata curiga, menunggu  lagulagu gua yang terlahir semata karena waktu, yang sebagiannya kita sebut syurga karena rindu tak lagi berpura.

 

Dalam surau ini, hujan mengajak bergurau. Sekaratku jadi racau, yang kian kacau. Kelak akan ada hujan yang hangat buatmu seriang dulu. Mengajak cacing tanah, kumbang kembang, para jangkrik, dan belalang-belalang yang baru pulang dari ilalang bersama matahari tua. Saga senja, membawa raga, do’ado’a kehidupan. Mereka menari depan dada halaman yang kita tanam dengan cara  rahasia. Hingga sama lupa, kapan terakhir kali kau jadi pawang pengendali hujan dengan semerbak bunga yang wanginya ada baumu. Sepercik bunga api. Dari pinggir riak kecil mengalir…

 

 

Biar tubuhku menggigil

jika kelak aku menjelma tangkai…

 

Maret 2011

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *