Ketika Cinta Tak Mewaktu

Oleh Afrilia Utami

Pada saat itu mempelai wanita memberi isyarat pada seorang gadis yang mendekat. Ia berjalan sambil memaksakan kelembutan dan kehalusan mata hadirin. Gadis yang dipanggil itu datang merapatkan dua matanya pada isyarat pengantin.

katakanlah padanya ia mengalami penderitaan yang buta, ia binasa ingin memandang cahaya matamu, ia tak lagi mendengar hanya ingin ucapanmu. Cepatlah pergi ke sana dan berdo’alah sepenuh hati demi aku. Mintalah atas nama cinta. tak perlu takuti pedang-pedang kilau yang tumpul di tubuhmu. Kau hanya perlu sebuah penyumbat telinga. Tak sepatah kehausan akan menjadi sungai darah untukmu. Cepatlah .. berlari …!  

***

Malam terus merambat, ia sudah terlalu meminum banyak arak di jalanan. Hingga mabuk kebingungan.  Tubuh gadis itu merapat pada tanah merah, sebuah batu besar memandang dosa. Hatinya di hadapan rembulan. Jiwa kita sejak kecil ternyata masih tertidur mengakui sebuah usapan khilaf. Sementara gadis itu bingung dan gundah tanpa henti, harus di bawa kemana pesan jiwa ini. Di mata penjaga malam, gadis ini hanyalah sebuah mahkluk yang lemah. Tetapi ada sebuah cahaya pada mata jiwanya. Tidak  satu pun bintang yang menindih kilaunya, yang ada Gadis itu tersenyum dalam ringis, dari matanya sumber air yang mengalir basahi tanah merah . Namun tak jadi lumpur, rerumput hijau tumbuh dan entah mengapa dari rerumput tersebut ada sungai titisan embun malam. Gadis itu mencoba menggambar sebuah kunci pada sungai ciptaannya. Lalu gadis itu terbenam mengenggam sebuah nyala yang dipinjamkan purnama malam.

Seorang lelaki dengan kuda hitam, mengangkat gadis itu dari keterpurukannya yang terbaring seolah mati di atas tanah. Bekas-bekas cahaya telah menghapus gambar-gambar mimpi. Ia menggeliat lemah seperti setubuh bunga layu dihembus sang bayu tadi waktu.

Lelaki itu  berkata dengan iba “Selagi aku mempunyai sisa kehidupan, mengapa baru sekarang aku menemukan seorang wanita cantik, namun tubuhnya layu bukan kepalang. Tetapi aku masih menemukan sebuah ketukan pada dadanya. dan tungkai udara pada gelambir paru-parunya. Maaf kelancangan aku ini wanita, membawamu tanpa izin”

***

Lelaki itu seperti menemukan matahari baru di tuas usianya. Menyadari wanita yang ia rawat lama, kini menyayangi dengan ketulusan yang tak pernah ada duganya. Seperti sesaat sempat senja di rangkul cakrawala, dan semua keindahannya diabadikan dalam sebuah kanvas jiwa. Tidak ada  ruangan yang sempat terbelah jingga yang retak.

“Aku harus bergegas pergi! seorang calon pengantin itu sedang pertaruhkan kebahagiaannya” Gadis itu tiba-tiba berkata tegas, seperti siang yang tiba-tiba nyalakan petir yang menggelegar.

“Pergi? Kau sudah lama di sini. Tinggalah bersamaku. Calon pengantin siapa?” dengan heran lelaki itu menjawab, menyerap semua petir gadis itu.

“Calon pengantin di sebuah Kastil, sebelah barat Hutan gundul, 56km dari danau Lorang, dan berdiri di atas luas tanah 2km.” Gadis itu seperti semakin merasa panas dalam teduhnya.

Jawab lelaki, “Pengantin itu telah lama mati..”

“Mati?”

“Ya. Mati. Karena ia berani mengambil sebungkus racun yang akan hadirkan kebahagiaan baru baginya. Direguk bersama minuman anggur termahal. Jasad pengantin itu tak di jadi dikembalikan ke tanah, tapi di pasung sampai membusuk dijadikan tempat para bakteri bersarang, binatang-binatang kecil bertempat dan menikmati sajian.”

Gadis itu bergetar mendengarkan kata-kata yang seolah memerintahkan badai datang, di pasang surut dua matanya.

namun lelaki itu meyakinkan padanya. Bahwa kehidupan adalah sebuah pilihan yang mengandung unsur paksaan, tetapi akan berujung sama. Dengan bagaimana ia melakoni tokoh dalam cerita yang sudah ditetapkan oleh sang penulis cerita kehidupannya.

***

“Pulanglah kau ke dalam rengkuhan lenganku, hanya akulah rumahmu. semuanya sudah berlalu. Tetapi ada yang baru yang sedang aku rasakan, aku selalu merasa cemas dengan perasaan ini. Ketika aku berada dekat denganmu. Ketika aku berusaha lebih dalam menatap matamu. Ketika aku ingin berbisik santun di hatimu. Ketika aku sadari ada sebuah cahaya yang telah kauberikan disisa hidupku ini. Padalah sudah lama gulita yang mengelilingiku. Dan hanya jalan-jalan sunyi yang selalu kucumbui heningnya. Penjaga malam waktu itu, memanggilku untuk membawamu pulang. Dalam dekapan jiwa. Dan aku sudah lama ingin mengatakan ini. Aku menemukan sesuatu yang sempat tak pernah ada dalam mimpiku, adalah aku bisa memiliki cinta. Aku jatuh hati padamu, wanita.. “

aku ingin memiliki cinta itu untukmu

namun cinta pengantin itu mati karena

keterlambatanku. aku tak bisa tepat.

bagaimana harus lebih terlambat

merasakan cinta ini?

29 Desember 2010

Post Serupa

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on google
Google+
Share on telegram
Telegram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *