Jalan Setapak Menjawab Masa Depan

TIDAK naik kendaraan bermotor atau rakit sekalipun, hanya berjalan dengan menapakan kaki saja dari pelataran rumah menuju cita-cita yang sudah lama disimpan. Setiap langkah menambah keteguhan. Bahkan, semakin jauh jarak yang ditempuh semakin banyak pula mimpi baru, cita cita baru. Tak perlu khawatir untuk mencoba bermimpi lagi.

Subuh ketika hari masih gelap, mataharipu belum nampak, saya mencoba menggali ingatan yang sudah tertimbun lama di kepala. Semoga kisah ini menjadi sejarah unik, terlebih bisa menjelaskan pribadi saya yang belum mencapai utuh.

Memulai 

Tahun 1998, rupanya bukan hanya momentum reformasi di pemerintahan saja, di dalam diri, saya merasakan reformasi juga. Kali pertama merasakan berani untuk merasionalisasi cita-cita. Waktu itu saya duduk di kelas empat SD.

Kalau diceritakan lebih rinci, waktu itu saya sempat ditanya cita-cita oleh Ibu Ai (“A” berbunyi seperti ain dalam hurup Arab). Beliau wali kelas empat. Guru paling cantik di sekolahku, SDN Cintaratu I. pertanyaannya b8egini “cita-cita kamu apa?” Karena saya jawab lebih dulu daripada teman lain, sontak kujawab saja jadi kyai. “Di daerah kita kekurangan tukang ceramah” kujawab begitu pas ditanya alasannya. Bagiku itu pengalaman pertama saya berbicara cita-cita yang masuk akal.

Berikutnya di kelas lima, saya ditanya soal cita-cita lagi di kelas. Kali ini saya menjawab berbeda, sebab, saya lebih banyak berpikir dulu alasannya yang lebih masuk akal. Pertanyaannya seputar cita-cita, kujawab saja “saya ingin jadi ketua MPR, sebab ketua MPR itu kedudukan tertinggi di pemerintahan dan bisa menurunkan presiden”. Kebetulan sehari sebelumnya saya ikut lomba mata pelajaran PPKN (sekarang PKN) di kecamatan. Saya ingat betul jawabannya, kuduplikat saja. Tapi memang semakin rasional saja, soalnya di kampungku waktu itu, jalan lintas desa sudah lama tidak di renovasi. Kata ayah Soeharto turun, jadi gak ada yang ingat sama kampung. 

Lalu, setahun berikutnya sebelum saya lulus SD ditanya lagi tentang pertanyaan yang sama. Maklum, guruku di SD nampaknya sudah tau arti sebuah cita-cita. Saat itu yang bertanya wali kelas 6, pak Ismail. Jawabanku kali itu tak berbeda dengan yang setahun silam, hanya sedikit berubah, jawabanku semakin intelek kedengarannya. Sambil berteriak saya mengucapkannya “itulah masa depanku Pak!”. Teman-temanku banyak yang menjawab jadi dokter, pilot, pengusaha, tetapi nilai matematika mereka tak ada yang menyamaiku. Sedikit Percaya diri, saya 17 kali dapat juara satu di kelas dan tiga kali juara umum, itulah yang merangsang saya jadi PD, haha.

Obsesiku memang terus meningkat dan terus meningkat. Sempat menurun waktu SMP, tapi tak lama percaya diri lagi. Saat itu mulailah tumbuh kesadaran, saya harus menyusun langkah supaya saya dianggap berguna di sekolah. Maka ditulislah di buku album kenang-kenangan tentang cita-cita itu, saya ingin jadi ketua OSIS di SMA. Bukunya menyebar di tangan 300 orang lulusan Pondok Pesantren yang kudiami. Untunglah, di SMA sempat juga tercapai. Saya menjadi ketua OSIS juga.

Mengerti sedikit seputar dunia jurnalistik saya sempat mengubah lagi cita-cita. Wartawan, menjadi satu-satunya cita-cita. Sambil berencana “kalau lulus nanti saya akan mengambil kuliah komunikasi”.

Hampir gagal di tahun 2007 karena tak lulus seleksi di Universitas besar, saya merangkak mencari pengalaman setahun lamanya, bergabung dengan berbagai organisasi sambil sedikit magang di surat kabar harian daerah. Untunglah saat itu saya masih bisa makan dengan cukup, cukup enak, cukup banyak, kadang cukup sering tak makan juga. Kuanggap itu puasa syarat unuk memuluskan cita-cita.

Setelah merangkak setahun itu saya baru sadar, betapa tuhan itu maha adil dan selalu adil. Setahuku, Tuhan hanya mungkin menjawab salah satu dari tiga jawaban jika seorang 8hambanya berdoa. Pertama “ya”, kedua “belum”, dan ketiga “tidak”. Prihal doa saya untuk kuliah komunikasi, Tuhan memberi jawaban yang menyenangkan, “belum” katanya, harus menunggu setahun dulu.

Ohoo.. ternyata benar, setelah menunggu setahun, cita-cita untuk belajar komunikasi tercapai juga. Alhamdulillah.

Itulah serentetan kisah yang mengupgrade kepercayaanku pada tercapainya mimpi. Dalam bermimpi saya makin mengerti, manusia harus makin banyak dan sering bercita-cita. Semakin yakin pada cita cita, semakin terarah pula jalan yang akan kita lalui di depan.

Masa depan bisa dinentukan sendiri. Tak peduli mimpi itu setinggi langit, dapat setengahnya saja, mungkin ada di bulan. Tetapi kalau bercita-cita ke bulan, lima puluh persennya paling juga nyentuh puncak Himalaya. Tapi lumayan, daripada orang yang bermimpi setinggi bukit, hasilnya walaupun 70% Cuma sampai ujung pohon kelapa. Yang kasihan bagi yang tidak mau bermimpi. Tak dapat hasil, tak normal pula. Ia akan tergatung di tiang kehidupannya sendiri, tanpa tujuan, tanpa pencapain. Ya setidaknya denga cita-cita, walaupun mungkin gagal setidaknya hasil yang didapat tak begitu jauh dengan cita-cita. Itulah konsep saya tentang mimpi.

Tentang Konsep Diri

Hingga saat ini saya kadang tak mampu membedakan diri sendiri dengan orang lain oleh karena tidak mahir menunjukan identities pribadi. Selain itu, walaupun ada sesuatu yang terlihat menonjol, tak begitu berguna, sebab di tempat lain selalu saja ada orang yang lebih pandai, lebih cakap, lebih mahir, lebih dari kemampuan yang saya miliki. Maka tak hentinya saya membatin “apa beda saya dengan orang lain”, efeknya cukup menggangu, selama saya berpikir seperti itu, saya tak bisa merdeka, sulit berekspresi. Lain kata saya hanya menjadi konsumsi bahkan korban orang lain.

Untunglah, masalalu membantu menyembuhkan kepincanganku itu. Jika sempurna betul menilai apa yang sudah kukerjakan dulu, nampaknya ada sesuatu yang “lebih”. Banyak hal yang tidak bisa dilakukan orang lain. Biarpun ada, pola berpikirku menganggap akulah yang lebih. Saat berpikir seperti itu, barulah saya berhasil menunjukan identitas walau hanya sepotong.

Menuju Harkat Diri

Perkara inilah yang paling sulit diungkapkan. Masalahnya hanya satu: kurang percaya diri. Bukan hanya dikertas, di kehidupan sehari-hari juga sering merusak.

Tetapi saya punya cara jitu menghajar kuman satu ini. Cukup saya berbangga diri dengan cita-cita yang akan kuhampiri. Sedikit memuji diri, bersyukur, dan menjadikan pencapaian selama ini menjadi bukti prestasi, bahwa saya pernah hidup dan bisa bahagia.

Banyak orang yang tidak bisa memberi penghargaan pada prestasi dan pada dirinya. Mereka kadang menjengkelkan, hanya membuang kesempatan yang belum tentu orang lain dapat merasakannya. Untung saya tidak. Prinsip yang kudapat kugunakan untuk memaksimalkan kesempatan itu. Ah, sayaPD saja.

Tentang Prestasi Hari ini

Bisa dibilang, prestasi yang kudapat belakangan itu adalah yang kupikirkan hari itu.sayatidak merencanakan hari esok kecuali yang saya inginkan. Makanya banyak manfaat pula saya dapat. Untunglah, saya ditakdirkan sadar pada masa depan dan citra diri. Narsis dikit kadang perlu, menjadikan hidup penuh sensasi, bisa juga menjadi darah daging.

Hubungan kausalitas mungkin akan goyah, saya tak peduli lagi dengan hukum ini. Kalau sebab itu menimbulkan akibat, justru akibat itu adalah yang menjadikan adana sebab. Entahlah, yang penting masa depan berpengaruh buat hari ini, sekarang dan beberapa langkah kedepan. Puiih, hidupku menyenangkan.

Post Serupa

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on google
Google+
Share on telegram
Telegram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *