Si Anak Bertopi Kancil

Anak dengan baju hijau, bercelana dalam biru. Tingginya tidak lebih dari samping paha atasku. Membawa lubang tikus, dari dapurdapur petinggi hukum dan kesejahteraan para penguasa. Katanya, ia baru saja mencuri uang senilai tujuh ribu rupiah yang sudah hampir habis masa berlakunya. Padahal, ia hanya mencari sesuap nasi, atau sagu agar bapak ibu dan adiknya bisa bangun dari tidurnya yang panjang. Menahan rasa lapar.

 

Anak dengan baju hijau, bercelana dalam biru. Tingginya tidak lebih dari samping paha atasku. Bercerita tentang tebal dompet yang sempat ia temukan di bendungan dekat Masjid Al-Istiqlal. Hingga dalamnya hampir membuat matanya tenggelam, dibenam isi dombet yang tidak kurang hanya berisi kertaskertas struk pembelanjaan, tanggihan hutang, wesel,check giro, dan kartukartu yang ia tidak tahu. Dia kembali membuang dompet di dalam toilet yang tadi sudah dikencinginya sambil berkata “Aku masih lapar!”.

 

Anak dengan baju hijau, bercelana dalam biru. Tingginya tidak lebih dari samping paha atasku. Membawa dua batu dari pinggir Taman Ismail Marzuki, diketuk-ketuk barangkali ada yang akan keluar, mungkin uang untuk dimakan, suara untuk ditindih dalam baranya siang, atau batu itu sendiri yang digigit sampai rasa lapar berhenti di Bundaran HI. Sepanjang ia membekal batu, tidak ada uang atau sisa temuan. Sore itu, lagi-lagi polisi dan banyak sirine kematian lewat saat para petinggi lewat, sambil asyik di dalam menonton blue film dalam rapat ‘mengatas namakan kepentingan rakyat’, disaksikan kecoa yang ada didalam sepatu hitam gosong mereka. Dan dia tetap mendengarkan puisi jalanan dalam tiap ketukan batu.

 

Anak dengan baju hijau, bercelana dalam biru. Tingginya tidak lebih dari samping paha atasku. Mencari sisa banjir kemarin sore, atau pada malam ini. Sambil membawa plastik-plastik, sampah sisa gincu merah kupukupu malam, atau limbah dari koperkoper dengan kuci, hasil suap yang sudah membasi sampai ditangannya. Tapi anak kecil tersebut masih berjalan, mengiring mimpi ikuti lampulampu kemacetan. Dia terus berpikir tentang bapak dan ibu juga para adiknya yang masih tertidur belasan hari, lamanya.

 

Anak dengan baju hijau, bercelana dalam biru. Tingginya tidak lebih dari samping paha atasku…

Heran

Memahami

Betapa berlubang

Kehidupan, di Negara ini.

 

. April 2011

Post Serupa

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on google
Google+
Share on telegram
Telegram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *