Jelaga Bintang

14 min read

Oleh : D. Dudu Abdul Rahman, S. Pd.

#1

Sedu sedan selalu berlirih ketika fajar menngecup shubuh, ”Ya Allah berilah Aku kekuatan untuk mengantarkan anak-anakku ke pintuMu”

Begitulah suara parau mengerang setiap lelap di titik nadir bunga mimpi.

Terkadang embun mata selalu merayu haru, jatuh, kemudian merembes membasahi kasur lusuh. Hal itu selalu menghiasi pagi Bintang bila ibunya menengadahkan tangan dan kepala pada-Nya.

Bintang adalah anak laki-laki dari Pak Muni, seorang pensiunan guru SD, bu Nura hanya buruh Usaha Kecil Masyarakat tetangga, sementara Tura adalah kakaknya yang menunggu panggilan kerja dari perusahaan. Rumah bilik bambu, tumbuh tanaman umbi dan ketela sebagai perindang kebun di belakang,  pemandangan sawah dan pegunungan bak lukisan anak-anak waktu SD, menambah khazanah kedamaian kalbu. Di gubuk kumuh itu, Bintang hanya membantu ibunya, setiap hari pulang sekolah, kegiatannya adalah mengaji, mengerjakan PR dan kegiatan-kegiatan lain yang membanggakan orangtua.

“Tang.. Bintang.., bantuin Ibu ambil suluh di kebun, ibu belum sempat nyari kayu untuk masak hari ini!” Perintah bu Nura.

Bergegaslah Bintang mengambilkan suluh sesuai suruhan ibunya. “Ini bu, disimpan di dapur” Bintang memberitahu.

Tidak lama kemudian kakaknya datang, “Assalamu’alaikum…”.

“Wa’alaikum salam” Sahut seisi rumah.

“Dari mana, kak?” Tanya Bintang.

“Biasa, latihan di studio musik teman”. Jawab Tura.

“Ooough…” Bintang mencoba mengerti maksud kakaknya.

Terdengar petikan nada yang asing ditelinga, karena jiwa apresiasi memang belum tumbuh di hati dan jiwa. Terlihat sesosok lelaki, memangku alat musik di atas paha, duduk berbangku bambu menghadap sawah.

”Oh..Ternyata kakak yang sedang menarikan jemari dan bernyanyi dengan gitarnya” Tengok Bintang.

Lalu,

”Hentikan, Kak Tura! Jangan main gitar! Itu adalah senandung syaitan dan haram pula hukumnya” Larang Bintang.

”Akh.. kamu, berani menceramahiku! Sana bantu ibu saja!” Tura marah dan tak menggubris.

Bintang memang belum toleran dengan pemahaman agama pada saat itu. Bila yang diterima haram maka dikatakan haram, jika yang diterima halal maka dia sampaikan halal, tanpa tahu sebab akibatnya.

Saat itu Bintang masih kelas 2 SMP, jika melihat orang yang bermain gitar benci dan tidak pernah ikut-ikutan berkumpul bersama mereka. Setahu dia saat itu adalah belajar dan belajar. Di kelas, Bintang dikenal sebagai siswa berprestasi. Rangkingnya berputar-putar saja di 3 besar.

’Tang, nanti sore belajar bersama yuk?” Ajak Doni, sahabat karibnya yang berbeda kelas.

”Emh.. besok sajalah Don, aku banyak PR nih” Jawab Bintang, bermaksud menolak dengan lembut.

Bintang memang memiliki waktu luang sedikit setiap hari, karena tugas di rumahnya banyak, terutama membantu ibunya, yang seperti biasa dia lakukan sehari-hari.

Mega di langit seolah memandangi hari begitu ceria, senja pun menyerupai bidadari memagari sore menambah gairah aktivitas.

”Bintang.. Kak Bintang..” teriak teman-temannya bergerombol.

”Ya.. ada apa teman-teman?” Bintang menyahut.

”Main Sepakbola yuk?” ajakan teman-temannya.

”Siap teman-teman! Tapi, setelah PRku selesai ya.. nanti nyusul ke lapangan dech” Bintang menjelaskan sembari meyakinkan teman-temannya bahwa dia akan ikut bermain.

”Ok dech kalau begitu, ditunggu ya!” sahut teman-temannya.

Setengah jam berlalu, mereka asyik bermain. Namun, dari tadi Bintang belum muncul-muncul tak kelihatan batang hidungnya.

”Teman-teman, kok Kak Bintang belum datang juga ya?!” Kenda mengingatkan.

Timpal Gito, sambil memerintahkan Kenda ”Coba kamu samperin lagi Ken!”

Kemudian Kenda berangkat naik sepedanya, ”hah.. hah.. hah..” Kenda mengayuh dengan hembusan nafas pendek, sisa mengejar bola di lapang.

Baru juga tiba di rumah Bintang, Dia melihat Bintang sedang mencuci piring di samping rumahnya di sumur kecil. Karena tidak tega, Akhirnya Kenda malah membantu Bintang menyelesaikan cucian piring.

”Ken, kenapa kamu tak berangkat lagi ke lapang? Nanti teman-teman marah lho!” Bintang mengingatkan. ”Kamu berniat mengajakku lagi ’kan?” Tegas Bintang.

”Sudah, ga apa-apa, aku ingin membantumu supaya cepat selesai. Kita berangkat bersama saja ke lapang” Kenda menenangkan hati sambil menyelesaikan sisa cucian.

Lalu, setelah selesai mencuci piring bersama, Kenda dan Bintang bergegas meninggalkan rumah, karena takut teman-temannya kecewa menunggu dari tadi.

#2

Hari, Minggu, Bulan dan tahun serta musim berlalu, sikap bersahaja keluarga sederhana itu tak berubah. Seperti yang lalu-lalu, mereka menjalani hidup sederhana saja.

Namun, ada yang menggundah gulana dalam pikiran Bintang, saat beranjak kelas 3 SMP. Mungkin karena proses hidup yang mulai meremaja. Bintang, mulai berpikir bahwa seni adalah anugerah yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk bersasmita dalam intuisi dibalut keindahan birama jiwa.

Otak kanan mulai menerima kesan-kesan estetis dari getaran nada yang bergumul dalam harmonisasi yang dihasilkan Gitar orange, neck hitam, stem putih dan fret 18, warisan kakaknya.

Mulai saat itu, Bintang jatuh hati pada alat musik berdawai enam, meskipun dia sadar membangkang prinsipnya dahulu. Namun, hal itu tidak menjadi jeda untuk mendalami keinginannya, karena dia sudah proporsional dalam memposisikan konteks ’haram’ yang pernah ia lontarkan ke kakaknya.

Bintang mulai merayu kawan-kawan kakaknya yang biasa nongkrong di warung Pak Tresna, di belakang rumah. Suatu hari Bintang disuruh ibunya belanja ke warung Pak Tresna, kebetulan di sana ada Mas Andre yang sedang memainkan gitar. Mas Andre adalah teman Tura, sering main ke rumah, kadang-kadang mereka memainkan gitar sama-sama, ngulik tepatnya.

”Mas Andre, minta diajarin dong..!” Pinta Bintang.

”Kapan?” Tanya Mas Andre yang memang miskin bicara.

”Biasanya, mas punya waktu luang kapan?” Bintang balik bertanya.

”Ya sudah, tiap sore saja datang ke rumah ya! Jangan lupa bawa gitar kakakmu itu!” Mas Andre bersedia mengajari.

”Ya, siap mas! Mulai besok aku akan ke rumahmu jam empat sore. Sebelumnya terimakasih ya, Assalamu’alaikum” Dengan girang, Bintang pamitan.

Setiap sore Bintang diajari mas Andre tentang chord-chord standar, kunci yang biasa digunakan oleh orang-orang dalam memainkan gitar. ”Brang.. breng.. brong.. brang.. breng.. brong” Begitulah nada yang keluar dari strumming permainan gitar Bintang satu minggu pertama di rumah Mas Andre.

”Duh.. jari kamu masih kaku, jangan setengah-setengah kalau pengen cepet bisa!” Keluh mas Andre.

”Ooouh.. gini sih mas, gitarku ’kan ’ga s’lalu ada di rumah, teman-teman kakak suka pinjem, jadi jarang latihan di rumah” Dalih Bintang.

Kemudian Mas Andre memberi solusi, ” Makanya, kalau ada gitar di rumah, manfaatkan sebaik-baiknya, banyakin senam jari agar tidak terlalu kaku!”

Hampir sebulan belajar gitar dari Mas Andre, Bintang mulai jenuh memainkan chord-chord standar yang diberikan tiap hari. Tapi, jarinya sudah lumayan bisa menguasai perpindahan chord-chord yang telah diberikan Mas Andre.

”Mas, minta diajarin lagu dong, buat selingan di rumah, ’kan jenuh ngapalin chord gitu-gitu aja!” Bintang memohon sambil mengeluh atas jenuhnya.

”oh.. iya. Karena kamu sudah bisa chord-chord, sini mas contohin mainin lagu!” Mas Andre memberikan reward atas keluhan Bintang.

”Wajahmu selalu terbayang dalam setiap angan
Yang tak pernah bisa hilang, walau sekejap
Ingin s’lalu dekat denganmu, enggan hati berpisah
Larut dalam dekapanmu, setiap saat, ooouh..

Oh, kasih janganlah pergi
Tetaplah kau s’lalu disini
Jangan biarkan diriku sendiri
Larut di dalam sepiiiiii yeeeeah

Kasih janganlah pergi
Tetaplah kau s’lalu disini…
Jangan biarkan diriku sendiri
Larut di dalam sepiiiiiii, hanyut di dalam sepiiiii
Ooooooh…. Ooooooh… Kasih jangan kau pergi”

Mas Andre memberikan lagu untuk dipelajari Bintang dari ciptaan Galang Rambu Anarki (Bunga Band). Kebetulan, Bintang sangat menyukai lagu tersebut, karena sentuhannya yang lembut.

Setelah itu, Bintang berhenti, karena Mas Andre berangkat ke Jakarta, kebetulan lamarannya diterima oleh suatu perusahaan.

Tapi sebelum berangkat, Mas Andre berpesan ”Tang, yang rajin belajar gitarnya ya! Banyakin ngulik lagu, atau kursus di Blues Studio, punya Mas Rama”.

Dan, pamitlah Mas Andre kepada Bintang, tidak lama peluk perpisahan mendekap, Bis sudah berada di depan. Lalu, ”Selamat tinggal Tang.. sampai ketemu lagi!” Teriak Mas Andre. Sebenarnya Bintang sangat kehilangan ’guru gitar’, jelas
dia sedih ditinggalkan Mas Andre. Namun, Bintang bertekad akan kursus di Blues Studio, sesuai saran Mas Andre.

” Do you have the time, To listen to me whine,
About nothing and everything all at once?
I am one of those,
Melodramatic fools
Neurotic to the bone no doubt about it ……………,
//////////////////////

She…
She screams in silence
a Sullen riot penitraiting through her mind
Waiting for a sign
To smash the silence with the brick of self-control…..,
//////////////////////”

Tak disadari setiap pagi sebelum berangkat sekolah, Bintang dicengkoki lagu-lagu terutama Basket Case dan She, dari Green Day, Band asal Amerika dengan genre melodic Chord, full distortion dan sedikit Punk Rock, oleh kakaknya.

Saat itu, semakin membuat otak kanan Bintang matang menerima jenis seni, yaitu musik. Pada akhirnya, Bintang sering membayangkan tentang kemegahan panggung konser, disambut riuh tepuk tangan penonton memuja.

Hal ini dialami oleh Bintang pada saat kelas 3 SMP, namun concern pada kewajiban sebagai pelajar, tidak dilupakan. Malah bisa dibilang, SMP adalah masa emas prestasi akademiknya.

Seiring waktu berjalan, EBTANAS atau UAS akan segera dilaksanakan di SMP N 1 Langit Kecamatan Jagad Raya Kota Ruang Angkasa, disana Bintang mengenyam pendidikan tingkat SMP.

Bukannya intensitas belajar meningkat, untuk menghadapi ujian, eh.. Bintang lebih memilih kursus gitar di Blues Studio ketimbang bimbingan belajar.

Suatu hari, tanpa sepengetahuan ibu-bapak, Bintang berangkat untuk mendaftarkan diri sebagai siswa di tempat kursus Blues Studio.

Tiba di Blues Studio, bertemulah Bintang dengan Mas Rama. Namun karena ragu, Bintang bertanya kepada salah seorang petugas yang sedang duduk di tempat pendaftaran sambil mengepulkan asap rokok dari mulutnya,

”Maaf mas, mau tanya, kalau Mas Rama itu yang mana ya? Kebetulan saya tetangga Mas Andre, dia menyuruh saya kursus di sini” Tanya Bintang sambil malu-malu, karena banyak siswa lain yang diantar ibu-bapaknya sambil menenteng alat musik sendiri.

Sementara, Bintang hanya membawa gitar accoustic butut warisan kakaknya.

”Oh, kamu Bintang, ya ya ya, saya Rama. Kebetulan Andre pernah bicara dengan saya, kalau ada kamu daftar, dia minta saya membimbing kamu langsung” Mas Rama menyambut dengan cengkrama hangat.

Di Blues Studio, pengajar yang bagus adalah Mas Rama. Makanya, banyak siswa yang membuat schedule dengan dia.

”Kalau begitu, silahkan kamu isi formulir dan membayar uang pendaftaran seratus ribu” Mas Rama menyambung, kemudian memberikan formulir.

Bintang memelas dalam hati, ”Duh, mana cukup uangku untuk daftar”.
Setelah selesai mengisi formulir, lalu Bintang memberikan formulir tadi. Kemudian,

”Maaf mas, aku bawa uang cuma lima puluh ribu, ini juga hasil tabungan selama dua bulan” Tegas Bintang.

”Ya sudah, ga apa-apa” Mas Rama mengambil uang Bintang serta formulir yang sudah diisi, sembari matanya menoleh kesana-kemari, agar tidak dilihat pendaftar-pendaftar lain.

Setelah panjang lebar mengobrol dan membuat jadwal latihan yang diputuskan setiap jum’at sore per minggu, Bintang kembali pulang.

Setiba di rumah, ibunya bertanya ”Dari mana saja kamu, Tang?”. ”Dari rumah teman, bu” Jawab Bintang.

”Kok lama sekali mainnya, tidak seperti biasa!” Tegas ibunya. ”Itu..emh..emh..” Bintang bingung menjawab.

”Kenapa?” Tanya ibunya.

Karena tidak tega berbohong kepada ibunya, Bintang berusaha jujur mengatakan ”Sebetulnya, aku daftar kursus di Blues Studio, karena ingin bisa main gitar yang baik bu..”.

”Duh.. Bintang.. Bintang.., kamu itu dari keluarga yang miskin, ibu tidak akan sanggup bayar bulanannya,mau jadi apa kamu nanti?! Yang bener saja sekolah, jangan mikirin yang lain!” Keluh ibunya.

”Bukan begitu sih bu.., Bintang sedang ingin belajar gitar saja” Bintang menambah penjelasan.

Kebetulan senja tiba-tiba tak menampakkan keelokkan di sore itu. Mungkin mendukung apa yang di keluhkan Ibu Nura. Dan Bintangpun bergegas ke kamar mandi, karena sebentar lagi kumandang adzan akan segera bersenandung.

Hari Jum’at selalu ditunggu Bintang setelah daftar di Blues Studio, karena dia tidak sabar dengan pembelajaran yang akan diberikan Mas Rama.

Tibalah Jum’at yang ditunggu-tunggu. Semangat untuk belajar terlihat dari aura paras Bintang yang cerah, bibirnya tak bisa berhenti untuk mesem-mesem sendirian. Bu Nura saja kadang-kadang mengelengkan kepala, bila melihat kelakuan bungsunya itu.

”Assalamu’alaikum” Bintang mengucapkan salam sembari membuka pintu Guitar Room, ternyata Mas Rama sudah menunggu dengan setia. ”Silahkan duduk, Tang!” Sambut Mas Andre.

”Kamu sudah bisa strumming dan plucking ’kan?” Tanya Mas Rama kepada Bintang yang jelas kebingungan dengan istilah tadi. Strumming dan plucking tuh, apa ya mas?” Karena bingung, Bintang balik bertanya.

”Hmm.. Strumming itu mengocok guitar, kalau plucking itu memetik” Jawab Mas Andre sembari menjelaskan.

Dengan serius, Bintang menyimak setiap penjelasan Mas Rama dalam pertemuan pertama.
Dan, yang dapat di bawa ke rumah hasil kursus hari pertama yaitu lick-lick A major dan minor Arpeggio.

Setiap hari, Bintang selalu mempelajari apa yang diberikan Mas rama. Biasanya, dilakukan setelah mengerjakan PR atau pulang dari pengajian. Tak pernah kata keluh keluar dari bibir tipisnya yang manis.

Berlanjut kepada pertemuan ke empat yang berarti pertemuan terakhir dalam sebulan, Bintang belajar memainkan gitar dengan serius di tempat kursus,

”Blues adalah salah satu genre skill gitar yang banyak dipelajar. Karena,akar dari segala aliran adalah sumbernya dari Blues” Jelas Mas Rama.

”Oh.. Ternyata Blues merupakan akar lick-lick melodi yang nantinya berkembang menjadi genre rock, pop, jazz, dsb” perangah Bintang saat baru mengetahui.

Hanya satu bulan Bintang kuat membayar tempat kursus, itu juga dengan menjual beras terlebih dahulu.

”Bu, sudah sebulan Bintang kursus tapi belum bayar uang bulanannya” Bintang mengeluh.

”Tuh.. ’kan sudah ibu bilang, kalau uang jajanmu tak ’kan cukup membayar uang bulanannya!” Sindiran ibunya.

Karena tak mampu membayar tempat kursus, akhirnya berhenti di tengah jalan. Namun, Bintang tak ingin ambisi memainkan skill blues yang menawan, gagal.

Setiap hari Bintang mengasah skill gitar yang pernah dipelajari di tempat kursus, tanpa lelah. Bintang mulai ingin menjadi gitaris yang handal, setelah Blues memberikan nyawa dalam intuisi musiknya.

Tanpa sadar ujian sekolah sudah di depan mata, tanpa bekal persiapan yang matang, dihadapi dengan tenang. Semua mata pelajaran dilewati tanpa beban, dan hasil ujianpun tidak terlalu buruk. Malah rangking yang di dapat masih termasuk 5 besar. Mungkin, karena otak masih segar menampung semua transformasi pelajaran dari guru, tidak disia-siakan oleh Bintang sebelum ujian dilaksanakan.

Namun, pada saat pembagian hasil NEM, nilai yang diraih masih kurang satu poin untuk masuk ke salah satu SMU favorit di kota. Bintang menerimanya walaupun sedikit kecewa, karena memang kurang mempersiapkan dengan matang.

Saat itu Bintang bingung, ”Duh, harus masuk ke SMU mana lagi ya?” gerutunya.

”Seandainya NEMku pas atau melebihi ketentuan SMU itu, aku pasti masuk” Khayalnya.

Karena Bintang belum menentukan pilihan kedua, untuk masuk ke SMU lain, dia tambah bingung karena takut tak masuk kemana-mana.

Dengan dorongan bapaknya, Bintang tetap bisa melanjutkan sekolah. Tidak lama beranjak dari kebingungan, bapaknya mendapatkan informasi pendaftaran di sekolah yang baru diresm
ikan. Kebetulan, menerima jumlah nilai NEM berapa pun.

”Tang, masuk saja ke SMU Taman Langit!” Saran Bapaknya. Setelah itu Bintang berangkat daftar diantar oleh bapaknya, dan alhamdulillah diterima. SMU N Taman Langit, disanalah Bintang mengenyam pendidikan SMU.

#3

SMU adalah masa yang penuh dengan percobaan liar dan perubahan sikap. Segala hal ingin dicoba tanpa menghiraukan akibatnya.

Perubahan tingkah laku mulai terasa saat lelah menghampiri jiwa, tentu masih mentah untuk dibentuk. Perangai Bintang berubah 360o, karena SMUN 1 Taman Langit adalah sekolah yang harus Bintang tempuh dengan duakali naik angkutan umum selama 1 jam, karena lokasinya jauh dari rumah.

Sering sekali terlambat, kesiangan dan di hukum karena jarang upacara bendera dan telat masuk kelas. Kebetulan SMU Taman Langit adalah sekolah yang baru diresmikan, belum ada kepala sekolah yang menjabat, serta baru satu angkatan yang ada.

Keadaannya masih terkesan bebas bagi anak-anak badung yang jarang masuk. Di sekolah inilah aku mulai merubah paradigma tentang pendidikan, aku mulai tidak menghiraukan prestasi sekolah karena yang aku cari kali ini hal-hal yang berhubungan dengan musik alias membentuk band dengan teman-teman.

”Allahuakbar, Allahuakbar…,” Adzan magrib berkumandang memanggil jiwa raga untuk bertekuk lutut di surau biasa.

Setelah sholat selesai, Bintang masih pergi ke pengajian muda-mudi.Setelah selesai pengajian, saudaranya memanggil dari belakang.

”Tang..tang..” Bintang menengok ke belakang.

Terengah-engah saudaranya menghampiri, ”Tang, kawanku yang suka nongkrong di pasar, sedang membentuk grup band” Saudaranya menjelaskan.

”Lalu?” Bintang ingin tahu kelanjutan cerita saudaranya. ”Ya, dia sedang mencari personil gitar satu lagi, saya cerita ke dia bahwa kamu juga main gitar” Sambung saudaranya.

Bintang merasa bangga ditawari menjadi personil band, kebetulan saat itu sedang ingin membentuk grup band. Dua hari kemudian, dipertemukanlah Bintang dengan teman saudaranya. Di tempat tongkrongan anak muda pusat kota.

Di tongkrongan mereka saling melontarkan pertanyaan. Tanpa panjang lebar, setelah membicarakan visi misi yang ditawarkan teman saudaranya, Bintang sangat tertarik untuk bergabung dengan konsep pembentukan band yang telah dipaparkan.

Awalnya, sesuai kesepakatan posisi Bintang sebagai gitar rhythm. Namun, berhubung pemain bass belum menguasi beat dan tempo drum, maka Bintang beralih posisi menjadi bassis dan pemain bass menggantikan posisinya.

Mulai saat itu, tercetuslah nama MIGAIL BAND yang beranggotakan Vieri (Lead Guitar), Ernes (Guitar Rhythm), Yosa (Drum) dan Bintang di Bass. Namun sayangnya, saat itu belum memiliki vokalis yang justru sangat vital sebagai Front Man di suatu grup band.

Hari terus berganti hingga dua minggu kemudian, baru mendapatkan vokalis yang bernama Siva, kebetulan dia orang Bekasi yang sedang melaksanakan PPL sekolah STMnya.

Semua mengenal Siva ketika nongkrong di pusat perbelanjaan kota, ngobrol kesana-kemari, akhirnya nyambung dan sepakat untuk menjadi vokalis Migail Band.

Dari saat itu, briefing pertama di rumah Vieri (Lead Guitar), untuk saling mengenal karakter masing-masing, mulailah dengan lagu Slank. Jiwa-jiwa mulai melebur bersatu dengan kumpulan notasi yang disenandungkan.

Hari mulai sore, mereka menuju pusat perbelanjaan kota, nongkrong seperti biasa. Bercanda-gurau mengenal satu sama lain, bercerita pengalaman masing-masing, semakin nyaman menyatukan hati dan rasa, agar dalam perjalanan semakin kokoh menjadi salah satu band indie yang dikenal, minimal di kota sendiri.

Minggu keempat di bulan pertama pembentukan grup band, barulah masuk studio, mencoba lagu karya sendiri yang sudah dikonsep sebelumnya.

’Taman Biru’ adalah lagu pertama yang diciptakan. Mereka percaya diri membawakannya. Setiap latihan lagu ini wajib dibawakan. karena waktu itu jenis musik yang lagi ’on fire’ dikalangan anak muda adalah musik yang bergenre Punk dan Underground, jauh sekali dengan jenis musik mereka yang lebih nge-Blues, semi energik dengan sentuhan fill-in melodi yang dapat menghempaskan jiwa dari combine strumming dan plucking gitar Vieri dan Bintang.

Bersama Migail Band, Bintang memberanikan diri mengikuti festival musik kesana-kemari. Hingga suatu hari dalam Festival Pelajar di ibu kota, menjadi juara pertama, walaupun tanpa dukungan orang tua.

Masa SMU, Bintang senang mengikuti acara seni di sekolah ataupun festival-festival musik bersama Migail Band.

Walaupun terbilang dari keturunan keluarga yang jarang harta, pergaulannya luas dan Bintang dikenal kawan-kawan sebagai guitaris otodidak yang hebat.

Kehebatannya, karena dia memiliki sifat ulet apabila ingin menguasai sesuatu, temasuk mengulik skill guitar. Bintang hanya belajar melalui fotokopi partiture atau tabelature Jimmy Hendrix, Yngwy Malmsteen,

Paul Gilbert, Steve Ray Vaughan, Steve Vai yang dimiliki dari teman-teman pergaulannya, walauun pernah semat mengenyam kursus di tempat Mas Rama.

Pernah juga dia mencuri Buku Tabelature karya WC. Handy (Bapak Blues Dunia), yang dicari-cari Bintang. Kebetulan teman sekelasnya di SMU mempunyai buku itu.

“Mi, pinjem tabelaturenya ya..?” Bintang meminta. “Jangan! Tidak boleh sama pengajar kursus saya!” Romi menimpal tegas.

“Seming..gu, tolonglah Mi!” Bintang memohon. “Ga boleh! Tetep ga bisa!” Geram Romi. “Kalau mau kamu kursus saja sama pelatih saya, gimana?” Tawar Romi.

Bintang mengeluh paksa, “Kan kamu tahu, rokok saja minta ke kamu.

” Ya sudah kalau begitu, untuk yang satu ini, kamu ga boleh pinjem tabelature saya, titik!” Romi mengakhiri percakapan.

Entah kenapa tiba-tiba Romi mendadak pelit setelah kursus gitar di tempat kursus terkenal di kota.

“Mungkin takut tersaingi?” Tanya Bintang dalam benak.. “Akh..sudahlah, lihat saja nanti.” Bintang tak acuh.

Bintang tertegun sejenak, memaknai penggalan kalimat Romi yang terakhir. Desing peluru ‘kata’ romi bersarang di hatinya. Kemudian terbersitlah niat bahwa suatu hari Bintang akan ‘mencuri’ buku Romi.

Namun, Bintang tak sejahat itu, “setelah bisa, baru akan aku kembalikan” Niat dalam hatinya.

Alasan Bintang mencuri, karena Romi pelit tidak mau membagikan ilmu guitarnya. Namun setelah dikuasai, Bintang mengembalikannya kemudian meminta maaf.

#4

Baru sebulan menjadi alumni, hobinya tersendat-sendat dicurahkan, karena teman-teman pergi melanjutkan kuliah ke luar kota.

Sementara dia mengalami keguncangan jiwa akibat terlalu bebas bergaul masa SMU, Tembakau ‘Aceh’ atau ‘Jamaika’ yang menghancurkan kecerdasan Bintang dalam akademik.

Setiap hari menjadi anak yang tidak seperti dulu lagi, sering membantah, tidak menurut dan jarang membantu ibunya.

Berdiam diri menjemput hari ke minggu lalu ke bulan, tak ubahnya pemalas kumal tidak punya pekerjaan. Pengangguran tepatnya, hal itu berjalan pasca SMU karam.

Siang dijadikan malam dan malam dijadikan siang, pola terbalik menghiasi hidup ‘malam-siang ‘. Kebuntuan memagari hari-harinya.

Berselibut jiwa Bintang dalam peraduan, “Kemana Bintang pergi? Berjalan? Menuju? dan mencari? Ukh… Bingung sekali!”.

Tubuhnya hanya bersasmita menunjukkan ketidak berdayaan diri menjalani hidup.

Suara parau dari balik dapur kumuh terdengar “bangun Nak! Bapakmu sudah qomat di surau, makmumin sana!” ibunya membangunkan.

Kemudian, Bintang menuruti titah dari ibunya, untuk memenuhi panggilan Tuhan.

Tibalah Bintang di surau dengan disambut sarkasme bapaknya, “Sholat subuh nanti saja, saat Matahari di atas kepalamu!” Bapaknya marah karena ketika Bintang datang, Pak Muni baru selesai wirid.

Begit
ulah seorang bapak pensiunan guru, selalu tegas mendidik anaknya. Termasuk keinginannya, agar Bintang meneruskan jejaknya sebagai guru untuk terlebih dahulu melanjutkan ke perguruan tinggi jurusan pendidikan.

Setahun berlalu, Bintang mulai menata kembali kewajaran hidup.

“Tang, kalau kamu tidak mau menurut sama bapak, silahkan kamu hengkang dari rumah ini!” Ultimatume bapaknya.

Terlarut jiwa Bintang dalam kebimbangan setelah diancam bapaknya. Setelah memikirkan perkataan bapaknya, Dia menurut untuk melanjutkan kuliah ke salah satu PTN jurusan pendidikan.

Dengan tes yang ketat, Bintang terdaftar dalam pengumuman hasil tes alias masuk seleksi di PTN tersebut.

Bintang juga tidak asal sebelum tes dilaksanakan, dia membuka kembali buku-buku tentang pengetahuan dan pendidikan. Alasannya, dia ingin membuktikan bahwa dirinya tidak segoblog masa SMU.

Mulailah Bintang masuk kuliah di hari pertama, namun kegundahannya sangat mengganggu jiwanya. Dia tidak menikmati perkuliahan, dengan alasan tidak sesuai dengan minatnya yaitu menjadi guru, kemudian dengan aturan-aturan yang ketat; harus memakai celana katun, sikap sopan, baju dimasukkan ke celana dan memakai ikat pinggang. “Akh.. Ribet amat” gerutu dan kesal menggerogoti hatinya.

Dia mencoba sabar untuk terus mengikuti perkuliahan. Namun, beban yang dia bayangkan untuk menjadi seorang guru sangat berat.

Dalam fikirannya, “Aku harus mendidik anak bangsa, sementara Aku.., waduh Aku takut tidak bisa memberikan tauladan”.

Begitulah fikiran-fikiran menjelang semester tiga selesai. Kemudian Bintang tidak tahan ingin keluar dari PTN tersebut.

Lalu dia mencurahkan kegelisahan, pada ibunya.

“ Bu, aku tidak tahan kuliah di PTN itu, karena nantinya aku harus menjadi guru.
Sementara dengan sikapku yang seperti ini.., perangaiku seperti ini.., aku takut salah mengajarkan sesuatu yang tidak baik nantinya”. Keluh Bintang kepada Ibunya.

Nasihat sederhana terlontar dari mulut yang sudah lembek dibalut wajah berkulit keriput, “Nak orang lain saja bisa, kenapa Bintang ‘ngga?”.

Dari nasihat ibunya, Bintang kembali kuliah seperti biasa. Hingga semester terakhir dia jalani dengan tersendat-sendat atas ketakutan bahwa dia tidak bisa menjalankan apa yang dinasihatkan Ki Hajar Dewantoro, “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso dan Tut Wuri Handayani”. Karena ketiga nasihat itulah bintang semakin paranoid.

Berlalulah waktu masa kuliah. Pasca sarjana dia menjadi guru honorer selama tiga tahun. Di samping itu, terkadang teman-temannya, mengajak nge-jam (nge-band tanpa komitmen) di acara-acara yang lumayan menghasilkan uang untuk seminggu.

Selama menjadi guru honorer, bintang banyak belajar tentang adab, tatakrama guru, bicara yang baik dan benar, melayani siswa dengan hati, dan hal-hal lain yang membuat dirinya berevolusi kembali menjadi Bintang seperti masa SMP.

Selama menjadi guru honorer pula tidak berjalan dengan mudah, banyak bersinggungan dengan kepala sekolah, karena kegiatan Bintang di luar jam mengajar yaitu nge-jam alias mencari tambahan uang untuk bertahan hidup, dirasakan kepala sekolah mengganggu jadwal mengajar di sekolah.

Memang, gaji guru honorer sangat tidak layak pada kenyataannya. Pemerintah memang tega terhada pioneer pendidikan yang bisa menjaga peradaban bangsa.

Suatu hari Bintang mengikuti tes CPNS, keinginannya untuk masuk sangat diidamkan oleh dirinya dan keluarga. Dia mencoba daftar ke POS terdekat untuk menjadi salah satu peserta tes. Sebelumnya, seperti diri Bintang yang asli, tak pernah dirinya tanpa persiapan untuk menghadapi sesuatu.

Berlangsunglah tes CPNS yang ditungu-tunggu, dengan tenang Bintang menjawab soal satu persatu dengan segala daya fikirnya.

“Teng.. teng.. teng..” Waktu tespun telah habis. Bintang pulang dengan hati berharap agar dalam pengumuman namanya terpampang alias masuk seleksi dan menjadi salah satu CPNS yang diangkat.

Seminggu sudah dilewati, hasil pengumuman CPNS membuat malam-malam Bintang tak melelapkan matanya dalam tidur.

“Tok tok.. tok ok” Ketuk pintu mengganggu Sholat Shubuh Bintang pagi itu. “Assalamu’alaikum…” Dari Balik pintu berucap salam. “Wa’alaikum salam..” sahut Bintang.

Pintupun dibuka dan, “ Deub..” ternyata pamannya, langsung memeluk Bintang yang belum siap menyambut. “Ada Apa, Mang?” Tanya Bintang. “Selamat, selamat, Tang” Tiba-tiba tangan pamannya langsung menjabat tangan Bintang. ‘Kau, masuk CPNS tahun ini. Mang, tadi baca di koran”. Jelas Pamannya.

Jatuhlah ribuan tetes air mata Bintang saat itu, dirinya tak percaya telah dipercaya terutama oleh Tuhan yang menakdirkan dirinya menjadi seorang guru. Berbagai macam masa lalu yang buruk membayangi fikiran, serta menghantui Bintang dalam menjalankan tugas menjadi guru.

Sontak ibu bapaknya memeluk Bintang yang sedang tersimpuh rimpuh atas kabar bahagia dari amannya. Setiap hari menunggu SK, hati Bintang selalu bergetar bk badai menghempaskan segala yang ada.

Kalimat yang selalu diucapkan menyambut SK adalah ‘Alhamdulillah’, setahu dia cara bersyukur yang paling sederhana adalah dengan mengucapkan tahmid tersebut.

Dalam benak dan tekad Bintang sekarang adalah bersyukur dengan sesungguhnya; melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Karena, dengan turunnya SK, bukanlah gaji yang dia fikirkan.

Tugas yang diemban tidak mudah dan bukan hadiah, tetapi tanggung jawab yang lebih membumi meyambut di depan mata.

Sesuai dengan Tujuan Nasional di negaranya, membentuk siswa menjadi warga negara yang; Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

—-2009—-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *