Aku dan Jika Jadi

36 sec read

Aku dan jika saling bersembunyi. Berlari dan tak henti bertanyatanya, mengangkat tangan setinggi tiang menara bendera Negara. Berlari sambil bermimpi. Berlari dengan senandung rindu yang  sama kami taruh tanpa penutup panci. Berulangkali, aku berlari dan berpurapura menyembunyikan rasa amarah, rasa sesal, rasa yang membuatku karam tuk meredam. Keasingan rasa. Seperti aku dengan gaungan sang Srigala yang lapar karena dingin cuaca, karena sepi yang merenda dan rontok tiap lusin kemasannya. dan aku masih ada untuk jika.

 

Seperti ini  aku merangkulmu dalam ingatan yang cukup prematur untuk terhapal dan dangkal untuk terlupakan. Dengan mengenalmu dalam sunyi, aku menemukan jalanjalan menuju yang hilang dan terbagikan. Carut dari rampasan tawa tahanan zaman. Jika jadi aku mati hari lalu.

 

Diamdiam aku dan dia mencuri sebakul jika yang muram, dan beberapa liter airmata telah jadi dengan didih. Tenunan do’a sepanjang hikayat sawahsawah, berwajah dari kulit punggungmu. Lipatan harapan dari ruas garis setia ruku’ dijarijarimu dan aku.

 

Adamu dalam do’aku.

Sumbu panjang yang tertimbun beberapa kuburan.

Dari satu cahaya.

Lantas saja aku bisa di jika.

 

Maret 2011

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *