Bentuk Bersaing Kurikulum Prototipe

1 min read

Minggu IV Januari 2022

Bentuk Bersaing Kurikulum Prototipe

Editorial, IV Januari 2022

Oleh Nizar Machyuzaar

 

LALU LINTAS informasi di aplikasi berbagi pesan menghampiri sesiapa yang asik-masyuk mengoperasikannya. Jari-jemari menari di atas layar elektronik untuk memilih dan memilah pesan yang sesuai dengan kebutuhan. Tak jarang, kita tertarik dengan informasi yang sebetulnya bukan tujuan awal mengoperasikan aplikasi tersebut.

Apalagi, telepon genggam Anda memiliki puluhan grup dalam aplikasi berbagi pesan. Dapat dipastikan bahwa kita memerlukan cara cepat mencari informasi dalam lalu lintas pesan dari antaranggota di grup berbagi pesan tersebut.

Nah, sekali waktu, telunjuk saya yang mengusap layar elektronik telepon genggam ke arah atas terantuk pada satu pesan. Komposisi pesan tersebut memuat 1) gambar yang berisi tautan video dengan informasi “9 Paradigma Baru dalam Kurikulum Prototype” dan 2) teks berisi ajakan untuk melihat isi video dan mengikuti diklat kurikulum tersebut.

Entah mengapa, mungkin juga karena tertarik dengan gambar andalan Pak Menteri Kemdikbudristek yang termuat dalam tautan ke aplikasi berbagi video itu, telunjuk saya mengekliknya. Video berdurasi hampir delapan menit ini menarasikan tajuk video tersebut.

Menariknya, sebagai guru pengampu pelajaran Bahasa Indonesia, saya merasa terganggu dengan skrip video yang menyertainya. Sebabnya, pengujar skrip melafalkan kata kurikulum sesuai dengan tata bunyi bahasa Indonesia dan kata prototype sesuai dengan tata bunyi bahasa Inggris.

Ingatan saya menjadi segar kembali pada sebuah diskusi sekira tahun 2000-an. Seorang narasumber diskusi melafalkan kata universitas menjadi yuniversitas. Huruf /u/ dalam bahasa Indonesia dilafalkannya dengan bunyi /yu/ mengikuti tata bunyi bahasa aslinya, yakni bahasa Inggris. Sementara itu, suku kata /tas/ yang berasal dari /ty/ dalam bahasa Inggris telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia.

Dalam sosiolinguistik, cabang ilmu bahasa yang mempelajari hubungan antara perilaku bahasa dan perilaku sosial, hal ini disebut gejala campur kode. Hal yang sama terjadi pada pelafalan kelompok kata kurikulum (serapan adaptasi) prototype (bentuk asli bahasa Inggris). Padalah, saya mengecek di dalam pesan ajakan, pembuat pesan telah menuliskan kelompok kata itu dengan benar, yakni kurikulum prototipe.

Iseng-iseng, saya penasaran untuk mengecek bagaimana Pak Menteri sebagai penggagas melafalkannya. Saya berselancar di aplikasi berbagi video. Saya menemukan sebuah cuplikan video Pak Menteri berbicara dengan Anggota DPR RI. Saya menemukan bahwa Pak Menteri mengucapkannya dengan kaidah tata bunyi bahasa Indonesia, yakni kurikulum prototipe.

Saya semakin penasaran. Saya berselancar di antara berbagai konten video yang bertema kurikulum prototipe. Hasilnya, saya menemukan bahwa konten-konten video tersebut kebanyakan ditulis dengan judul Kurikulum Prototype sehingga pengujar skrip video pun melafalkannya sesuai dengan tata bunyi bahasa Inggris.

Kedua kelompok kata ini dapat dikatakan menjadi bentuk bersaing yang sekarang sedang hangat menjadi pembicaraan, terutama di kalangan dunia pendidikan. Namun, cobalah Anda cek dengan menggunakan mesin pencari informasi Google. Ketiklah satu kata kurikulum. Anda akan menemukan kelompok kata kurikulum prototype sebagai saran kedua.

Tampaknya, kelompok kata kurikulum prototipe kalah bersaing dengan kelompok kata kurikulum prototype. Hal ini dapat dianggap sebagai selera berbahasa masyarakat atau setidaknya warganet, terkhusus para pembuat konten. Tentunya, kita mesti menyosialisasikan diksi kurikulum prototipe agar sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

Hal ini menjadi teristimewa karena marwah dan cita rasa berbahasa Indonesia mesti dimulai dari dunia pendidikan. Apalagi, fungsi bahasa Indonesia tidak hanya menjadi alat penyampai pembelajaran. Lebih dari itu, bahasa Indonesia mengemban fungsi sosiologis sebagai pembangun karakter kebangsaan yang berjiwa pancasila.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.