Pembiasaan Bahasa di Dauroh Lughoh

SANTRI Pesantren Darussalam harus bersabar diri. Libur yang dilewati lebih cepat empat hari dari santri atau siswa lain. Mereka harus datang ke sekolah di saat temannya yang lain masih sibuk liburan. Selasa (5/1) kemarin, santri sudah kembali ke Pesantren untuk mengikuti agenda yang sudah dipersiapkan.

Untuk mengimbangi tantangan zaman yang semakin kuat, persaingan yang semakin ketat, globalisasi yang terus bergulir, maka santri Darussalam harus bisa melaluinya. Hal inilah yang menjadi penekanan dan melatarbelakangi even yang harus dibarengi kesabaran ini.

Sebagai langkah mempersiapkan santrinya menghadapi perkembangan zaman, Pesantren Darussalam mengadakan Daurah Lughoh. Kegiatan yang menitikberatkan pada bahasa. Bukan hanya bahasa sebagai aturan, tetapi bahasa sebagai alat komunikasi. Dengan bahasa sebagai komunikasi, ke depan, dapat dijadikan sebagai sarana komunikasi antar bangsa. Kyai Ahmad Fadlil (alm) (Pendiri Pesantren Cidewa/Darussalam sekarang) mengatakan “Bukalah satu pintu olehmu, maka akan terbuka pintu-pintu yang lain dalam hidupmu”.

Dauroh Lughoh atau Dauroh Bahasa ini digelar mulai rabu (5/1) sampai jum’at (7/1). Dan dibuka secara resmi oleh Koordinator Dewan Direktur Pesantren Darussalam, KH. Drs. Wahyudin, M.Pd. diikuti oleh seluruh santri Pesantren Darussalam mulai Madrasah Tsanawiyah, MAN dan SMA Plus.

Setiap hari tidak lepas dari empat materi pokok, yakni ibarah yaumiyah, tahbiq, tasyji’ dan tasliyah. Materi ibarah yaumiyah di dalamnya membahas tentang ungkapan-ungkapan keseharian, nantinya diharapkan dapat mengungkapnya dalam kehidupan santri, baik sedang di asrama, di sekolah, dan di tempat lain di sekitar kampus bahkan lebih jauhnya dapat dipraktekan ketika kembali ke rumah masing-masing dan menjadi kebanggaan orang tua.

Tathbiq berhubungan dengan kaidah-kaidah dalam bahasa. Mulai dari jumlah ismiyah dan jumlah fi’liyah. Tujuannya untuk memahami membuat kalimat-kalimat sederhana. Kemudian dilanjutkan dengan tasyji’. Tasyji’ ini disampaikan oleh Ustadz senior. Tasyji’ ini menyampaikan motivasi, kiat-kiat dan prospek kemampuan bahasa. Tujuannya untuk meningkatkan gairah peserta untuk belajar bahasa.

Pada bagian ke empat, peserta berada pada zona tasliyah. Tasliyah ini dimulai ba’da maghrib setiap harinya. Pembiasaan bahasa yang sudah diasah siang hari, ditampilkan dalam kreasi seni berbahasa Arab malam harinya. Kreasi tersebut dapat berbentuk pidato, puisi maupun bernyanyi, tergantung kemampuan masing-masing.

Fahriyani (13) sebagai peserta ia mengatakan bahwa daurah bahasa bisa lebih mengenal bahasa Arab. “Lebih gampang menghafal dan bisa menghafal lebih cepat, tidak biasa, soalnya suasananya berbeda”, jelasnya.

Peserta lain, Iklima (16) mengungkapkan daurah ini dapat mengetahui kata-kata dalam bahasa Arab. Hal berbeda dikatakan oleh Rosita, Musyrif/Tutor yang merupakan siswa yang sudah dianggap kompeten, “Harus sabar hadapi anak-anak”, tukasnya.

Tatang (21), Ketua Panitia mengatakan, even ini merupakan sarana pembiasaan santri dalam berbahasa asing. “Sebagai penerapan, diadakan tathbiq setiap malam selama kegiatan, di dalamnya ditampilkan berbagai kreativitas santri mulai dari hiwar, khithabah, drama, nyanyi, qiroaturrosyidah dan sebagainya”, jelasnya.

Dengan even diharapkan dapat terus kontinyu, meskipun kesibukan yang selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Post Serupa

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on google
Google+
Share on telegram
Telegram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *