Untuk Kau yang Gemari Jari Lentikku!

Dia, seorang pria sederhana. Pria dengan jeans bolong berambut kucir ekor kuda. Tubuhnya tampak lesu tapi tatap matanya tajam menembus pori kulitku. Sesekali ia mendengus resah, rebah di atas tanah, atau melantur di sepanjang trotoar ibu kota. Dari caranya melihat alam sekitar, dapat ku pastikan bahwa ia titisan empat-lima; pejuang yang gemar melukis dongeng negeri ini di atas pasir, hobi onani dengan wacana, atau sekedar bersenggama dengan tatanan gerakan.

Sekali ia menatap dalam ke mataku. ” jari lentikmu hangat dan sakral” katanya. Entah aku tak begitu paham arti puisi para penyair. Namun yang ia bisikan agaknya bukan cinta….

Melainkan; respon primitif atas aku yang suka “mematikan pendengaran” atau atas aku yang suka “membangun tembok” atau atas aku yang suka “mencipta jarak emosi di sekian tahun hidupku yang tak normal”

Untukmu kawan, terimakasih aku tersanjung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *