Sejarah ditinggal, Indonesia tertinggal

Banyak orang berkata, bahwa Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Namun, bagaimana dengan Indonesia? Apakah Indonesia termasuk bangsa yang menghargai sejarahnya?

Jika ditinjau ke daerah-daerah bekas peninggalan para pahlawan, kerajaan-kerajaan, dan budaya zaman dahulu, bangunan-bangunannya banyak yang tidak terawat lagi bahkan sampai berlumut dan berjamur. Memang, masih tidak sedikit peninggalan sejarah yang di abadikan berupa monumen, museum, candi, dan beberapa lainnya. Tapi kini, semua itu hanya aksesoris saja. Mayoritas kaula muda saat ini lebih menyukai rekreasi ke taman bermain yang dipenuhi teknologi canggih ketimbang mempelajari dan mempelajari sejarah yang telah membuat Indonesia dapat mengusir penjajah.

Dengan mempelajari sejarah, akan membuat kita memahami ilmu sejarah dalam proses perubahan masyarakat. Selain itu kita juga akan lebih kritis, karena pelajaran sejarah tidak hanya berisi hafalan belaka yang mendengar namanya saja sudah malas. Justru seseorang yang telah memahami sejarah jadi semakin arif menghadapi masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Menurut pengamatan saya, permasalahannya saat ini adalah bangsa Indonesia sangat

krisis perhatian terhadap sejarahnya. Kalangan atasnya saja sudah jarang sekali yang menghargai sejarah, apalagi rakyat yang kebanyakan hanya manut saja pada atasan.

Para veteran kini luntang-lantung hidupnya. Mantan petinju yang telah mengharumkan nama bangsa kini hidup susah dan miskin. Jadi, dimana penghargaan Indonesia terhadap sejarah yang ditorehkan pahlawannya?! Pantas saja orang hebat Indonesia lebih senang hidup di luar negeri bahkan Negara penjajah, karena merasa lebih dihargai dan mendapat kesejahteraan ketimbang di Negara sendiri. Dan kini Indonesia tak tentu statusnya. Negara berkembangkah atau Negara miskin? Maksudnya miskin moral, miskin sumber daya yang berkualitas, miskin lapangan pekerjaan, dan miskin-miskin lainnya yang membuat Indonesia semakin terpuruk.

Lantas, apakah dan siapakah yang mencetak bangsa ini menjadi bangsa yang minim menghargai orang lain? Contoh lain, pada suatu pertemuan seorang pemateri sedang mengulas ceramahnya, sementara para audiens banyak yang ngerumpi, tidur, atau melamun, bukannya fokus memperhatikan pemateri di depan. Yang ada di kepala mereka umumnya adalah ‘menghadiri seminar untuk mendapat sertifikat’ ya! Itulah, bukannya bertujuan mendapat ilmu. Ketika guru mengajar di kelas pun murid-murid asyik lempar-lemparan kertas, makan di kelas, tidur, ngobrol, dan perbuatan lain yang dapat menyakiti hati guru. Banyak sekali pelajar yang datang ke sekolah tetapi berharap guru tidak mengajar. Lalu apa tujuannya datang ke sekolah? Hanya untuk mencari nilai-nilai yang di peroleh dengan ‘kompromi’? beginikah sistim pendidikan di Indonesia? Mendidik generasi mudanya tak tahu etika dan menjadi plagiator? Siapa yang harus di salahkan atas penyakit moral yang mewabah hampir ke seluruh generasi muda? Apakah orang tua yang terlalu memanjakan anak sehingga si anak kurang bisa berpikir kreativ dan tidak bertanggung jawab karena terbiasa di ‘suapi’ ?

Hal ini justru erat sekali dengan makna sejarah. Karena kurang mempelajari sejarah, sehingga masyarakat tidak mengetahui bagaimana cara hidup dan pemikiran orang-orang terdahulu yang cendekia, bermental baja dan menjunjung tinggi nilai-nilai beragama yang justru bisa dijadikan acuan untuk kehidupan sekarang dan masa depan.

Mungkin, inilah salah satu dampak buruk era global. Teknologi sedemikian hebohnya ditawarkan dan kita pun dengan semangat menyerapnya tanpa menyaring betul-betul dampak negative yang di timbulkan. Saking terlenanya dalam kolam gadget, sampai-sampai melupakan budaya yang begitu elok dan merupakan karakteristik bangsa.

Semakin jelas bahwa saat ini penjajah melakukan cara halus namun tak kita sadari unutuk membodohi generasi muda dan menghancurkan bangsa. Yaitu, melalui teknologi canggih dan budaya liberal yang memabukkan. Dapat disimpulkan bahwa, meninggalkan sejarah bangsa dan ketaklidan massa terhadap era global membuat Indonesia makin berada dalam gelap. Dan orang-orang yang berkualitas pun semakin enggan berjuang untuk Indonesia karena dengan mudah melupakan jasa pahlawannya.

Dengan di tulisnya wacana ini, saya berharap kita semua menyadari pentingnya sejarah serta mau mempelajari dan memahaminya untuk menjadi cerminan sebagai acuan hidup yang lebih baik.

Indonesia Negara subur kawan, mari kita makmurkan Negara ini dengan mengaplikasikan nilai-nilai sejarah dalam kehidupan sehari-hari.

Karena, BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI SEJARAHNYA.

Sayidah Iklima
JSC MAN Darussalam

Post Serupa

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on google
Google+
Share on telegram
Telegram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *