MUSIKALITAS PUISI DARI PARIS

4 min read

Oleh Maman S. Mahayana

Noorca M. Massardi, Dari Paris untuk Cinta, Tasikmalaya: Pustaka Sastra MPI, 2024, 191 halaman.

Warna lokal sering disalahkaprahi sebagai kosa kata daerah, unsur kultur etnik atau perkara lokalitas yang nemplok sebagai bagian dari teks. Tidak! Bukan begitu! Jangan anggap segala hal yang muncul dari wilayah lokalitas itu, lalu seketika menjadi warna lokal. Sekadar tempelan, ia cuma asesoris yang nyantel di sana-sini. Jika kelewat banyak, lewah atau kelebihan, ia menjelma gincu yang tampak menor, bahkan norak! Oleh karena itu, tidak mudah memasukkan kultur etnik atau unsur asing, lesap dan menyatu dalam teks sastra kita yang berbahasa Indonesia. Bagaimanapun juga, dunia luar itu seyogianya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari unsur intrinsik karya bersangkutan.

Dalam konteks itu, pengarang—sastrawan, perlu bekerja keras melesapkan kultur etnik atau dunia asing itu ke dalam tubuh dan jaringan elemen yang membangun karya bersangkutan. Lalu, coba membungkusnya dengan kekuatan bahasa yang kental dan berkelindan di antara teks bahasa Indonesia. Terlebih lagi jika perkara itu memasuki dunia puisi! Aparatur yang tersedia dalam puisi tidak memungkinkan penyair berbuat sembarangan, asal comot, dan suka-suka menempelkannya semau gue. Sungguh, perkara itu bukanlah pekerjaan mudah! Diperlukan kemampuan dan penguasaan bahasa yang mumpuni. Bukankah batu uji penyair terpantul pada kualitasnya membangun puisi?

Linus Suryadi AG dalam Pengakuan Pariyem (1981) atau Darmanto Jatman dalam sejumlah antologi puisinya, sebutlah dua di antaranya, Karto Iyo Bilang Mboten (1981) atau Isteri (1997), enteng saja memasukkan unsur etnik Jawa dalam puisi-puisinya. Kita juga dapat menyebut penyair lain dari etnik lain yang bertebaran di Nusantara ini. Ketika mereka merasa ekspresi kreatifnya tidak dapat diejawantahkan dalam bahasa Indonesia, tidak dapat lain, mereka bebas saja memasukkan unsur etnik ke dalam karyanya. Sebut juga misalnya, I Gusti Bawa Samar Gantang (Bali), Taufik Ikram Jamil atau Dheni Kurnia (Melayu), Acep Zamzam Noor (Sunda), dan seterusnya. Kita memahami, nama-nama yang disebutkan tadi karena mereka dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkaran ibu budayanya sendiri.

Lalu, bagaimana jika yang dihadapi dan yang mengepungnya, masyarakat dan kultur asing?

Itulah yang terjadi pada Nasjah Djamin ketika ia mukim di Jepang (1961—1964). Kultur dan masyarakat Jepang menggoncangkannya. Satu dasawarsa kemudian, lahirlah antologi cerpen Sebuah Perkawinan (1974) yang bercerita tentang seorang pemuda Indonesia yang mengalami benturan budaya Jepang. Hal yang sama, tampaknya, terjadi juga pada Budi Darma yang sejak tahun 1970-an sampai pertengahan dasawarsa itu mukim di Amerika yang kemudian menghasilkan Orang-Orang Bloomington (1980). Jadi, dapat dipahami jika peristiwa terjadinya perjumpaan budaya tanah leluhur dengan budaya baru yang asing, mencekam, dan mencengangkan itu menciptakan benturan budaya (shock culture). Begitu dahsyatnya peristiwa itu, sehingga jejaknya tidak dapat dihapus begitu saja. Dari sanalah mereka kemudian mengumpulkan kembali serpihan peristiwa yang pernah dialaminya menjadi karya sastra dengan latar sosio-budaya bangsa asing.

Tampaknya hal itu pula yang terjadi pada diri Noorca M. Massardi. Dalam buku kumpulan puisinya yang berjudul Dari Paris untuk Cinta, penyair seperti dicengkeram begitu kuat oleh dinamika kehidupan barunya di kota itu. Buku yang memuat 70 puisi menandai usianya yang ke-70 itu memang keseluruhannya mengangkat dunia Paris. Goncangan itu memaksanya tidak dapat melepaskan diri dari latar, ekspresi, sosio-budaya, sejarah, peristiwa, dan segala hal yang terkait dengan kehidupan masa lalunya di sana. Dari sudut ini, boleh jadi, Dari Paris untuk Cinta tampil sebagai satu-satunya antologi puisi Indonesia yang khusus mengangkat pengalaman batin penyair Indonesia yang dikepung dunia Prancis: bagaimana ia tiba-tiba mengalami shock culture, terguncang, tidak berdaya, gamang, lalu perlahan-lahan mulai beradaptasi. Meski sekali-sekala menabrak-nabrak, tetapi tokh pada akhirnya ia berhasil melakukan internalisasi. Fase berikutnya, Paris—Prancis menjadi bagian yang tak terpisahkan dari denyut kehidupannya.

Kini, dalam usianya yang ke-70 tahun, segala peristiwa yang terjadi nun jauh di sana itu, tibatiba hendak dihidupkannya lagi sebagai kenangan, sebagai memori masa lalu. Ada jarak waktu terbentang panjang, dan dalam bentangan itu, hadir bertumpang-tindih, saling menyalip, peristiwa lain, gejolak kultur lain, dan dunia yang juga lain, mengisi mozaik besar kehidupan penyair. Ia menjadi memoar, lalu segala hal yang terjadi dulu—yang menyenangkan atau yang pahit sekalipun—berubah mengikuti ruang dan waktu. Dalam perspektif kini, semuanya menjadi kenangan sebagai pengalaman batin yang terasa sesuatu banget. Bagaimanakah serpihan kenangan yang tercecer di sana-sini, yang masih mengendap atau menguap itu, diwujudkan jadi puisi?

Seno Gumira Ajidarma  (SGA) yang memberi pengantar buku itu menyimpulkannya dengan sangat baik: “Dalam evolusi emosi, semakin berjarak ruang dan waktunya, semakin termatangkan gagasan yang terendap di bawah ambang kenangan, yang dari saat ke saat terpicu keluar, dan akhirnya terkumpul sebagai puisi-puisi Dari Paris dengan Cinta ini.” Ya, SGA berhasil mengantarkan kita memasuki gambaran umum tentang puisi-puisi dalam buku itu. Setidak-tidaknya, SGA coba mengungkap posisi penyair Noorca M. Massardi kini dengan masa lalunya di Paris. Gagasan penyair dalam puisi-puisi itu jadinya seperti melayang-layang membayangkan masa lalu yang coba dihidupkannya kembali, meski dalam bentangan jarak waktu dan perspektif yang terus bergerak. Peristiwa dulu yang telah jadi kenangan itu dihadirkan kembali dalam ingatan masa kini. Dengan begitu, puisi-puisi dalam buku itu laksana merepresentasikan dunia Paris dulu yang mencekam dan mengalir baik-baik saja; yang pahit dan penuh keindahan; atau yang apa pun.

Meski begitu, puisi tetaplah puisi yang kemas, padat, dan lugas. Bahwa di sana ada lirisme, tetap saja larik-larik pendek dalam puisi menuntut pembaca mengerahkan segala daya-upaya untuk memahami teks puisi yang bersangkutan. Jika ia terpancing memasuki lebih jauh ke tubuh puisi, ia mesti berjuang keras mencari cantelannya pada entitas yang berada di luar bahasa. Sementara itu, peristiwanya sendiri terjadi sekian tahun yang lalu. Tambahan pula, pada setiap puisi yang terhimpun buku ini, tersaji begitu banyak warna-warni Prancis. Jadilah Paris tidak sekadar mewartakan Menara Eiffel, Sungai Rhein, Gereja Notre Dame atau deretan kafe di tengah kota, tetapi juga dinamika sosiobudaya dengan perkembangan pemikirannya yang panjang; gerakan revolusinya, romantisismenya,  dan musikalitas bahasanya yang puitis. Di situlah kekuatan estetikanya.

Ya. Meski diakui—setidak-tidaknya bagi saya, adanya kata, frasa atau kalimat dalam bahasa Prancis itu, kerap menciptakan ingar. Kita terganggu memahami makna puisi itu secara bulat penuh.

Untunglah, kata-kata, frasa atau kalimat dalam bahasa Prancis itu masih dapat kita duga maknanya: nama tempat, terima kasih, say hello, dan seterusnya yang memungkinkan pembacaan kita atas puisipuisi itu tetap terjaga dalam keadaan baik-baik saja. Tambahan pula, tidak semua puisi harus dapat dipahami. Cukuplah menikmati musikalitas bunyinya atau kemerduannya ketika suara bahasa Indonesia yang cenderung didominasi suara vokal, tiba-tiba ditimpali sengau kosa kata Prancis. Yang terjadi kemudian adalah: eksotisme, khas, dan bunyi rima puisi itu terasa begitu merdu menyusup gendang telinga.

Begitulah, bagi mereka yang memahami bahasa Prancis dan dapat mengucapkannya dengan baik, keseluruhan puisi dalam buku Dari Paris dengan Cinta ini, boleh jadi menjelma santapan lezat yang rasanya begitu menggigit. Lalu, bagaimana dengan mereka yang tidak paham bahasa Prancis dan terbata-bata mengucapkannya? Tentu saja tidak perlu memaksakan diri. Cukuplah mendengarkan dengan seksama ketika seseorang membacakannya dengan baik. Itulah yang saya rasakan ketika Noorca M. Massardi—penyairnya sendiri, membacakan beberapa puisinya. Ada sihir dalam puisinya; ada musikalitas yang meski kita tak paham maknanya, kita tetap terpukau oleh daya magis bunyi sengaunya. Itulah yang disebut sentuh estetik. Bukankah kesedapan dan sentuh estetik itu juga yang terjadi ketika Sutardji Calzoum Bachri membacakan puisi-puisinya di atas pentas, meski kita tidak memahami makna puisi-puisinya?

Noorca M. Massardi dalam buku Dari Paris dengan Cinta ini tidak hanya menegaskan, bahwa dalam usianya yang ke-70, cintanya makin kukuh selamanya, tetapi juga membuktikan stamina kualitas kepenyairannya yang mumpuni: keren abis dan jauh dari sebutan kaleng-kaleng! Percayalah ….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *