Sebuah Ode Sederharna

27 sec read

Dua puluh dua  berlari dari halaman sejarah

Berumahkan laut dan seikat bambu tajam.

Dengan kail arah pada raut sang pemanah.

Tanpa pejam.

 

Membakar akar rambut mengemasi sedari yang jadi

Sekamar kepala menjatuhkan air asin, menarik sisa.

Lengkap dengan busana hujan yang dibawa basah –di dalam.

Engkaukah..

Dengan pemancing tawa, penata halaman dari yang tersedia.

Tangkai perahu yang berdemaga di tepi lautan, bintang pemimpi

Segenggam nadi kata terus berdetak jadi padma tak bergelap.

 

Lelagu di dasar memarkirkan pecahan keringat di dahinya

Dua puluh dua sambil dengan wajah

Menggoreng kepiting, udang, dan kemerang-

Dekat dengan kapal kenanga,atau tentang segala yang riang.

Merebus kapas debu, asap jalanan, tangisan sembilu

Di usia baru. Aku mendengar kedatanganya  –bertubuh.

Pada dua puluh tiga…

 

Menelusuri lenganlengan angin, meniti detak dengan do’a

Mei 2011

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *