Terompet Perang Tahun Baru

“TIGA… dua…. satu ……” berbunyilah terompet yang dibarengi dengan dentuman kembang api dengan sinar yang beraneka macam yang menyedot perhatian karena keindahannya. Tanda sebuah pergantian. Tahun baru telah datang, berjuta kenangan telah dilewati.

Berbagai cara dilakukan orang pada malam pergantian tahun baru itu. Berjalan bergerombol menuju pusat kota untuk menyaksikan detik-detik pergantian tahun. Tidak hanya itu, ada yang pergi ke pesisir untuk menyambutnya. Ke puncak gunung pun dilalui untuk bersuka cita menyambutnya. Bahkan, tinggal di dalam rumah pun dapat menyaksikannya di televisi.

Bersuka ria menyambut datangnya tahun baru bukanlah suatu hal yang dapat dipermasalahkan, selama itu tidak berdampak buruk terhadap kesehatan dan yang dianggap lainnya. Kadang, saking asiknya, perhelatan ini dapat melupakan beban yang menghinggapi setiap punggung yang berakal serta diberi nyawa. Setelah usai hura-hura, istirahat pun pulas sampai esok hari.

Mentari hari pertama tahun baru menyelinap memasuki celah jendela menerobos kulit mata membangunkan dan menyadarkan empunya. Hidup tidak hanya sampai pergantian tahun. Kesadaran itu muncul. Ternyata, utang yang belum terbayarkan masih banyak. Pekerjaan rumah yang mesti dikerjakan belum selesai.

Ketika ada pergantian tahun, jumlah umur semakin bertambah. Namun, di balik itu, jatah umur yang tersisa semakin berkurang. Waktu menuju kematian semakin mendekat. Ajal pun akan tiba.

Waktu. Inilah karunia yang sering terlupa karena terlalu betah meninggali alam fana ini. Orang Arab bilang bila waktu itu seperti kilatan pedang. Siapa yang tak sigap niscaya akan terpenggal olehnya. Mereka yang mati naas adalah mereka yang alpa menginsyafi esensi waktu yang sebenarnya.

Ketika wajah ini berada pada zona madesu (masa depan suram: cemberut dan sebagainya), hidup pun tak nyaman lagi. Selebrasi mungkin dapat dijadikan sebagai sarana untuk menyeimbangkannya. Akan tetapi, dengan ditiupnya terompet sebagai pertanda sudah bergantinya tahun, maka kesiagaan untuk menyongsong tahun yang baru perlu dipersiapkan. Sasaran, target, tujuan dan arah perjuangan yang jelas akan membuat kita memiliki vitalitas dalam hidup ini. Apa yang mau kita lakukan nanti mesti pula dirumuskan dari sekarang.

Dalam teori manajemen dijelaskan tentang pentingnya perencanaan. Ketika terdapat kegagalan dalam merencanakan, maka itu sami sareng merencanakan kegagalan. Hal ini berlaku bagi siapa pun. Mulai dari yang berada di bawah, sampai yang ada di pimpinan teras. Apalagi kita sebagai mahasiswa, tiap kita tentu punya keinginan dan tujuan paling tinggi. Sesuatu yang paling dikatakan utopis untuk diwujudkan tapi ghirah kita sangat kuat untuk meraihnya. Meraihnya dengan menaburkan gagasan perencanaan, merupakan langkah awal yang positif daripada banyak bercuap dan tak berbuat apa apa.

Terompet dibunyikan bukan berarti perjuangan berakhir. Tetapi lembaran baru yang tentu sangat menguras pemikiran perlu dipertimbangkan. Terompet tahun baru pertanda perjuangan di medan perang yang berbeda.***

Post Serupa

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on google
Google+
Share on telegram
Telegram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *