CILOK

2 min read

Seorang pemuda berusia 25 tahun bernama Dana dengan wajah biasa saja, rambut ikal, dan kulit hitam. Dia duduk di depan rumahnya kebingungan karena tidak mempunyai pekerjaan tiba – tiba datang seorang kakek bernama Jayeng berusia 80 tahun duduk di sebelah pemuda tersebut.
“nak dari pada nganggur terus bingung cari pekerjaan, lebih baik dagang cilok keliling nanti kakek kasih modal uang sebesar 500rb dan sepeda” saran si kakek
“ baik kek saya coba untuk berdagang cilok keliling, nanti kalau aku sudah banyak uang aku ganti modalnya” jawab Dana
“kau jangan memikirkan itu, lebih baik kerja dulu yang bener soal balikin modal biar belakangan” sahut si kakek dengan nada pelan.
Hari pertama Dana mulai berdagang dengan sepeda pemberian si kakek, mengayuh sepeda tua dengan berisiknya suara rantai karatan,terik panas matahari menyinari dan keringat pun membasahi tubuhnya. Berkeliling kampung hingga ia sampai disebuah perempatan jalan. ada seorang anak kecil bertubuh mungil, berkepala botak menghampiri Dana.
” bang beli cilok dong 2rb dapat berapa?. Tanya si anak dengan wajah polos
“Dapat 3 biji dek.
“Loh koq sedikit?”.
“Kalau mau banyak belinya 100rb.
“Tapi aku kan Cuma punya uang 2rb.”
” Ya udah dapat tiga biji.”
“ Iya deh gak papa”.  Keluh si anak.
“Nih ciloknya tiga biji.”
“ Loh koq gak di kasih tusuk ciloknya, apa harus bayar juga tusuk ciloknya?.”
” Oh ya ini lupa tusuk ciloknya, ya gak bayarlah cuman tusuk cilok kok, nih abang kasih 2 tusuk.”
“Oh ya makasih bang”.
” Sama – sama dek”.
Akhirnya si anak pergi meninggalkan si tukang cilok. Dana pun kembali berdagang.
Hari pertama Dana dagang itu hanya mendapat 1 pelanggan saja karena dengan penampilan Dana dan cara berdagangnya yang tidak menarik membuat pelanggan tidak berminat untuk membeli, dan hanya mendapat uang 2rb pembelian si anak tadi. Akhirnya dia pulang ke rumah, setiba di rumah dia duduk di depan teras rumahnya. Dia bingung tidak mempunyai uang untuk balikin modal kepada si kakek dan untuk modal dagang. Dia termenung sambil memikirkan hal tersebut. Tiba –tiba ada sekumpulan warga datang dengan membawa polisi. Dana pun semakin bingung dan bertanya –tanya.
” Ada apa ini?” tanya Dana kebingungan.
”Benarkah anda pdangang cilok keliling yang berdagang di kampung?” jawab polisi
“ benar itu saya, memangnya kenapa?”
“anda saya tangkap karena berdagang cilok beracun yang menyebabkan seorang anak tewas”.
Dana pun kaget dan tidak bisa bicara apapun, karena begitu akhirnya si polisi pun menangkap Dana karena dengan melihat tingkah lakunya saja sudah terbukti bahwa dia itu bersalah.
Menjalani hidup di penjara membuat Dana semakin terpuruk, gelisah, depresi, dan hampir kehilangan akal.
“sebenarnya apa yang telah aku lakukan? “ Dana bertanya- tanya sambil menangis.
Hanya sebuah jeruji penjara yang menjadi saksi bisu kegelisahannya. Dinginnya penjara melengkapi kesendirian, kesepian, kesunyian, dan rasa takut. Hanya pasrah mungkin yang bisa dia lakukan.
Sepuluh hari hidup di penjara membuatnya terbiasa, membuat dia semakin rajin beribadah, berdoa, dan yang pasti dia sudah merasakan  kenyamanan di penjara
. “ ya Tuhan mungkin ini yang terbaik untukku mudah – mudahan aku bisa menjalani hidup dengan tenang disini dan aku yakin pasti indah pada waktunya” Dana berdoa.
Dua jam kemudian tiba – tiba datang dua orang tua mendekati sel penjara bersama satu orang polisi. Polisi mendekati sel penjara dan membuka sel penjara.
“anda saya bebaskan “. Kata polisi.
Dana bingung mendengar itu semua, rasa tidak percaya dan keraguanyang timbul dalam hati Dana bahwa polisi tersebut hanya bercanda.
“ pak kenapa aku dibebaskan, kan aku baru sepuluh hari di penjara?” tanya Dana kebingungan.
“kalau kau ingin tahu tanya saja sendiri kepada bapak dan ibu ini” Jawab polisi.
“ pak bu sebenarnya ada apa ini?” Tanya Dana kepada kedua orang tua tersebut.
“ sebenarnya anak bapak meninggal bukan karena keracunan, tetapi karena anak bapak memakan cilok yang enak bikinan anda,  tetapi karena ciloknya kurang akhirnya anak bapak memakan dengan bungkus plastik dan tusuk ciloknya, itu semua terjadi karena anak Bapak yang mempunyai gangguan mental. Untuk itu anda saya bebaskan dari tuduhan menggunakan racun pada dagangan anda, dan anda saya angkat menjadi anak saya, anda juga akan saya kasih modal untuk membuka usaha besar seperti restoran, atau rumah makan cilok.”
Dana pun terdiam bahagia mendengar itu semua, tangis bahagia Dana menghiasi sel penjara tersebut, spontan Dana memeluk bapak dan ibu tersebut, tetapi si polisi tidak dipeluk dikarenakan dia masih kesal dengan tuduhan tersebut.
Akhirnya dana pun membuka rumah makan cilok yang besar dan sukses. Dana melunasi janjinya kepada si kakek dengan mengembalikan uang modalnya sebesar 10jt dan membelikan motor ninja untuk menggantikan sepeda yang diberikan sikakek kepada Dana. Mereka pun bahagia menjalani hidupnya terutama si kakek dengan motornya yang tiap hari turing keliling Indonesia. Pasti itu semua indah pada waktunya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *