Sepercik Asa

“Kenalkan namaku “Alfarabyan” cukup panggil aku ‘alfa’ ,’al’,’atau ‘byan” paparku pada teman-teman mahasiswa lain yang senasib dan sepenanggungan harus berpanas-panas ria di lapangan utama kampus.
“Tolong sebutkan nama lengkap!” suruh salah satu kakak tingkat yang ada di tengah lingkaran mahasiswa baru.
“Nama lengkapku …….” (aku ragu menyebutkan nama lengkapku) seumur hidupku, yang paling anti kulakukan adalah berbohong, kecuali satu hal yaitu aku tidak mau menyebutkan nama lengkapku. Toh menyembunyikan nama lengkapku bukan suatu kebohongan besar bukan? Aku takut kalau menyebutkan nama lengkapku bakalan terjadi kontroversi. Tepatnya aku harus mengadakan konfrensi pers untuk menjawab pertanyaan orang-orang yang mengetahui nama lengkapku. Sebegitu anehkah namaku?

“Heh!” “malah bengong!” “Ayo sebutkan nama lengkapmu!” hardik kakak tingkat yang berjas ungu itu, yang nanti namanya “Ogi.” Keringatku megucur deras dari dahiku, entah karena memang matahari terik sekali, serasa membakar ubun-ubunku, atau entah karena aku takut menyebutkan nama asliku.
“Nama lengkapku …..Alfarabyan Einstein”….ucapanku menggantung di udara. Kulihat reaksi teman-teman yang lain ada yang menahan tawa, ada yang matanya terbelalak, ada yang mengerutkan keningnya, ada yang halisnya terangkat sebelah, mungkin mereka merasa aneh mendengar namaku. Ada juga yang kakinya gemetaran, eh,,kok ga nyambung sih,,itu mah yang kebelet pipis. Yang paling menyebalkan adalah kulihat dari sudut mataku cowok yang bernama “Ogi” itu menahan tawa, berani-beraninya dia meremehkanku. Selanjutnya perkenalan diteruskan pada teman-teman yang lain.
Dah tau kan , kenapa aku malas menyebut nama lengkapku, faktanya tadi banyak orang yang menertawakanku, huh annoyed! Pulang dari kampus aku menyempatkan pulang ke rumah, aku ingin menggugat Ibuku, mengapa ia memberikanku nama yang aneh itu.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, ketika MOS di SMA dan SMP, jawaban Ibuku selalu sama.
“Apakah arti sebuah nama anakku?” kata Ibuku sok puitis.
“Bukankah begitu kata om Shakespare?! Tambahnya lagi. Melihat reaksiku yang memonyongkan bibir sepanjang 5 cm, tapi walaupun begitu aku tetap terlihat cantik kok! Ibuku menambahkan lagi,,
“Ibu berharap dengan memberikan nama itu, anak Ibu bisa secerdas Alfarabi dan Einstein di jamannya.” Papar Ibuku. Ya, karena ibuku begitu tergila-gila pada angka e=mc2nya Einstein, dan sangat kagum pada ilmuwan fisika islam Alfarabi sehingga terinspirasi untuk memberi nama anaknya dengan nama itu. Apakah Ibu tidak pernah memikirkan bagaimana reaksi teman-temanku mendengar nama anehku itu. Sempat terbersit dalam otakku untuk mengganti namaku dengan mengadakan syukuran bubur merah dan putih. Tapi aku mengurungkn niatku, karena membayangkan betapa ribetnya mengganti nama ke Catatan Sipil, dan namaku sudah terlanjur tercantum di ijazahku.
Hari pun berganti, hari-hari OSPEK yang bête nan boring selesai sudah. Jalanan terjal nan panjang pun membentang dihadapanku.Tak pernah terbersit dalam bayanganku sekalipun, untuk melnjutkan studi di sini, sebuah kampus daerah.Kufikir, dan menurut teman-temanku juga pantasnya aku kuliah di PTN favorit di kota-kota besar. Dulu aku sangat terobsesi untuk kuliah di jurusan fisika,karena memang aku benar-benar jatuh cinta pada pelajaran yang kebanyakan orang malah membencinya.Tapi karena suatu hal,sehingga hanya tinggal satu kesempatan buatku untuk mendapatkan beasiswa dari salah satu Departemen. Aku berharap setengah mati mendapatkan beasiswa itu, namun nasib berkata lain, aku tidak lolos seleksi dan akhirnya aku terdampar disini. Karena orang tuaku tidak mampu untuk menguliahkanku di luar kota .
Kini aku harus bergelut dengan biologi, karena mau tidak mau aku harus masuk jurusan ini, karena tidak adanya matematika, kimia, apalagi fisika. Bagai kerbau dicocok hidung, bagaikan dipaksa memakan makanan yang tidak kita suka, atu lebih parah lagi bagaikan harus menikah dengan orang yang tidak kita cintai. Berat bukan? Begitulah nasibku disini, aku harus berjuang menghafal susunan Taksonomi, tata nama Binomial Nomenklatur. Padahal menurutku lebih mudah menyebut tanaman dan hewan dengan nama yang kita kenal sehari-hari. Bahkan aku harus merem melek dengan tangan gemeteran memegang pisau bedah ketika praktek membedah kodok. Jujur aku a tega, soalnya katak itu, masih bernafas karena biusnya ga berjalan dengan baik. Kesimpulanku pelajaran Biologi adalah pelajaran paling TEGA sedunia, kalau tidak dibilang kejam atau sadis.
Ada rasa sakit di hati ini karena aku tidak bisa atau tepatnya belum bisa menggapai cita-citaku, atau minimal ada dijalan menggapai cita-citaku. Aku ingin jadi ilmuwan fisika, aku ingin seperti Alfarabi dan Einstein di jamannya, tapi mungkinkah aku menggapainya sedangkan aku di jurusan yang berbeda? Sejak kecil aku merasakan ada naluri yang membimbingku ke arah sana , setiap kali melihat roda mobil yang berputar, aku teringat kecepatan sudut sama dengan massa dikali jari-jari kuadrat. Melihat barang-barang disekelilingku, kipas angin, pipa air, kompor, kulkas, tv, dll semuanya mengingatkanku pada fenomena fisika. Dan juga aku selalu teringat ketika ada benda yang terjatuh, mengingatkanku pada gaya gravitasi dan gaya normal yang dialami benda itu. Akupun menyunggingkan senyum saat kuingatcerita apel jatuh yang menimpa kepala Issac Newton, sehingga sekarang kita mengenal Hukum Newton 1,2, dan 3. Gaya sama dengan massa dikali percepatan.
Setengah kaget ketika tersadar bahwa ada orang yang duduk dihadapanku, jaraknya kurang lebih 1,5 m dariku. Ini mesjid neng, jangan berbuat macam-macam kalau tidak mau ditegur orang. Jangan dekat-dekat kalau tidak mau disangka mojok. Mojok kok di mesjid? Kalau perlu jaraknya ditambah deh, 10 m gitu. Lho, kok ngelantur sih?
“Hobi kamu ngelamun ya?” Tanya orang yang ada dihadapanku itu, masih ingat “Ogi”? Yang kalau boleh kusebut dia “Orang Gila” karena berani-beraninya mempermalukanku didepan teman-teman.
“ga kok!” Jawabku datar.
“Lho, hampir setengah jam lho, kamu di situ senyam-senyum sendiri, aku tahu jasad kamu memang disitu, tapi fikiranmu melayang-layangkan?” kta si Ogi lagi sok tahu. Tapi memang tebakannya bener ding. Apa dia punya indra keenam ya? Ih,,serem.
“Diam berarti bener kan ?” katanya lagi. Aku pasrah aja deh, toh emang bener. Tapi aku ga suka dengan gayanya yang sok tahu itu.
“Ma kakak apa sih?” tanyaku to the point, padahal suer pas aku ngomong ‘kakak’ rasanya pengen muntah.
“Aku Cuma mau minta maaf soal waktu itu, aku ga bermaksud buat kamu malu di depan yang lain.” Suer. Paparnya. Aku hanya diam. Mempertimbangkan apakah aku memaafkannya atau tidak.
“Oh, soal itu. Lupain aja deh! “ kataku malas
“Bener nih dimaafin?” tanyanya lagi memastikan.
“Iya, udah aku maafin” timpalku dengan senyum yang dipaksakan. Padahal aku masih mangkel dengan kelakuannya itu. Pengen deh jambak rambutnya yang mengingatkanku pada si Ono eh, maksudnya Christian Sugiono.
Aku melirik jam ditanganku, 3 menit lagi aku harus sudah ada di kelas, soalnya ada kuliah pelajaran paling tega sedunia.
“Aku ke kelas dulu ya, ada kuliah nih” pamitku pada si Ogi.
***
Di kelas, pelajaran Biologi.
Kebetulan dosennya ga ada, katanya ada keluarganya yang meninggal, ya…sering-sering aja deh biar dosennya jarang masuk. Ups, kok jadi berdoa yang ga bener sih? Tapi sepertinya dosen ku yang satu ini ga pernah lupa buat ngasih tugas sama mahasiswanya. Tugas buat makalah tentang Biokimia, dikumpulkan minggu depan. Begitulah tugas darinya. Akupun memutuskan untuk berkunjung ke perpustakaan, untuk mencari literature yang kuperlukan. Aku melewati papan informasi, aku baru sadar kalau aku belum melihat nilaiku UTS kemarin di papan pengumuman. Alhamdulillah aku lulus di semua mata pelajaran, ya walaupun di biologi nilaiku pas-pasan. Aku liat nilai teman-temanku yang lain. Aneh,, ada beberapa temanku yang lulus ujian, nilai A lagi, padahal aku tahu kuliah mereka Senen Kemis, mau kuliah tinggal kuliah, malas kuliah ya ga usah. Begitu prinsip mereka. Aku jadi curiga, usaha apa yang mereka lakukan kok bisa dapat nilai segitu? Ke dukunkah, atau memberi si dosen uang panas?
Jauh di lubuk hatiku, geram melihat kenyataan seperti itu. Kesannya dengan uang kita bisa menyelesaikan semuanya. Berarti kasihan orang-orang yang ga mampu dong? Ah, tapi aku yakin di akhirat nanti pasti ada pengadilan yang bener-bener adil. Toh, Allah tau usahaku. Sabar…sabar…aku mengurut dada. Dengan kondisi batin yang seperti ini kutahu pasti ekspresi wajahku bakalan kelihatan, muram mungkin?! Duh…kok mataku panas sih, pengen nangis! Tapi kucoba menahan aliran sungai itu, jangan dulu keluar…nanti aja di ka
mar. Aku pun meraih helm dari motorku, ketika aku mengenakannya, tak sengaja aku bersitatap dengan si Ogi, kenapa sih dalam sehari aku harus bertemu dengannya dua kali? Melebihi dosisku minum vitamin saja.
Aku pun pulang dengan menaiki revoku, aku pergi dengan kecepatan sedang. Pengennya sih ngebut, tapi karena banku agak gundul, aku ga mau dong ngambil resiko, ntar malah tabrakan, trus mati konyol, ih…amit-amit deh! Aku melirik spionku, kok ada yang ngikutin sih? Akupun memutuskan tidak pulang ke rumah, tapi mampir ke resto sederhana tepatnya disebut warteg kali ya?! Biar aku tahu siapa yang ngikutin aku. Oh….ternyata si Orang Gila itu, Ogi lagi…Ogi lagi…
Dia menghampiriku, dan tanpa kusuruh duduk satu meja denganku.
“Al, sebelumnya aku minta maaf nih,Karena udah ngikutin kamu. Sebenernya aku pengen tahu, maksudnya aku peduli sama kamu. Sebagai ketua BEM di kampus, aku perhatiin kamu kayaknya 3 bulan terakhir ini kamu seperti tidak semangat kuliah. Kayaknya bukan kamu banget deh, tipe orang kayak kamu tuh biasanya aktif, supel, tapi akhir-akhir ini aku perhatiin kamu murung, dan suka menyendiri. Kenapa sih?
Sok perhatian banget sih? batinku dalam hati.
“Bentar,,,kamu, ketua BEM?” Tanya ku memastikan apa yang kudengar tidak salah.
“Kamu kemana aja sih, tiga bulan kuliah ga tau siapa ketua BEMnya? Gimana sih? Kamu terlalu sibuk dengan fikiranmu sendiri sih!” kata si Ogi.
Deg, kata-katanya memang benar aku memang sibuk dengan fikiranku sendiri. Sehingga potensiku terkubur.
“Oh,,,,maaf deh!”jawabku polos.
“Aku Cuma kecewa aja sama kenyataan, bahwa dengan uang bisa membutakan segalanya, temenku yng kuliahnya senen kemis kok bisa lulus ujian plus nilai A lagi! Aduku kesal.
“Oh,,,itu toh, kayaknya aku harus cek kebenarannya. Kalau benar mudah-mudahan bisa aku usut. Aku ga mau ada ketidak adilan di kampusku ini.” Kata si Ogi lebih serius.
“Trus tiga bulan terakhir, kenapa ?”
“Aku ga semangat kuliah,”
“Jujur, aku sama sekali ga suka Biologi, dan ternyata jalanku di sini, fakultas Biologi. Menyebalkan ga sih?” tanyaku retoris.
“Emang tadinya mau masuk apa?”Tanya si Ogi yang kayaknya penasaran
“Pengen banget masuk fisika, Cuma karena disini ga ada ya mau gimana lagi? Terpaksa deh, seperti seseorang yang dipaksa harus menikah dengan orang yang tidak kita cintai, setengah hati!
“Makannya aku ga suka kalau menyebutkan nama lengkapku, karena namaku itu mengingatkanku pada cita-cita ku, asaku menjadi ilmuwan fisika.” Paparku
“Al, menurutku ga penting deh kamu menikahi orang yang kamu cintai, tapi yang penting buat kamu sekarang adalah mencintai orang yang kamu nikahi. Sama saja dengan ga penting kamu melakukan apa yang kamu cintai, tapi yang penting buat kamu adalah mencintai apa yang sedang kamu lakukan. Emang sih, ngomong itu gampang, sulit merealisasikannya memang, tapi ini penting supaya kamu bisa menghadapi kenyataan yang menurut kamu ga sesuai dengan harapan kamu. Mungkin ini yang terbaik buatmu. Belum tentu yang menurut kamu baik, baik juga menurut yang Maha Kuasa.”
Aku pun tertunduk mendengar ceramah singkatnya si Ono, eh si Ogi. Bukan si Ogi “Orang Gila” lagi tapi si Ogi yang telah meruntuhkan idealismku yang menjulang tinggi. Kini, asa ku hilang, tapi hilang asa satu, tumbuh asa seribu.

Post Serupa

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on google
Google+
Share on telegram
Telegram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *