DI PUNCAK GUNUNG NUN

1 min read

PUISI NARATIF

DALAM ETNOPUITIKA ALA NIZAR

Oleh Arthur S. Nalan

 

Apa itu puisi? Jawaban yang mudah adalah bahwa puisi bagian dari sastra, selain prosa dan drama. Puisi bukan hanya merangkai kata-kata, menyambungkan kalimat-kalimat, curahan perasaan semata. Puisi menanamkan nilai-nilai kearifan lokal yang berasal dari hasil “interpretasi” penulisnya. Apakah nantinya dapat disebut penyair atau bukan, sangat tergantung dari karyanya.

Sebelum tiba pada catatan saya tentang puisi Di Puncak Gunung Nun Diari dan Tembang atawa Pertemuan Ninsy dan Amus atanapi Takseperti Planet Lainnya Bumilah Satu-satunya Planet Layak Huni buah pena Nizar Machyuzaar, saya ingin berbagi tentang sejumlah “kecenderungan” atau predisposisi-predisposisi pilihan setiap penyair. Salah satunya tentang puisi naratif (narative poem) yang berangkat dari “cara bertutur” penyairnya sebagai narator (juru kisah). Saya perlu “menyandingkan” kumpulan puisi Nizar ini dengan puisi narasi panjang karya David Jones yang analisisnya ditulis oleh Merve Altin (2020), di dalam abstraknya tercatat sebagai berikut:

Studi ini menyajikan analisis stilistika panjang David Jones puisi naratif Parenthesis (Dalam Kurung) untuk mengetahui dan berdiskusi tentang fitur gaya menonjol yang berkontribusi pada sifat puisi hibrida. Dalam Parenthesis mewujudkan gaya fitur yang terkait  dengan lirik, narasi dan drama. Sebuah gaya pembacaan puisi itu mengusulkan bahwa hibriditas generik puisi tersebut didukung oleh variasi gaya, grafologis penyimpangan dan penyimpangan internal lainnya yang mendahului varietas generik dan gaya dalam teks. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi bahwa analisis gaya puisi itu penting mendefinisikan puisi naratif panjang sebagai bentuk hibrida.

Apa yang dicatatkan Merve Altin tentang puisi narasi panjang karya David Jones memberi latar bagi saya untuk mencoba menuliskan catatan kecil untuk Di Puncak Gunung Nun Diari dan Tembang atawa Pertemuan Ninsy dan Amus atanapi Takseperti Planet Lainnya Bumilah Satu-satunya Planet Layak Huni. Sekilas dapat kita baca bahwa Nizar berkeinginan kuat untuk berbagi tentang manusia (Ninsy dan Amus) sebagai tuturan cinta dan kehidupan dalam jalinan puisi naratif yang menarik (jarang ditemukan kumpulan puisi seperti ini). Di mana Nizar menjadi seorang narator (juru kisah) yang sebenarnya dewasa ini muncul keilmuan baru yang disebut Naratologi (berbicara tentang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan dinamika penulisan yang bertutur). Sebagaimana pernah dilakukan WS Rendra dalam “balada-balada”-nya.

Namun, bagi saya yang menonjol dalam “irisan-irisan pesona” puisi-puisi Nizar adalah Etnopuitikanya. Apa itu etnopuitika? Sebagaimana yang dicatatkan Merve Altin tentang hibriditas (sifat campuran tetapi terpadu) dari kata-kata yang dipilih Nizar dalam puitikanya, etnisitasnya menjadi tampak (misalnya kata atanapi  (bahasa Sunda) yang artinya atau (bahasa Indonesia). Apakah ini disadari, tentu disadari. Artinya, hal ini dilakukan bukan untuk mencari-cari “sensasi” biar kelihatan aneh dan beda. Karya seni memang perlu “pangling” (konsep yang dipinjam dari penyair dan guru yang saya tekuni dalam perihal murwakanti). Ketika pembaca tahu bahwa mereka sudah kenal tapi tidak sama alias pangling. Maka Etnopuitika ala Nizar ini menjadi “penting” karena “irisan-irisan” bahasa hibridanya, termasuk “cara menuliskannya” diatur dan disadari untuk tampak ada “irama dan dinamika”.

Pendek kata bahwa puisi naratif dalam etnopuitika ala Nizar perlu dibaca sebagai bentuk penghargaan yang diberikan kepada penyair kreatif, mudah-mudahan karya ini menjadi “moment kreatif” baginya. Saya sebagai pecinta puisi dan dramawan sangat berharap Nizar tidak berhenti berkarya.

 

Bandung, 20 Desember 2022

Arthur S Nalan

*******

Judul buku: DI PUNCAK GUNUNG NUN

Penulis: Nizar Machyuzaar

Penerbit: Yayasan Mata Pelajar Indonesia

ISBN: 978-623-88670-1-1

Tahun terbit: Agustus, 2023

Cetakan: I, 300 eksemplar

Halaman: 72

Harga: Rp50.000,00

Narapesan: 082217803040

Kuliner Beu! Mencari Jejak Rasa

Asep Budi Setiawan BUKU yang penyajiannya sangat unik karena Buku “Kuliner Beu!” ini bukan sebatas membahas tentang makanan. Lebih dari itu, buku ini juga...
Nizar Kobani
1 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *