Siapkah Menghadapi Masa Depan?

DI penghujung 2008 kemarin, kita dihadapkan dua hari besar yang notabene merupakan agenda tahun baru. Tahun baru Islam, 1 Muharam  1430 H dan tahun  baru Masehi 1 Januari 2009. Berbagai cara dilakukan untuk memaknai kedua hari besar tersebut. Mulai dari pawai keliling, bakti social, hingga tamasya bersama keluarga besar.

Selain itu, tak sedikit orang yang sudah mulai merancang kehidupan selama setahun ke depan. Dengan harapan, kekurangan tahun lalu bisa diobati dan diperbaiki di tahun yang akan datang dan hal positifnya dipertahankan dengan bumbu variasi dan inovasi agar lebih baik lagi.

Namun, ada satu sisi yang menggelitik di sanubari dalam menghadapi dua tahun baru ini. Sebuah fakta yang belum jelas sebabnya. Yang sederhana namun jika pelbagai hipotesis terburuk terjadi akan sangat membahayakan.

Sebelumnya, mungkin teman-teman masih ingat tulisan saya setahun yang lalu, saat masih 1428 H, sesaat setelah lebaran tiba. Tulisan berjudul “Lebaran Panen Sastra” tersebut mengisahkan tentang betapa banyaknya sms (short message service-red) yang ‘bertebaran’ di angkasa. Keluar ponsel ini, masuk ponsel sana. Padahal intinya satu, meminta maaf. Akan tetapi, disampaikan dalam kemasan yang kreatif, meski hanya mengandalkan 26 huruf dan beberapa symbol. Baik dalam bentuk pantun, kata-kata puitis, bahasa Inggris, dan cara-cara kreatif lainnya.

Hal sebaliknya justru terjadi di tahun baru ini. Memang, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, para ‘pujangga dadakan’ itu menghilang entah ke mana. Hanya segelintir orang saja yang sempat berbagi atas semangat barunya dalam menghadapi kehidupan, waktu, dan tantangan baru dalam bentuk sms.

Yang lebih ironis lagi, pengirim ucapan “Selamat Tahun Baru Islam 1430 H” lebih minim daripada “Selamat Tahun Baru 2009”. Ada apa gerangan? Apakah ini memang suatu hal yang dianggap biasa ataukah ada ketidakpedulian terhadap cakrawala baru? Atau mungkin, adanya ketidaksiapan dalam menghadapi segala perubahan dan progresivitas?

Tak hanya lewat sms, jumlah pengirim ucapan tahun baru melalui email ataupun testimonial di dunia maya lainnya pun tak terlalu banyak, terutama tahun baru Islam. Padahal, bukankah kata yang kita ucap dan tulisan yang kita rangkai adalah doa? Setidaknya, mengungkapkan sebuah harapan dan diamini oleh orang lain. karena seingat saya, sebuah doa, semakin banyak yang mengamini, semakin mujarab dan cepat dikabul.

Saya takutkan, persentasi orang yang mempunyai rencana jelas ke depan lebih sedikit dibanding dengan orang-orang yang mempunyai prinsip ‘mengalir seperti air saja’. Belum jelas target dan tujuan hidupnya.

Sebagai generasi baru yang menginginkan banyak perbuahan, membuat rencana kehidupan merupakan salah satu cara jitu untuk memanage diri. Bagaimana bisa kita memimpin negeri jikalau mengatur diri sendiri saja belum  bisa? Akan menghancurkan jika tak segera disiasati.

Adalah impian yang harus dimiliki setiap insan yang menginginkan perubahan, bukanlah mimpi. Mimpi dan impian. Kata yang serupa namun mengandung makna yang jauh berbeda. Mimpi adalah sebuah ilusi dan halusinasi belaka tanpa aksi untuk mewujudkannya. Sedang impian adalah mimpi yang diniati, direncanakan, dan diusahakan untuk mewujudkannya.

Namun, meskipun tahun baru tanpa banyak pujangga, saya berharap dan yakin bahwa setiap orang pasti sudah mempunyai mimpi yang meloncat ke depan, dibarengi impian dan kerja keras. Bukan diam, menunggu kemungkinan terburuk itu datang.

Post Serupa

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on google
Google+
Share on telegram
Telegram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *