Berperilaku Qur'ani

“Khuluquhu al-Qur’an”. Itulah sebuah ungkapan yang diucapkan oleh Siti Aisyah sebagai jawaban atas pertanyaan Sahabat Nabi saw.   tentang bagaimana akhlak Rasulullah.

Al-Qur’an merupakan merupakan pedoman bagi umat Islam. Fenomena yang terjadi saat ini -yang berupa kerusakan fisik dan psikis- merupakan salah satu akibat tidak berpegangnya umat Islam pada pedoman utamanya itu. Yang lebih parah lagi, nilai-nilai keislaman yang ada pada Al-Qur’an -seperti kebersihan- tidak terdapat pada masyarakat Islam, tetapi masyarakat selain Islam yang tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya.

Salah satu hal yang dapat dijadikan sebagai solusinya adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman yang sebenarnya, dibuktikan dalam perilaku setiap hari. Perilaku ini mencerminkan Nabi Muhammad sebagai teladan, karena Beliau mencontohkan seperti itu. Perilakunya cerminan Al-Qur’an.

Hati adalah pengendali setiap gerak manusia. Dengan demikian, Hatinya dulu harus Qur’ani. “Apabila segumpal daging tersebut baik, maka seluruh tubuh akan baik” (al-hadits). Apabila hatinya sudah Qur’ani, maka seluruh tubuh tunduk pada Qur’aninya hati. Begitulah analoginya.

Memang menjadikan hati qur’ani bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Dalam diri manusia sudah terdapat saingan (baca: musuh) yang selalu mengajak kepada keburukan. Maka, hal pertama yang harus dilakukan adalah memohon kepada Sang Mahasegalanya untuk memudahkan setiap langkah yang kita lakukan, sehingga tujuan kita tercapai. Setelah itu, barulah niat yang tulus kita ungkapkan dalam hati.

Apabila niat sudah mantap, langkah selanjutnya adalah membiasakan diri membaca Al-Qur’an, memahami dan menghafalnya. Dengan membaca Al-Qur’an, mulut ini akan terbiasa mengucapkan, mengeluarkan bunyi ayat Al-Qur’an, maka diikuti langsung oleh indra pendengaran sebagai sarana memasukkan kalam ilahi menuju otak untuk direspon dan disalurkan menuju jantung, dan dipompa ke seluruh tubuh.

Karena Al-Qur’an merupakan pedoman, maka alangkah baiknya, ketika yang menjadi bacaan harian itu dipahami arti dan didalami maknanya. Meskipun membaca Al-Qur’an itu dicatat sebagai ibadah di hadapan Allah, tetapi (menurut saya), kurang bermakna apabila membaca Al-Qur’an tiap hari, tetapi tidak berpengaruh terhadap perilaku, bahkan yang lebih parah lagi, akhlak yang dilakukan bertentangan dengan apa yang kita baca dalam Al-Qur’an. Maka, di sinilah pentingnya memahami arti dan mendalami makna Al-Qur’an.

Ketika membaca, memahami arti dan mendalami Al-Qur’an sudah menjadi rutinitas harian, maka rutinitas yang baik tersebut kita ikat dengan menyempatkan diri untuk menghafal ayat demi ayat.

Akal manusia memang lebih dari makhluk lainnya. Akan tetapi, karena mungkin dari pengaruh asupan makanan juga, apalagi dipengaruhi oleh usia, dan pengaruh banyaknya hal yang harus dipikirkan dengan perhatian penuh, apa yang kita baca pada pagi hari, sorenya sudah lupa. Untuk mengikis kelemahan ini, maka menyempatkan diri untuk menghafal Al-Qur’an adalah suatu hal yang perlu dikembangkan.

Menghafal Al-Qur’an tentu sangat berbeda dengan menghafal yang lain. Karena ini adalah sebuah tantangan, bisa juga dikatakan sebagai ujian. Biasanya, ketika kita mendengar kata “ujian”, yang terbayang itu adalah Ujian Nasional, Ujian Akhir Semester, Ujian (sidang) Skripsi, Tesis, Disertasi dan sebagainya. Dan sudah menjadi hal yang umum, apabila ada Ujian Nasional, maka ada kenaikan tingkatan, dari semester Ganjil masuk semester Genap, dari kelas satu, naik ke kelas dua, dari belum mendapat gelar, setelah ujian skripsi mendapat gelar sarjana; setelah ujian tesis, mendapat gelar magister; setelah ujian disertasi, mendapat gelar doktor; begitulah seterusnya.

Nah, begitu pun ujian dalam menghafal Al-Qur’an, tentu ada tingkatan yang lebih tinggi yang akan didapat. Agar kita termotivasi untuk terus menghafal Al-Qur’an, maka harus ditumbuhkan dalam diri, bahwa apabila kita lulus dalam ujian ini, derajat kita akan bertambah di sisi-Nya. Apabila Sang Pencipta telah meninggikan derajat kita, siapa pun tidak akan bisa menurunkannya. Sungguh suatu kebahagiaan yang tak ternilai, dan tentu saja tidak dapat kita ungkapkan dengan kata-kata apabila keberhasilan itu terwujud.

Bagi kebanyakan orang, yang namanya bahagia itu adalah banyaknya harta, tingginya kedudukan dan sebagainya. Mungkin (maaf), bagi yang kurang beruntung -yang tidak memiki kekuatan iman- menganggap bahwa sesuatu yang menjadikan ia bahagia adalah seperti orang lain, memiliki harta yang lebih, dalam pandangannya, mungkin kalau banyak harta, kebahagian ia raih.

Akan tetapi, ada sedikit yang kita lupakan. Ketika semua yang kita inginkan tercapai, harta yang kita dambakan ada di depan mata. “Bru di juru, bro di panto, ngalayah di tengah imah” –sebuah ungkapan babasan sunda yang sejak saya SD sudah saya kenal yang menggambarkan begitu banyak harta yang dimiliki– sangat cocok dilabelkan padanya, tetapi kebahagian yang ia dapatkan ternyata sebuah kebahagiaan semu. Ini menunjukkan bahwa, kebahagiaan seseorang tidak dapat kita lihat dari apa yang dia punya. Tidak sedikit orang yang kurang mampu, tetapi hatinya bahagia. Dan tidak sedikit pula orang yang kaya harta, hidupnya berakhir tragis (baca: bunuh diri). Inilah pentingnya kebahagiaan hati. Menjadi sebuah harapan bagi penghafal Al-Qur’an, tercapainya kebahagiaan hati.

Untuk menjadi seorang hafidz Al-Qur’an, tentu kita harus mempersiapkan strategi yang baik. Salah satu cara yang dapat ditempuh setelah memantapakn niat dan menumbuhkan motivasi dalam diri adalah menentukan waktu yang cocok. Dalam satu sumber –kalau tidak salah, hadits– mengatakan bahwa waktu yang paling cocok untuk menghafal adalah antara maghrib dan isya. Waktu sebelum tidur dapat kita gunakan untuk muraja’aah (mengulang) dan setelah tidur kita gunakan untuk menghafal yang baru, yang masih sulit. Tidak lupa untuk selalu mengulang apa yang sudah dihafal dengan sering bertadarus.

Setelah kita memiliki kebiasaan membaca, memahami dan mendalami makna dalam Al-Qur’an, kemudian menghafalnya, maka langkah selanjutnya adalah mempraktikannya dalam sendi-sendi kehidupan. Karena Al-Qur’an sudah mencakup berbagai aspek kehidupan manusia. Mudah-mudahan bermanfaat.

Miftah Farid Cjf

Baju Kopral

Post Serupa

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on google
Google+
Share on telegram
Telegram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *